Uncategorized

Yandra, bayi yang lahir dari ibu penderita kanker payudara

: Muhammad Alfatih Yandra

Buat saya bayi ini adalah bukti keajaiban Gusti Allah. Dia lahir dari ibu bernama Sulastri (35) yang menderita kanker payudara stadium empat. Mbak Tri panggilannya sudah melakukan kemo empat kali dan pada yang ke lima dia jatuh dan lumpuh. Kemungkinan kankernya sudah menyebar ke bagian tulang belakang.

Dalam kondisi lumpuh, hampir selama empat bulan, mbak Tri ternyata melahirkan seorang bayi laki laki 1 pada 2 Januari 2017 lalu.Ya bayi Muhammad Alfatih Yandra. Mbak Tri tidak menyadari jika dia hamil. Berhenti menstruasi dan mual beberapa bulan terakhir ia pikir efek dari kemo.

Muhammad Alfatih Yandra lahir di rumag sakit dengan berat hanya 1,7 kilogram. Tetangganya bercerita kondisi ari arinya kering dan kecil. Ternyata selama pengobatan Kemo, mbak tri dalam kondisi hamil. Saya bisa bayangkan “panas” nya saat di kemo. Saat hamil saja, konsumsi obat harus dalam pengawasan.

Mbak Tri saat ini kondisinya sangat lemah. Saat bertemu pertama kali 20 Januari 2017, rambut mbak Tri masih ada walau hanya 3 senti tapi 3 hari kemudian sudah rontok total karena efek dari kemotrapi. Dia tidak mampu melakukan aktivitas apa apa hanya duduk telungkup karena dia lebih nyaman saat bernafas.

Suaminya,Atwi yang merawat Mbak tri sehari hari dan memilih tidak melaut karena tidak tega meninggalkan istrinya sendirian karena kedua anak lainnya masih sekolah. Bayi Alfatih dirawat oleh tetangga baiknya.

Mbak Tri adalah pekerja keras. Dia potret perempuan di kampung nelayan Pulau Santen Banyuwangi. Saya percaya kalau Mbak Tri bisa melewati masa masa kritisnya dan kelak bisa mengasuh Bayi Alfatih yang tidak pernah dia gendong.

Mbak Tri sekarang dalam pengawasan dokter puskesmas setempat yang tiap hari berkunjung ke rumah mbak Tri. Saat sakit, biaya kemo dan lain lainnya ditanggung negara karena Mbak Tri memiliki Kartu Indonesia Sehat.

Beberapa kali saya berkunjung ke rumahnya. Menyampaikan beberpa bantuan dari orang-orang baik yang saya kenal. Membelikannya pampers, dan menyelesaikan tanggungan sekolah untuk kedua anak-anaknya serta menitipkan uang skau untuk mereka Satu SD, satu SMP.

Sayangnya, Mbak Tri tidak bisa lama mengasuh anaknya. Beliau meninggal sekitar Maret 2017. Yandra diasuh oleh tetangganya.

Sad ending semacam inilah yang membuat saya menghela nafas berat. Padahal saya berharap Mbak Tri sehat lalu bisa amengantarkan Yandra berangkat sekolah.

Tapi Gusti Allah telah memberikan yang terbaik untuk Mbak Tri dan keluarganya

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *