Uncategorized

WELCOME TO MY PARADISE

 #

Welcome to my paradise

Come and take a look out through my eyes,

and you decide,
Why people act this way
People theiving, fighting, telling lies,
they criticize,
and hate each other

Margarita
di tangan saya. Warna hijaunya membuat mata saya terbuka. Padahal mata
saya belum juga terpejam. Saya merayakan kekalahan dengan cara saya
sendiri. Tequila dengan dasar koktail, saya suka dengan trople sc dengan
rasa asam jeruk nipis dengan rasa asin setiap bibir saya menyentuh
ujung gelas. Luar biasa … badan saya bergoyang mengikuti dentaman music.
Sama seperti seperti gerakan saat saya berdzikir dulu. Sama-sama merasa
bebas. Dan akhirnya saya membalas dendam pada Tuhan dengan cara saya
sendiri.

“Tuangkan lagi untuk saya ….”

Saya
meneguknya. Otak saya semakin liar. “Turun mbak?”. Saya mengibaskan
tangan. Saya menolaknya . Saya hanya ingin menikmati musik. Dan
membetulkan letak rambut saya yang sudah saya potong pendek. Mata saya
terpejam  dan kepala saya terkulai di atas meja. Saya benci dengan
kebohongan yang selama ini saya simpan. Saya ingin menjadi diri saya
sendiri. Saat pengorbanan yang telah saya lakukan ternyata semuanya
sia-sia….

Natures colours all have changes somehow,

the seas are brown,
the skies are thick and grey
All of these things make me fell so down,
and think about,
finding- my own place

Saya
menyapukan pandangan saya di ruangan ini. Tidak jelas. Tapi yang pasti
saya berpikir disini adalah tempat orang-orang jujur. Iya … jujur
berperilaku seperti binatang. Berpeluk, berpagut … mengangkat botol
tanpa ada tedeng aling-aling. Sedang di luar sana. Membawa nama-nama
Tuhan tapi kelakuannya sama seperti mereka yang ada di dalam ruangan
ini. Saya melirik ke arah jam 3. Perempuan masih muda berbaju putih
ketat meliukkan badannya mengikuti music. Ada rangkaian bunga di atas
kepalanya.  Tertawanya bebas dengan gigi-gigi kecil dan rapi.
Berkali-kali berpindah pelukan, bahkan sesekali menerima colekan tepat
di dagu dan hidungnya. Dia terbawa bebas. Di sini saya menemukan
ketidakmunafikan. Setiap orang mempunyai sisi hitam bahkan sangat hitam,
tapi tidak harus menutupinya dengan dalil-dalil agama yang membuat dia
nampak sebagai makhluk suci.Sebagai panutan? Saya tersenyum sinis
mengingat kamu.  Saya meneguk kembali isi gelas saya.


Keringat
saya semakin membanjir , bahkan membasahi ujung krah kemeja tipis saya.
Kepala saya memberat, tapi tangan saya masih asyik membalas pesan-pesan
sahabat saya. Apa yang mereka pikirkan jika memergoki saya seperti ini?
Mungkin sederhana. Mereka akan menambah banyak botol di hadapan saya
dan meneruskan pesta bersama-sama. Saya menegakkan kepala dan
menyangganya dengan kedua tangan saya. Mata saya terpejam.

“Ini
untuk kamu ….”, katamu senja itu.. Saya membukanya. “Kitab suci….” Saya
berbisik perlahan. Apakah dia pikir saya sangat bejat hingga harus
membaca kita suci setiap hari. “Agar kamu semakin mengenal Tuhan mu”.
Saya tersipu ……Saya seperti perempuan kebanyakan. Akan berpikir indah
jika seorang laki-laki memberikan kitab suci. Sebuah komitmen. Sebuah
pernikahan. Sebuah ikatan suci. Sebuah perhatian yang artinya adalah ia
ingin saya menjaid perempuan baik-baik yang akan mendampingi dia. Pelan
dan pasti saya memperbaiki diri. Satu persatu baju-baju saya mulai
panjang. Ucapan-ucapan saya bernada religi. Menekan keegoisan saya.
Hinga akhirnya saya memutuskan dalam sebuah titik mengabdi. Iya betul …
sebuah titik pengabdian kepada laki-laki yang telah memberikan saya
kitab suci itu. Menyediakan semua nya untuk dia. Bahkan kalau seandainya
dia menyuruh saya untuk membasuh kakinya maka akan saya lakukan.
Walaupun saya harus melangkah tersuruk-suruk untuk membahagiakan lelaki
itu. Menjadikan dia lelaki yang hebat. Lelaki yang luar biasa. Selalu
berada di samping dia. Mendampingi dia entah saya berada di depan dia
atau pun di belakang dia sekali waktu. Iya …  walau saya adalah yang
kedua.

“Kamu mencintai perempuan itu”
“Dia hanya saya anggap adik”
“Saya bisa membaca mata kamu”
“Kamu hanya mengada-ngada. Itu hanya perasaan kamu saja”
“Kamu menjemput dia”
“Aku hanya menolong dia. Kamu saja yang berpikir negative. Aku capek kamu curigai seperti ini”
“Kamu lebih memilih makan malam dengan dia dari pada menemani saya”
“Jangan berpikir macam-macam”
“Kamu sering menghubungi dia lewat ponsel kamu”
“Itu hak aku  menggunakan ponsel aku”

Saya
diam, kamu lupa bahwa saya juga berhak untuk mendapatkan pesan dari
kamu. Atau sekedar menulis status untuk saya. Agar kita bisa
berkomunikasi. Bukan untuk perempuan itu. Saya yang mengiyakan saat kamu
berdiri didepan counter dan saya harus berlari-lari menuju ke mesin
ATM. Pengabdian …. Iya pengabdian …. Bukan untuk yang lain. Karena kamu
adalah ayah dari anak yang saya kandung.

“Jangan terlalu dekat .. dia masih terlalu muda untuk mengerti konflik kita”
“Pikiranmu selalu salah”
“Kedekatan
kalian akan membuat dia patah hati. Dia masih punya masa depan. Bukan
seperti saya. Walaupun kamu bilang kalian hanya kakak dan adik. Mata
saya tidak buta. Mata orang-orang lain juga tidak buta”
“Kamu anggap aku laki-laki apa? Aku hanya gigolo kamu kan?”

Saya
terdiam. Tuhan yang selalu ia dengung-dengungkan di hadapan saya
langsung terhapus. Pengabdian saya hanya di nilai dengan pandangan
“gigolo”. Apa selama ini dia pikir otak saya hanya berurusan dengan
seks? Hanya urusan tidur? Orgasme? Ejakulasi? Hanya masalah seputar
lendir dan selakangan. Gigolo? Saya mengeja satu persatu kata tersebut.
Menyakitkan. Pengabdian saya selama ini ternyata tidak ada ubahnya
seperti tante-tante girang yang memelihara laki-laki hanya untuk
memuaskan hasrat seksual.

Saya menjabambak-jambak rambut
saya. Kemarahan saya mulai tidak terkontrol. Mata saya memanas. Mata
saya liar. Tegukan berkali-kali membuat gelas saya sudha hampir kosong.

Saya melihatnya, perempuan itu mendapatkan kitab suci yang sama dengan apa yang ia berikan kepada saya
“Hanya titipan ….?”
“Tidak kak… dia memberikan ke pada aku”

Saya menekan semuanya diam-diam. Terlalu banyak kebohongan yang selalu saya percaya.
“Jangan gantung saya …”
“Malam ini kita jalan-jalan masing-masing. Puas…”
“kembalikan anak ku”
“minta sama Tuhan mu”

Tubuh
saya semakin mengejang. Matian-matian saya mempertahankan dia untuk
tetap hidup. Berjuang di meja operasi berhadapan dengan malaikat maut.
Bahkan saya tidak tahu apakah kamu mendoakan saya saat itu. Saya
mengelus perut saya. Bekas sayatan itu masih ada. Bajingan!!! Kamu suruh
saya meminta anak saya kepada Tuhan saya? sedangkan saya sendiri tidak
ber-Tuhan? Kamu yang mengenalkan saya pada Tuhan dan seketika juga kamu
membunuh Tuhan di hadapan saya.



A place where we can dance and drink

A place where we can share some weed

A place where there’s no bull shit and
E-very-body can come

Dan
akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di sini. Saya muak dengan
kebohongan. Saya muak dengan kemunafikan. …… dan kamu lelaki ku. Saya
mengkihlaskan semuanya. Apa pun yang telah saya berikan ke kamu.
Pengabdian saya selama ini. Pengorbanan. Saya tahu saya ini saya sangat
tidak sempurna di hadapan kamu. Saya tidak lebih dengan seorang pelacur.
Yang kamu datangi saat kamu butuh. Kepala saya semakin berat. Saya
tertatih berjalan keluar dari ruangan ini. Sendiri … dan laki-laki di
luar sana membantu saya memanggilkan taxi. “Perlu aku temani mbak….”.
Saya diam …..dan menatap wajah  laki-laki itu. “Saya bukan seorang
pelacur dan kamu tidak perlu membayar saya. Dan kamu juga bukan gigolo
kan sehingga tidak perlu saya membayar kamu. Jadi kamu tidak perlu
menemani saya “. Saya masih punya pilihan dengan siapa saya tidur, dan
siapa laki-laki yang bisa menikmati tubuh saya.

Akhirnya
.. saya memilih menjadi seorang pelacur. Ketika saya mengabdikan diri
pada laki-laki atas nama sebuah cinta dan pengabdian. Kenyataanya dia
hanya menilai semuanya uang. Gigolo? Damn…. Meminta anak ku pada Tuhan
ku ….? Ke Tuhan yang selama ini kamu ajarkan ke aku. Tuhan itu sudah
mati. Bukankah makin indah saat saya meng-karya-kan tubuh saya.
Menghargai tubuh saya bukan lagi dengan cinta. Tapi dengan uang! Saya
butuh banyak uang untuk bisa membeli kamu kembali. Saya mulai terisak.

Taxi
warna perak itu menembus gelap. Suara Adzan shubuh ….saya terdiam.
Setetes air mata akhirnya mengalir dari ujung mata saya. Maaf Tuhan….
Saya adalah perempuan bangsat yang memprotes takdir Kamu dengan cara
seorang pecundang. Saya kalah.
“Antar saya ke hotel ….” Hujan……… Pesta belum usai.

Welcome to my paradise,
where the sky so blue,
where the sun shines so bright
Welcome to my paradise,
where you can be free,
where the party’s never ending

***

“Tulis kisah saya Raa….”
“Saya tidak bisa …. Ini terlalu pribadi”

Perempuan itu diam dan menatap tajam ke saya, “Saya hanya ingin agar perempuan tidak dianggap bodoh dengan pengabdian mereka”

Saya meneguk kopi di depan saya. “Kamu tahu Raa …. Agar lelaki dapat menghargai perempuan”. Perempuan itu menekan saya.

Tegukan kopi selanjutnya. “Agar dia tahu bahwa perempuan itu bukan makhluk lemah. Dia punya kekuatan luar biasa dalam diam dia”

Kopi saya habis. Dan saya mengangguk. “Saya akan mencoba. Tidak ada alasan saya menolaknya”
Perempuan itu berlalu dan meninggalkan saya sendirian. Pesan masuk di ponsel saya, “Hati-hati dengan ujung pena mu Raa”.
Saya menelungkupkan kepala di atas meja.
Hujan turun di waktu yang sama. Perempuan itu hilang…….

# Steven & Coconut Treez

Tagged

3 thoughts on “WELCOME TO MY PARADISE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *