Catatan, Kuliner

Waspada Locokan Wuni yang buat jatuh hati

Suatu hari saya berkesempatan datang ke Griya Kelir milik SMAK Hikmah Mandala. Ada buah wuni yang sudah memerah. Buah yang punya rasa asam dan nggka ada manis-manisnya itu di tanam oleh Romo Catur. Beliau sempat mempersilahkan saya untuk mengunduhnya. Namun satu dua buah wuni cukup buat wajah saya mengerut karena asam yang luar biasa.

Berbicara asam asam jadi ingat acar. Acar adalah hidangan pencuci mulut asal Eropa. Di Indonesia sendiri, terkenal acar Belanda (komkomerzuur), atau acar mentimun yaitu kombinasi dari unsur Eropa dan Jawa yang terbuat dari bahan lokal (rempah-rempah) semacam bawang putih, jahe, laos, kunyit, gula, lombok, garam dan cuka Belanda.

Hasil adopsi acara Eropa dapat dilihat dari istilah “atcar tjampoer aspek” sebagai jenis acar lokal yang dibuat dari kol, wortel, buncis, kacang panjang, mentimun, dan tauge dengan menggunakan bumbu saus yang diracik dari jahe, kunir, bawang putih, kemiri, cuma, garam dan cabai merah.(Rijsttafel Budaya Kuliner Di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 – Fadly Rahman)

Acar sebagai hidangan pencuci mulut masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920-an.

Padahal kalau ngomong seger-segar alias asem-asem semacam acar ada buah Wuni atau Buni yang sudah masuk data Herbarium Kerajaan Belanda pada tahun 1743. Buni atau (Antidesma bunius (L.) Spreng.) Nama epitheton bunius berasal dari ilmuwan Jerman-Belanda Georg Eberhard Rumphiusyang tinggal 45 tahun di Ambon. Buah Buni masuk pada basis data Herbarium Kerajaan Belanda. Buah buni kecil-kecil berwarna merah, dan tersusun dalam satu tangkai panjang, menyerupai rantai

Tapi pada masa itu, buah Wuni alias buni lebih banyak dibuat Selai atau difermentasi menjadi minuman alkohol bagian mereka yang tinggal di Jawa dan Filipina.

Saya menyebutnya buah wuni.

Namun di Banyuwangi ada cara unik untuk menikmati buah yang sudah mulai langka ini yaitu dengan cara di Locok. Jika di daerah lain buah wuni di rujak dengan alat cobek, di Banyuwangi menggunakan bambu.

Caranya gampang-gampang susah. Pilih satu ruas bambu yang berlobang ujungnya dan pngkalnya tertutup. Lalu ambil bambu lain yang diserut untuk dijadikan penumbuknya. Masukkan buah wuni yang sudah matang, lalu tambahkan gula pasir, terasi cabe dan caram di dalam bambu lalu di “locok” menggunakan bambu yang berfungsi untuk penumbuk. Jika sudah hancur ya tinggal dikeluarkan dipindahkan ke piring atau langsung dinikmati. Rasanya asam pedas manis. Segar!!. *saat menulis ini produksi liur saya bertambah.

Dulu dapat dengan mudah membuat locok wuni, namun sekarang mungkin sudah jarang karena selain buah wuni sudah mulai langka, bambu untuk locokan juga sedikit sulit membuatnya. Saat masih kecil saya punya locokan bambu khusus yang saya sendiri lupa siapa yang membuatkan. Tapi saya masih ingat sering sekali mengunduh buah wuni di lapangan belakang rumah atau di jalan menuju Pantai Cacalan.

Pada mereka, makhluk generasi milenial awal, buah Wuni cuma dikenal sebagai buah buat rujakan!!!! Dan yang lebih menyedihkan adalah mereka generasi Z malah sama sekali tidak mengenal buah yang kaya manfaat ini. Iya. Buah Wuni tercatat kaya manfaat namun tetap saja jangan makan terlalu banyak apalagi jika dikonsumsi dalam bentuk rujak atau locokan. Enak sih tapi yakin perut tahan dengan asam pedas yang rasanya campur nggak karuan?

Kalau saya cukup nyicip saja.Iya nyicip tapi berkali-kali.

Thanks to Capten yang sudah fotokan Locokan Buah Wuni
Tagged , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *