Uncategorized

TUHAN TERIMAKASIH

Saya
masuk rumah lepas isya. Ada seorang lelaki tua yang tidur di teras rumah
dengan rambut putih. Saya berjingkat membuka pelan pintu samping agar
tidak bersuara. Saya takut lelaki itu terbangun. Sekilas saya memastikan
masih ada gerakan nafas di dadanya.

30 menit kemudian saya
keluar rumah. Musik jalanan sudah berbunyi di teras rumah. Memastikan
apakah lelaki itu terbangun atau masih tertidur. Membuka pintu dan melongok ke kanan? Dia sudah nggak ada. “Lo bapak yang tidur disini tadi dimana?”

Mereka menunjuk pintu yang saya buka. Lelaki tua itu duduk termenung
tepat dibelakang pintu yang saya buka dengan daun pintu mengarah keluar.

Nelangsa. Dia hanya menggunakan baju muslim warna biru telur asin, sarung, sandal dan tongkat dari kayu. Dia kelihatan bersih.

“Bapak sudah makan?”


Dia menggelang perlahan. “Rumah bapak mana?”. Dia menunjukan KTP seumur
hidup. Dia minta ijin untuk istirahat dan besok akan jalan lagi. Saat
saya tanya mau kemana dia menggeleng. “Anak isun 3 kabeh nyang bali.
Isun dewekan nang umah. Isun stress”.

Saya diam saja langsung
balik kanan mengambilkan air mineral dan biskuit yang ada di meja rumah.
Gusti, seharusnya saya membiarkan dia tidur di dalam rumah. Tapi tidak
mungkin. Saya pikir meminjamkan tikar dan selimut akan lebih membantu
dia dengan sebungkus nasi yang saya beli di depan rumah.

Saya
nelangsa saja. Sesak rasanya di dada saya. Bagaimana jika saya tua
nanti? Bapak tua di teras rumah punya anak tiga tapi tetap saja dia
hidup sendirian. Tidak ada jaminan bukan?

Lalu saya ingat ibu
saya? Meninggal sendirian tanpa saya tanpa satupun keluarga di
sebelahnya. Saya takut membayangkannya. Tetap saja ada rasa sakit dan
perasaan bersalah yang masih belum bisa di normalkan.

Baik baik
baik. Tiba-tiba saja saya gugup. Sangat sangat gugup. Lalu masih ada
anak yang melupakan orang tuanya dengan alasan sibuk bekerja seperti
saya? Lalu masih ada perempuan yang membuang dan membunuh bayinya. Lalu
masih ada laki-laki yang melupakan tanggung jawab atas istri dan
anak-anaknya?

Lalu bagaimana dengan saya? Haduh Raa. Kenapa
kamu memikirkan dirimu sendiri? Seperti Kartini saja dengan
pemikiran-pemikiran feodal.

Maka jika ketiga anak lelaki tua
itu di depan saya maka saya akan memaki-maki dia. “Itu bukan hak kamu
Raa”. Biar saja. Saya hanya ingin mengingatkan kalo kita tidak lahir
dari batu. Ketika orang tua sejak lahir telah memilih kita sebagai
pemenang. Dari ribuan sel sperma, kita pemenang yang berhasil bertemu
dengan sel telur menjadi zigot dan membesar berubah menjadi Fetus.

Baiklah saya akan berdoa panjang. Mengirimkan Al-Fatihah untuk ibu, bapak dan anak-anak saya. Serta kepada seluruh orang tua.

Tua? Lalu dengan siapa saya menua nanti? Entahlah. Saya anggap ini
rahasia Tuhan ketika yang abadi itu hanyalah sebuah perubahan.

Tiba-tiba saya sangat ingin di panggil Bunda.

Tuhan, terimakasih.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *