Uncategorized

TUHAN …. KAMU DIMANA?

Saya melihat di jam di
HP saya.  Mendekati tengah malam.  Entah kenapa juga saya memilih tempat
ini. Tangan saya membetulkan letak jaket hitam yang bersahabat dengan
saya berminggu-minggun ini.  Merapatkan nya tepat di bawah dagu saya dan
menaikkan tutup kepalanya. Rambut  pendek saya sedikit terurai angin
laut. Ucapan selamat malam dari seorang waiters hanya saya jawab dengan
anggukan. Kaki saya memilih kursi di pelataran tepat di samping pembatas
kayu. Yang memberikan jarak antara daratan dan lautan. Iya jarak…..
yang membuat semua menjadi terasa jauh. Padahal seandainya pun kayu ini
di singkirkan maka jarak itu akan hilang. Daratan dan lautan akan
menyatu di hubungkan dengan pantai.  Sebuah hal yang sederhana tapi
terkadang kita sendiri yang membuatnya menjadi sebuah hal yang rumit.
 Dan salah satunya adalah saya.

Saya tersenyum sendiri dan
menyalakan sebatang rokok dan menghembuskannya dalam-dalam. Sejak kapan
saya merasa bebas seperti ini?. Saya mengusap muka saya dengan tangan
kanan, sementara tangan kiri menjentikkan abu ke atas asbak yng di
bawakan pelayan yang tergopoh-gopoh menghampiri saya. Perempuan. Saya
taksir usianya nya baru 20 an. Wajahnya masih lugu dengan rambut di ikat
kuda. Wajahnya tanpa rias, hanya bedak tipis dengan lipstick merah muda
yang sangat muda. Sangat kontras sekali dengan para pengunjung terutama
dengan penyanyi di ujung pelantar ini.  Rambutnya pirang dan sengaja di
roll besar yang menimbulkan kesan bergelombang seperti mode than 70an.
Badannya padat berisi dengan belahan baju sengaja diturunkan di bagian
dada. Saya menghisap rokok saya sekali lagi dan berpikir kenapa
perempuan selalu menjual tubuhnya. Padahal walaupun tanpa harus
menurunkan baju bagian  dada semua orang akan mengakui suaranya luar
biasa. . Suaranya tipis dan terkesan manja.

Sul Mare luccia
L’astro d’argento
Placida e il vento
Venite all’ agile
Barchetta mia:
Santa Lucia, Santa Lucia


Saya
menikmati lantunan lagu itu.Santa Lucia itu adalah salah satu perawan
suci yang tertera dalam kanon Romawi.  Setiap misa banyak orang yang
membawakanhya sebagai perantara. Konon, Santa Lucia adalah puteri
bangsawan kaya lagi ternama yang berasal dari kota Syracusa, ibukota
pulau Sicilia, yang karena akibat kekalahan Kartago dalam perang Punis I
menjadi negara jajahan Roma. Semua undang-undang yang diciptakan Kaisar
Roma berlaku juga bagi negara Sicilia. Saat ibunya sakit, Lucia di
jodohkan dengan laki-laki yang tidak seiman dengan dia. Ibunya berharap
Lucia bisa mempengaruhi laki-laki itu agar segama dengan Lucia. Lucia
menyetujui. Suatu waktu Lucia mengajak ibunya yang sakit parah ke makam
Santa Agatha untuk meminta kesembuhan. Tunangan Lucia tidak mau menemani
perjalanan mereka karena dianggap sia-sia. Hingga akhirnya setelah
berdoa di makam Santa Agatha, ibu Lucia sembuh sehingga Lucia meminta
kepada ibunya uang yang akan digunakan untuk membangun rumah diberikan
saja kepada anak-anak yatim dan orang miskin. Saat mengetahui hal
tersebut, tunangan Lucia marah besar. Dia melaporkan Lucia pada gubernur
Paschius, dan bertepatan sekali saat itu sedang ada pengejaran terhadap
orang-orang Kristen. Lucia tertangkap atas laporan tunangannya sendiri.
Dia dipaksa melacur…. Namun tangan Tuhan melindungi dia. Akhirnya Lucia
mati di bacok dengan sebilah pedang tetap sebagi seorang perawan yang
suci yang percaya atas keberadaan dan kebesaran Tuhannya.
Santa
Lucia …… orang-orang yang duduk disekitar saya bertepuk tangan termasuk
saya. Santa Lucia….  Meninggal sebagai perawan suci dengan keyakinannya.

Saya
tiba-tiba ingat saat kamu menceritakan tentang Rabiatul Adawiyah.
Seorang perempuan yang menjadi kekasih Allah. Saya menundukkan kepala
saya dalam-dalam. Masih terbayang kamu mendendangkannya tepat di telinga
saya. kemudian membuat saya terkagum-kagum akan kesetian dia pada
Allah. Air mata saya mengalir tanpa isakan.……. Jangan membandingkan.
Berkaca pada  Lucia dan Rabiatul Adawiyah saja saya sangat tidak pantas.

Saya membuang muka ke arah selat Philips. Singapura
seakan berada di depan hidung saya. Sangat dekat dibandingkan jarak
antara Ketapang Gilimanuk yang menghubungkan Jawa dan Bali.  Beralih di
sebelah kiri. Sebuah bukit yang membatasi antara Kampng Tua Tanjung Uma
dengan perdaban Batam. “Bukit Semocong “, katamu saat itu. “Dulu sebelum
ada jalan, warga Tanjung Uma menggunakan pompong lewat pelabuhan
tradisional”. Dan sampai sekarang pun saya bisa melihat lampu-lampu
kecil yang menandakan itu adalah sebuah perkampungan. Sedangkan
pelabuhan tradisional yang berada di bawah hotel berbentuk kapal seperti
sebuah titik putih dalam gelap. Benar sesuatu yang berbeda akan
terlihat langsung dengan tangkapan mata. Namanya noktah akan tetap
terlihat. Hitam diantara bentaran putih….. putih diantara bentaran
hitam.

Tiba-tiba saya merasa ada di Roma dengan
pemandangan seperti ini. Selat Philips di depan saya seakan codet yang
memisahkan dua daratan dan mengkotak-kotak nya menjadi sebuah negara.

“Hai.. sudah lama….”

Perempuan itu tiba-tiba saja duduk didepanku. Aku menyalaminya

“Makasih Raa… sudah datang malam ini. Saya butuh kawan”

Perempuan itu tertawa seperti biasa. “Sudah habis berapa batang”, katanya. Aku menunjuk asbak di hadapanku.

“Gila…. 5 batang? Tuh jantung mau jebol”

Saya diam dan menyalakan rokok yang ke enam saya menawarkan rokok kepadanya. Raa menolak, “Ayah ku mati gara-gara rokok”

Saya membantahnya. “Sudah waktunya dia mati Raa”

Dia
kembali tertawa. “Betulll…. Mati. Saya akrab dengan kematian. Tapi saya
tidak ingin kamu juga mati gara-gara rokok sialan itu”

Saya
tidak memperdulikan Raa yang terus bercerita tentang buruknya rokok.
Dan tiba-tiba dia berhenti saat mengatakan bahwa rokok mengakibatkan
kemandulan pada perempuan..

“Maaf”, katanya tiba-tiba. “Aku tidak ada maksud menyinggung kamu”.

Gantian
saya yang ketawa terbahak-bahak. “Santai saja Raa…. Saya sudah terbiasa
dengan hal seperti itu. Terkadang saya berpikir perempuan-perempuan
‘gabuk’ seperti saya ini hanya memenuhi isi dunia. Seharusnya
perempuan-perempuan seperti kami tidak perlu di lahirkan. Saat
masyarakat hanya berpikir bahwa perempuan itu hanya sebagai objek
seksual dan pencetak anak”

Saya terdiam sejenak, “Mau
pesan apa Raa”. Seperti biasa Raa memonyongkan bibir dia dan menyebutkan
satu merk minuman soft drink berwarna biru.

“lelaki ku selalu memesan minuman yang sama dengan yang kamu pesan Raa”

Saya memanggil pelayan untuk mengambilkan pesanan minuman Raa, “Sekalian kentang goreng dan Santa Monica. Adakan?”

Pelayan
itu mengangguk dan saya membiarkan dia beringsut menjauhi saya dan Raa.
Entah apa yang ada dalam otak saya menyuruh Raa datang tengah malam ini
hanya untuk menemani perempuan galau seperti saya. Dia adalah tempat
sampah bagi saya. Berjam-jam dia akan mendengarkan semua cerita saya.
Dia hanya diam sambil sesekali menimpali sambil menikmati secangkir
kopi. Tumben saja malam ini dia tidak memesan kopi O atau capucino
kesenangan dia.

“Kamu tahu Raa…. Terakhir aku memeluknya
disana”, aku menunjuk sebuah bangunan di seberang tempat kami duduk.
“Dan saya merasakan bahwa pelukannya berbeda. Iya… sebuah pelukan
terakhir”
“Berceritalah terus…. Saya akan duduk disini menemani kamu”
“Saya bodoh Raa… saya sangat bodoh ….. mempercayai lelaki itu. Dan lebih bodohnya lagi… saya kehilangan Tuhan saya”
“Kata kawanku kamu dekat Dia dekat Kamu jauh Dia semakin Jauh….”
“Berbahagia sekali kawan mu Raa. Saya ingin mendekat pada Tuhan. Tapi saya pikir Tuhan tidak perduli kepada saya Raa”

Pelayan
datang.  Dengan satu nampan agak besar dia membawa soft drink pesanan
Raa, kentang goreng dan Santa Monica. “Kamu tidak pesan makan Raa”. Dia
menolak dan mengatakan sudah kenyang.

“Kamu tahu Raa?
Santa Monica ini adalah anggur yang manis. Di Roma termasuk minuman
murah.  Dia halus. Tidak cepat membuat orang mabuk. Meneguk nya perlahan
lahan sedikit demi sedikit tidak membuat kita merasa mabuk “

Saya
menuangkan sedikit di gelas bertangkai panjang. “Kamu mau Raa”. Dia
tetap menggeleng dan mempersilahkan saya untuk meminumnya. “Saya tidak
membutuhkan itu. Kalau kamu butuh teguklah”, katanya sambil membuka
botol softdrinknya.

“Santa Monica adalah seorang perempuan
asketis. Dia anti minuman anggur. Seperti halnya Santa Lucia, Santa
Monica adalah perempuan suci, ibu dari pujangga gereja terkenal Santo
Agustinus. Dia selalu mengatakan kepada keluarganya jika mereka haus
maka minumlah air putih jangan anggur. Melatih keluarganya agar tidak
menyentuh anggur. Santa Monica mempunyai anak yang bernama Agustinus.
Berbeda dengan ibunya yang menjadi perempuan pendoa, Agustinus adalah
seorang pendosa, mengikuti aliran sesat yang bertentangan dengan
kepercayaan ibunya. Hidup berfoya-foya dan mempunya istri gelap”

Raa duduk menopangkan dagu ditangannya.
“Kamu belum mengantuk Raa”
“Belum …. Berceritalah terus”


Suatu hari santa Monica datang ke uskup Ambrosius. Dia meminta kepada
uskup agar anaknya bisa kembali ke jalan agamanya. Sang Uskup menyuruh
Santa Monica pergi dan menyuruh ia percaya bahwa tak mungkin doa dan
tangisan yang sedemikian lama tidak membuat Agustinus bertobat. Hingga
akhirnya Monica mengatakan kepada anaknya, “Tak ada sesuatu pun yang
jauh dari Tuhan. Tak perlu kau takut, juga jika pada akhir dunia. Namun
satu permintaan ku sebelum aku mati bertobatlah

Agustinus
akhirnya bertobat. Namun nyawa ibunya tidak bisa diselamatkan. Pertemuan
terakhir Agustinus dengan ibunya dituliskannya  dalam karya sastra yang
indah. Et dimisi lacrimas quas continebam ut effluerent quantum vellent
…….Kubiarkan air mataku bercucuran, biarkalah air mata ini mengalir
sepuas-puasnya. Dengan tangisnya ia merasa damai karena ia merasa bukan
telinga manusia, tapi telinga Tuhan sendiri yang mendengar nya”

Saya diam dan kembali meneguk Santa Monica

“Raa… apakah aku bisa seperti Agustinus? Apakah telinga Tuhan mendengarkan tangisan aku”

Tiba-tiba muka Raa serius. “Hei… kamu tahu? Apakah lelaki  di ujung sana mendengar cerita kamu barusan”

Saya tersenyum. “Tentulah tidak Raa. Dia jauh dari posisi kita sekarang. Lagian aku bercerita ke kamu. Bukan ke dia”

Saya langsung menghentikan sanggahan saya.

“Itulah …. Jika kamu ingin Tuhan mendengarkan tangisan kamu. Mendekatlah ke Dia”

Saya diam dan menuangakan Santa Monica kembali di gelas.

“Saat
banyak orang berambut gondrong dan acak-acakan. Jangan salahkan karena
tidak ada tukang cukur. Seharusnya orang berambut gondrong itulah yang
datang ke tukang cukur”, bisik Raa sambil mendekatkan wajahnya.

Saya
tertawa terbahak-bahak tidak terkontrol. Tapi entah kenapa tiba-tiba
air mata mengalir deras. Argghh….. Santa Monica ini benar-benar telah
mempengaruhi otak. Saya tidak bisa menjelaskan apakah saat ini saya
sedih atau bahagia.

Tiba-tiba muncul  bayangan  Santa
Monica yang duduk di depan altar…. Bukan…. Bukan… bukan … itu bukan
Santa Monica. Itu ibuku dengan mukena putih yang sedang berdoa tengah
malam dan saya tertidur menggelung di samping ibu. Ibu saya mencium
kening saya dan merapalkan banyak doa  untuk saya. Mendoakan hal-hal
terbaik untuk saya.

“semoga kamu menjadi anak yang berguna bagi ibu, bapak, agama nusa dan bangsa”. Doa itu seakan-akan terngiang ditelinga saya.

“Kamu sudah mulai mabuk”

“Tidak Raa… Santa Monica itu ibu saya. Dia tidak akan membuat saya mabuk. Saya Agustius”

“Kamu semakin kacau…. Agustius itu laki-laki. Kamu perempuan”

“Tidak…
tidak… aku Rabiatul Adawiyah… Aku Santa Lucia….. ahhh…. Tidak mungkin.
Mereka mati dalam keadaan masih perawan suci. Sedangkan aku? Mengenal
Tuhan saja aku tidak sangup”

Saya semakin meneracau…… “Antar saya pulang Raa… antar saya ke ibu saya”

“Tidak mungkin .. ibu kamu sudah meninggal. Haduhh… seharusnya saya melarang kamu menghabiskan Santa Monica sialan itu”

Saya terdiam dan membiarkan Raa menopang tubuh ku yang sudah tidak berdaya.

“Raa… antar saya menemui laki-laki saya”

Tiba-tiba
dia menampar saya dan membuat saya terhuyung, “Kamu tahu…. Laki-laki
kamu sudah mati. Sudah cukup kamu menyiksa dirimua sendiri. Hanya
gara-gara laki-laki sialan itu kamu kehilangan otak seperti ini. Masih
banyak yang bisa kamu lakukan selain menghabiskan waktu mu seperti ini.
Kamu perempuan hebat…. Jangan siksa diri kamu hanya gara-gara laki-laki
yang tidak punya terimakasih”

“Dia ayah dari anak aku”, saya berteriak lantang

“Anak…
anak apa? … Apa dia pernah mendoakan anak kamu? Apa dia pernah
menanyakan bagiamana kabar kamu? Apakah dia pernah ingat dimana anak
kamu? Laki-laki seperti dia tidak pantas menjadi ayah anak kamu”

“Saya mencintainya”

“Cinta… cinta macam apa… .. saya pikir perempuan seperti kamu bisa bersikap logis. Pakai nalar. Pakai otak”

Saya
diam dan berjalan terhuyung-huyung menuju hotel yang jaraknya tidak
begitu jauh dari tempat saya menghabiskan  Santa Monica dengan
teriak-teriakan Raa yang terus memenuhi isi kepala saya.

Seorang
Roomboy membantu saya naik ke lift dan membuka kamar saya.  Saya
memejamkan mata. Di kamar ini di lantai 6. Semua kenangan itu membayang.

“Kamu berbeda Yah….”
“Perasaan kamu saja Nda”

Dunia
seakan berputar dan saya tidak sadarkan diri. Kenapa Raa tiba-tiba
diam. Dia hilang. Dia tidak lagi mau mendengarkan cerita saya. Raa saja
muak melihat saya, bagaimana orang lain, bagaimana dengan Tuhan.
Tiba-tiba saya merasa sendiri….

*Rabiatul Adawiyah, Serikandi yang tercipta

Sungguh agung pengabdianmu, Kau berjaya menjadi iktibar
Asmaramu dihampar suci, Pintalan dari awanan putih
Membuahkan titisan rahmat, Menyuburkan mawar yang layu


Namamu menjadi sanjungan, Ikutan ummah sepanjang zaman
Ayuh bersama kita susuri, Perjalanan kekasih Allah

Saya merasa kamu berdendang di telinga saya ………. Tuhan dimana Kamu?

* Rabiatul Adawiyah – In Team

#terinspirasi “Dari Pulau Buru ke Venezia – Sindhunata”

Tagged

3 thoughts on “TUHAN …. KAMU DIMANA?

  1. mba Ira…

    Aku rindu sekali dengan tulisanmu…

    aku senang sekali bacanya…

    Sering nanya gitu juga mba. terutama akhir-akhir ini… saatnya semuanya kacau…

    Tapi kata orang tua, Tuhan itu ada dimana-mana mba.. nggak kelihatan sih emang. tapi emang harus percaya aja…

    hehehehehe

    Take care selalu mba…

    miss you…

    -N-

  2. Tulisan yang selalu membawa saya larut ke dalam cerita.
    Tulisan yg sarat akan pengetahuan diluar cerita yang saya tau..
    Mbak, Tuhan itu, sebenarnya ada dalam diri kita sendiri..
    He's going nowhere.
    Have a great day.
    x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *