Uncategorized

TUAN INI MALAM MINGGU

15 Februari 2014
Tuan ini malam minggu. Bolehkah aku mengajakmu berjalan malam ini?

Kita akan bertemu nanti di ujung gang masuk rumahmu sebelum hujan
terakhir menyentuh bumi, setelah pelangi terbalik. Lalu ijinkan aku
menemanimu berjalan-jalan.

Aku ingin mengajakmu ke otakku dan
kuperlihatkan jejak-jejak rindu yang kamu tinggalkan untukku. Nebulaku
penuh dengan file yang sempat ku simpan yang kuberi nama Kenangan. Tentang bintang-bintang yang aku simpan di langit kepalaku yang tercipta dari senyuman kamu.

Tuan, nanti aku akan antar kamu berjalan di jemari-jemariku. Ada sidik
jari yang akan memenuhi seluruh pori kulitmu. Atau mau kuajak kau menuju
di jantungku, dimana aku pernah sesak dengan rasa ceburu. Sesak rasanya
Tuan. Jika itu memang kamu. Jelajahi waktu ku semaumu.

Nanti
berhenti saja di mataku. Maka kamu akan bertemu dengan linang air
mataku. Bukan sekedar embun yang singgah sebentar lalu menguap. Dia
akan semacam mata air. Yang menggenang tak kan hilang selagi aku masih
mengingatmu. .


Maka Tuan. Jika aku lelah maka bisa aku meminta
tolong padamu. Giring aku ke hatimu dan biarkan aku tinggal di hati kamu
selamanya.

Bahkan nanti jika kamu menua, maka aku akan
menyediakan segelas air putih untuk minum mu di tengah malam. Dan kita
akan bercengkerama berdua.

Tuanku ini senja. Dan seperti biasa seperti kataku dulu, “Senja nya akan beda tanpa kamu, cinta”.

“Then I started crying. I didn’t want to, but I couldn’t help it.”

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *