Catatan, Traveling

Toast Kemerdekaan di Jayapura

17 Agustus 2018

Setelah satu jam dari Bandara Sentani, saya sampai di Jayapura. Saya menginap di fave hotel yang berada di tengah kota. Malam itu, saya belum bertemu dengan tiga orang lainnya. Fix. Tidak masalah. Saya lelah sekali, namun dari keterangan petugas hotel ada pesta perayaan kemerdekaan di lapangan dekat hotel.

Selepas istirahat sebentar, saya menuju ke lapangan yang jaraknya nggak lebih dari 200 meter. Saya yang hampir lupa jika perbedaan waktu Jawa dan Papua dua jam.

Kalau di Banyuwangi, mereka adalah jajaran Forpimda

Pertama kali melangkah saya semacam di sebuah dunia yang asing.Tentu saja secara fisik kami berbeda. Apalagi saya berjilbab. Jumlah yang menggunakan jilbab bisa di hitung dengan jari.

Acara puncak dimulai. Mereka toast kenegaraan, saya yang mewek

Catatan ini saya buat selepas mengikuti toast kenegaraan yang diselenggarakan pemerintah kota Jayapura. Doa dipimpin secara Kristiani. Lalu mereka toast kenegaraan. Pake gelas dan ada juga yang pake minuman kaleng untuk yang muslim.

Saat mereka toast kenapa saya yang mewek. Berlinangan air mata. Budaya dan tradisi yang tidak pernah saya temukan ditempat saya selama ini tinggal dan singgah. Serius, saya terharu. Seorang perempuan menawari saya minuman kaleng, dan melarang saya minum dari gelas kecil yang diedarkan. “Jangan minum yang kecil. Tidak boleh untuk muslim. Minum minuman kaleng saja,” dia menawari saya beberapa merek minuman kaleng yang masih baru. Saya mengangguk dan mengucapkan terimakaish lalu mengambil minuman kaleng warna biru.

Malam kemerdekaan yang tidak pernah saya temui sebelumnya di Jawa. Serius. Baru kali ini saya mendarai bahwa setiap daerah merayakan kemerdekaan Indonesia sesuai dengan budaya dan tradisi mereka masing-masing.

Indonesia ini kaya lo. Budaya tradisi beraneka macam. Beda dan buat Indonesia banyak warna. Dan saya merasa bersyukur memilih keluar dari kamar hotel untuk gabung bergembira di Taman Imbi Jayapura, walaupun sendirian untuk merayakan kemerdekaan negara ini dengan lelah yang sangat.

Tiba-tiba seorang perempuan menawarkan kue kepada saya yang duduk di tepi taman dan anak anak kecil disekitar nya. Senyumnya ramah sekali. Saat saya tanya kepada orang disebelah saya, dia berkata jika itu ibu walikota. Saya izin memotretnya.

Ada acara bagi-bagi kue

Malam ini semua bergembira. Berjoged bersama sama. Apalagi Jawara the Voice Kids Netherlands (Belanda), Yosina Rumajauw asal Papua yang lahir dan tinggal di Belanda juga pulang ke Indonesia.

Dan saya memilih beristirahat. Jetlag dan tubuh saya masih belum berdamai dengan perbedaan waktu hampir dua jam dibandingkan Jawa. Kabar baik adalah, Mas Azas, PR Gramedia membawakan pesanan saya bihun daging yang dititipkan ke receptionis. Kami belum bertemu. Dia wanti-wanti jangan sampai terlalu malam di luaran takut bangun kesiangan.

Besok pagi perjalanan masih dilanjutkan lagi. Ke Serui. Kota yang baru pertama kali saya dengar. Jam berapa kami berangkat? Jam 4 pagi dan berarti itu sama dengan jam 2 dini hari waktu Jawa. Dan esok pertama kali saya bertemu dengan tim dalam formasi lengkap. Hanya membawa sebagian baju, sementara sisanya ditinggal di hotel. Karena sepulang dari Serui, kami masih harus ke Jayapura lagi

Menyenangkan? Sangat.

Ada pesta kembang api!!
Paskibraka ikut bergembira. Tapi minumnya minuman kaleng
Sama rata, mulai anak-anak hingga dewasa

 

 

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *