Catatan, Traveling

Tidak ada sejarah “Hari Nelayan” di Google

Tidak ada sejarah “Hari Nelayan” di Google

Hari ini, 6 April 2018 hastag di medsos penuh dengan tagar ucapan selamat hari Nelayan. Mulai dari facebook, twiter hingga instagram. Sore tadi hingga malam ini saya mencari di google sejarah mengapa 6 April di tetapkan sebagai Hari Nelayan. Iya tahun ini adalah Hari Nelayan yang ke 58.

Tapi NIHIL!!!

Google tidak bisa menjawab mengapa hari ini adalah hari nelayan. Saya berusaha membuka beberpa referensi buku tentang kelautan yang saya miliki. Sebut saja satu buku yang berjudul “Mengapa kita (belum) cinta laut?. Tapi tetap saja saya tidak menemukan alasan mendasar mengapa harus tanggal 6 April 1950 diperingati sebagai hari Nelayan nasional.

Hanya data kecil. Sangat kecil yaitu tentang Tradisi Labuh Saji yag dilakukan oleh nelayan di Pelabuhan Ratu Sukabumi. Tradisi yang selalu digelar pada 6 April. Tradisi yang muncul pada abad ke 15 yaitu tentang Nyi Putri Mayangsagara yang merupakan keturunan penguasa kerajaan Dadap Malang (masuk wilayah Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi). Putri cantik dan ayahnya Bagus Setra memberikan bingkisan ke Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut. Hal ini dilakukan agar nelayan mendapatkan hasil melimpah, sehingga hidup mereka bahagia. Tradisi itu dilakukan pada setiap 6 April. Entah apa itu sebagai landasannya. Karena jika tahun 2017 adalah hari nelayan yang ke 57 maka ada perisitiwa besar pada 6 April 1950 yang menjadi sangat penting bagi Nelayan. Dan google tidak mencatatnya.

Tercatat ada 6 etnis utama dalam dunia kemaritiman di Nusantara yang terkenal ketangguhannya di laut dan tersebar dari Singapura sampai Irian Jaya dan Australia Utara. Ke enam etnis tersebut adalah Bajau, Butun, Bugis, Makassar, Mandar dan Madura. Kecuali Bajau, lima etnis lainnya tinggal di darat tetapi bekerja di laut. Beruntung sekali saya pernah bertemu dengan suku Bajau. Sedangkan “ketidakberuntungan” saya adalah, ayah saya memiliki nama depan Daeng yang berarti dari Suku Bugis dan asal Makasar. Tidak beruntung karena saya tidak pandai berenang seperti ayah saya.

Muhammad Ridwan Alimuddain dalam esainya menulis, pelaut dan nelayan tidak akan mengatakan bahwa “Kami adalah pelaut dan nelayan yang ulung,” sebab mereka adalah ‘orang laut’. pelaut dan nelayan merasakan dirinya bagian dari alam, sangat kecil di alam, mereka tidak boleh sombong, mereka tidak besar dengan kebanggannya. Apalagi di laut!!

Dan ini 6 April. Begitu banyak yang ingin saya tulis tentang nelayan dan laut serta pelaut. Tentang aturan penangkapan ikan, tentang stigma miskin untuk nelayan, tentang musim paceklik di muncar. Tentang mabuk laut dan mabuk darat, tentang Indonesia yang memiliki pulau-pulau yang indah. Tentang Indonesia Negeri Bahari.

Ada PR besar yang harus di segera diselesaikan dan diberi jawaban mengapa hari ini menjadi Hari Nelayan Nasional. Wawancara hari ini pun tidak ada hasilnya. Sejarah adalah dasar kebanggan. Ada semangat saat mengetahui akar rumputnya. Semacam hari buruh 1 Mei yang di rayakan secara besar-besaran berawal dari 1 Mei 1886, sekitar 350.000 buruh yang diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika melakukan demonstrasi dan aksi mogok kerja di berbagai negara bagian AS. Ada kebanggaan di sana.

Nelayan harus bangga pada pekerjaanya dan tidak mengatakan, “semoga anak saya tidak menjadi nelayan seperti saya.”.

Melaut itu tidak mudah. Sungguh saya percaya itu. Pemerintah harus segera mengambil peran untuk menyelamatkan para nelayan. Sungguh.

Oh ya ada hal sederhana lainnya yang bisa dilakukan untuk menghormati nelayan. Jangan buang sampah di laut serta jangan menawar ikan dengan harga murah.

Jika tidak ikutlah melaut sehari saja. Agar merasakan ada nyawa yang dipertaruhkan disana.

Selamat Hari nelayan walaupun sejarahnya masih gelap hingga sekarang.

————-
Hari ini saya ikut merayakan kebahagian hari nelayan bersama kawan kawan nelayan Bangsring Under Water yang baru saja menyelesaikan “tugas” melakukan pengamatan ikan Nemo selama 48 jam bersama dengan tim dari Universitas Brawijaya Malang. Sebuah prestasi yang luar biasa.

Mereka bagi saya adalah guru. Ditengah keterbatasan mereka memilih terus berjuang mengembalikan perairan Bangsring yang telah rusak karena potas dan bom ikan. Bergerak dalam senyap. Mereka yang meyakini saat laut di jaga maka laut akan memberi lebih banyak kepada manusianya.

Sehat sehat semua. Rayakan saja. Jika tidak ada sejarahnya mari kita membuat sejarah sendiri.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *