Catatan

Thera dan kenangannya yang tetap hidup

Beberapa tahun lalu, saya kehilangan sahabat terbaik. Namanya Threra. Dia meninggal setelah melahirkan bayi laki lakinya.Selain keluarganya, saya salah satu yang terpuruk. Thera bukan hanya sekedar sahabat, tapi lebih. Ulang tahun kami beda satu hari di bulan April. Sering kami merayakan bersama sama.

Thera, saat masih SMA selalu menggunakan tas ransel warna oranye berbentuk postman. Kemudian bertemu dengannya di kelas 1.1. Dia yang mengenalkan saya dengan tissue dan bedak. Mengingatkan saya agar tidak lagi melap wajah dengan kerudung atau lengan baju.

Thera meninggal karena melahirkan. Menjadikan saya semakin getol mengangkat isu-isu tentang kematian pada ibu melahirkan. Tentang hak hak kesehatan serta pentingnya pengetahuan reproduksi pada perempuan. Tentang bagaimana perempuan dengan mudah mengakses fasilitas kesehatan. Tentang bagaimana peduli pada anak anak. Buat saya Thera adalah pemicu bagi saya untuk lebih peduli pada kaum saya sendiri. Perempuan.

Dan anak laki-laki yang saya gendong adalah Athar, anak satu satunya dari Thera. Secara tidak sengaja saya bertemu dengan Athar di salah satu bank. Bocah kecil ini keliling dan bermain aktif seperti anak seusianya. Saya mbatin, kenapa tidak asing dengan wajahnya. Saya mengajaknya bermain hingga akhirnya Mama menghampiri. Saya kaget dan menahan nangis memeluk mama.

“Ini alasan saya nggak mau datang ke rumah mama. Saya nggak kuat,” kata saya. Untungnya Athar aktif sekali, sehingga saya dan Mama tidak banyak bicara. Saya memilih mengajak Athar keluar bank karena kasian melihat Mama yang kesulitan mengikuti gerak Athar sekaligus mengurusi administrasi bank.

Kami bermain mobil dan bercerita tentang Tayo yang lewat depan bank hingga Mama menyelesaikan urusannya dengan pihak bank. Mama kemudian membiasakan Athar memanggil saya mama Iraa. Saya menolaknya. “Panggil kak Iraa aja ya Nak”.

Mama pulang dengan menggonceng Athar di depan. Jujur hati saya remuk redam dan mbatin seharusnya ada Thera. Seharusnya kami makan di meja bersama sambil bercerita segala macam hal. Sekarang tinggal mama dan Athar.

“Main ke rumah ya Mbak Iraa. Biar mama sama Athar nggak kesepian. Kita cuma tinggal berdua kok,” katanya.

Saya mengenakan kacamata hitam dan mengangguk. Mencium pipi mama dan Athar.

Thera. Kehilangan mu semacam kehilangan bapak dan ibuku. Berat dan sakit jika mengingatnya.

Al Fatihah.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *