Uncategorized

Teruntuk Tung Tung dan Nurong

Jumat 3 november 2017
“When I look into your eyes
I can see a love restrained
But darlin’ when I hold you
Don’t you know I feel the same
‘Cause nothin’ lasts forever
And we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle
In the cold November rain”
Aku menulis catatan ini sambil menikmati secangkir kopi di sebelah laptopku dan mendengarkan lagunya November Rain miliknya Guns n Roses. Ada beberapa tulisan yang harus diselesaikan, tapi aku memilih menulis catatan ini.
Mungkin sampai detik ini, aku salah satu dari ratusan orang yang masih tidak percaya jika kalian berdua memutuskan untuk menikah dan menggelar akad nikah pagi tadi.
Benar apa yang aku takutkan terjadi, bahwa aku pasti akan menangis di pernikahan kalian, Merusak bedak dan lipstikku yang sudah kusiapkan sejak jam 6 pagi.
Kalian berdua bukan orang lain dalam #duniaira. Tidak banyak yang tahu jika aku yang mengenalkan kalian berdua. Kalian ingat tulisan “Jembatan” yang aku tulis pada Maret 2017 lalu? ternyata. Lagi-lagi aku harus menjadi jembatan penghubung antara kalian berdua.
Mungkin 3 tahun yang lalu, ketika Hikmah aku ajak menemui Tunggul disalah satu workshop di Bakungan. Di sebuah rumah makan yang saat ini sudah tutup. Mungkin saja bangkrut karena tidak banyak pengunjungnya. Hikmah, perempuan yang dalam pikiranku sangat lugu, malu-malu tapi memiliki mimpi yang besar. Tunggul, laki-laki muda yang punya semangat dan berani mengambil keputusan cepat, walaupun suka sekali dia ceroboh. Laki laki baik yang rela menemani aku nonton konser musik dan blusukan di lokalisasi. 
“Aku akan buatkan jaring laba-laba besar Mah. Sangat besar. Percaya sama mbak Iraa. Percaya,” kataku saat perjumpaan pertama kami. Jujur, aku pun saat itu takut juga tidak mewujudkan mimpi mu Rong. Tapi seperti katamu, bukankan hanya harapan yang membuat kita masih hidup hingga saat ini.
Jodoh itu sangat dekat ternyata. Terlalu banyak yang kita bicarakan. Aku, Kamu dan Tunggul sert beberapa teman baik. Mengumpulkan potongan-potongan puzzle yang berserak. Merangkainya menjadi satu dalam sebuah rumah. Ya. Bukankah dalam sebuah rumah adalah bagian kecil dari kehiduapan semesta?
Kalian yang selama ini memilih diam dan menjadi bagian dari rahasia itu sendiri. Tapi percayalah tidak ada yang terlewatkan dari insting kawanmu ini. Kawan yang hapal sekali seberapa banyak ukuran nasi diatas piring makan kalian berdua walau cukup lama sekali tidak bersama.
Maka puzzle yang berserak yang saat itu kita kumpulkan, hari ini sudah sempurna. Menutupi masing-masing celah hati kalian yang selama ini kosong. Satu-satu mimpi kita sudah terwujud. Lalu apalagi yang membuat alasan kita tidak mengucapkan syukur.
“But lovers always come and lovers always go
And no one’s really sure who’s lettin’ go today
Walking away”
Tidak ada yang benar-benar pergi. Tidak ada yang memaksa untuk tinggal. Yang ada adalah bertahan untuk bersama dan saling melengkapi
“So if you want to love me
Then darlin’ don’t refrain
Or I’ll just end up walkin’
In the cold November rain”
Dan berbahagialah kalian berdua. Untuk saling melengkapi. Saling mengisi.
Hal yang paling membahagiakan adalah selalu menjadi bagian dari kehidupan kalian hingga detik ini. Dan semoga sampai nanti
——————————-
Percintaan kami bagai angin yang meliuk di udara. Saat pelan berembus dan ketika menjadi badai, selalu bersama pergi ke mana pun.
Ya.Ya.Ya. Aku tak seperti pohon yang langsung melupakan daun kering yang jatuh dari rantingnya setelah semusim di sayang sayang
Kita adalah sepasang hujan di bulan November
Raa
——————————
Catatan ini saya buat selepas akad nikah kedua sahabat saya Tunggul & Hikmah di Paliran Ketapang. Nanti, setiap tahun akan saya baca ulang, ulang dan ulang. Untuk megingat betapa bahagianya saya hari ini atas pernikahan mereka berdua
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *