Catatan, Life Style

Tenzing dan Batman di Kota Gotham

29 Mei 1953, tersisa dua orang mendekati puncak Gunung Everest yaitu Hilarry dan seorang pengangkut barang atau biasa disebut sherpa yang bernama Tenzing Norgay. Saat itu posisi Tenzing lebih tinggi 10 meter dibandingkan Hilarry. Dia bisa saja melangkah lebih dahulu ke puncak everest lalu menjadi orang pertama yang menaklukkan puncak Everest. Namun saat itu, Tenzing memilih bergeser ke kiri dan membiarkan Hilarry lewat dan meraih puncak Everest.

Semua media memberitakan keberhasilan Hilarry. Ribuan ucapan selamat terucap. Hingga seorang wartawan menyadari keberadaab Tenzing dan bertanya kepada Tenzing mengapa dia membiarkan Hilarry mencapai puncak, bukankah Tenzing bisa melakukan hal tersebut?

Jawaban Tenzing memukau. Ia berkata bahwa impian Hillary adalah menjadi manusia pertama yang meraih puncak Everest. Dia sudah melakukan itu berkali-kali dan gagal. Sementara Tenzing memiliki impian sendiri yaitu membantu Hillary menjadi manusia pertama yang meraih puncak Everest.

Hal serupa juga dilakukan oleh Bruce Wayne, seorang playboy, milyuner, industrialis dan filantropis. Saat masih kecil Bruce menyaksikan orangtuanya mati ditembak oleh perampok. Hal tersebut yang menjadikan ia menempa fisik dan mentalnya agar kelak dia membasmi kejahatan. Batman satu-satunya super hero yang tidak memiliki kekuatan super. Dia hanya mengandalkan fisik, otak cerdas dan kemampuan beladiri tingkat tinggi.

Ia berkelana keliling dunia mempelajari berbagai aliran beladiri dan mengasah kemampuan otak dan mentalnya. Setelah merasa cukup, ia pulang ke kota kelahirannya, Gotham. Bruce Wayne menjalani dua kehidupan yang berbeda. Menjadi laki-laki yang menyebalkan dan disisi lain dia dipuja sebagai pahlawan yang memberantas kejahatan di kota kelahirannya. Selesai menolong, dia hilang.

Dan dirimu harus meyakini dan mempercayai bahwa banyak orang yang memilih jalur senyap semacam Tenzing dan Bruce Wayne di sekitarmu.

Ibu pernah bercerita, ikhlas itu bukan dipelajari tapi harus dilakukan. “Saat malam adek makan semua makanan enak. Sate, gulai, empal. Lalu pagi-pagi mau BAB. Adek tahan atau dibuang ke toilet?,” kata ibu suatu hari ketika saya marah tidak menerima piala di cerdas cermat padahal saya merasa paling banyak menjawab pertanyaan dibandingkan anggota tim lainnya.

“Ke toilet bu. Kalo nggak nanti perutnya sakit. Kan tinggal ampasnya. Sari-sarinya sudah masuk di tubuh,” kata saya sambil menekuk wajah. “Ikhlas semacam itu. Kamu sudah mendapatkan manfaatnya. Prosesnya. Liat temenmu. Wajahnya bahagia kan karena bisa megang piala? Kamu harus ikut bahagia karena ikut membantunya. Itu cita-citanya, bukan cita-citamu,” kata ibu.

Saat itu kami pulang dan ibu menghadiahkan es krim.

Sejak itu saya memilih menjadi sunyi dan senyap

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *