Uncategorized

TENTANG SEGO KESRUT

“Intine sego kesrut”

Deni hanya garuk-garuk kepala, “Ayo wes budal. Wangkot…..”

Saya menyeringai penuh kemenangan.

Warungnya kecil. Di wilayah Desa Segobang Kecamatan Licin. Arahnya sih
menuju ke Gunung Ijen. Setelah pasar licin belok ke kiri. Jalannya?
huwikksss….. kata Deni, “Belajar lewat jembatan Sidrotul Muntaha”

Saya meringis. Perut saya sakit. Jalannya rusak parah.

“Raa… niat mangan ae sampek koyok ngene”

Saya pura-pura diam tidak mendengarkan omelan sahabat saya. Motor dia rem nya bermasalah.

Warungnya kecil. Tidak semuanya bangunan terbuat dari tembok. Di depannya ada tulisan “Warung nasi kesrut”

Yihhaaaa……. dua porsi nasi, dengan ayam goreng, sambel satu cobek
plus lalapan, dan dua mangkok jangan kesrut serta ikan wader yang masih
panas.

Hanya kami berdua di warung super kecil, dengan mbok
penjual dan suaminya di dapur yang sedang menggoreng ikan wader. Mbok
mengaku menjual sego kesrut sudha lebih dari 15 tahun.

Dari bagian belakang di puter lagu-lagu gandrung.

“Mantap yo Den…. ngene iki KFC liwat wess”

Deni menganggukkan kepala sambil melap keringat, “Pedes”

Saya menepuk-nepuuk perut. “Kenyang Den…pulang yuk”

“Sek ta Raa…. jauh-jauh kesini cuma makan ini?. Nggak mampir kemana-mana?”

Saya menggeleng, “Mau tak ajak naik ke ijen motormu bermasalah”

“Lare stress….. turun ke bawah laper lagi”

“Ini cara Iraa menikmati hidup”

Dan Deni hanya bisa geleng-geleng kepala.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *