Uncategorized

TENTANG ANITA…….

Malam hari ini,
14 Januari 2012. Nggak ada kejutan, nggk ada kado, nggk ada kue, nggk
ada liln, nggak ada sodara, nggk ada teman, dan nggk ada Dino. Semua
biasa saja”

Saya
tersenyum menerima pesan dari seorang perempuan yang bernama Anita Tri
Suci Januarti. Entah…saya sedikit mengingat. Karena saat kecil dulu saya
suka menanyakan, “Dik ita siapa nama lengkapnya?”. Dan ia akan menjawab
dengan cadel. Hei……anak perempuan kecil itu sudah menjadi perempuan
dewasa. 23 tahun mungkin….

Saya tidak begitu dekat dengan
dia secara fisik. Kami pun hanya beberapa kali bertemu. Saat masa
kanak-kanak mungkin…… Jarak kami hampir terpaut 7 tahun. Di kota Blitar.
Dia mengajak saya untuk mandi di kali yang airnya sangat dingin. Dengan
batu-batu besar. Saya masih ingat masih shubuh dia sudah membangunkan
saya dan mengajak saya berendam di Kali So…(apakah saya salah
menyebutnya?). Saya mengingatnya dia adalah anak yang sangat ceria
dengan segala kekurangannya.
Masih kecil dia selalu berkata, “Mbak ira…nanti aku di belikan kaca mata ya sama Bu De Is”.
Saya selalu mengingat kalimat-kalimat kamu. Saya juga tidak tahu apakah
ibu sudah membelikan kacamata untuk dia?. Jika belum nanti saya akan
belikan, tapi saya rasa dia sudah sanggup untuk membeli kaca mata
sendiri.


Dia beberapa kali mengunjungi saya ke Banyuwangi.
Dia waktu itu kelas  6 SD. Aku ingat karena saat itu ibu akan mengajak
dia untuk tinggal di rumah kami untuk melanjutkan sekolah SMP. Sayangnya
entah alasan apa dia kembali ke Blitar. Aku juga masih ingat saat ibu
saya membelikan dia baju muslim rok panjang yang ternyata kependekan
saat lebaran. Karena dia mempunyai tinggi di atas normal (dibandingkan
dengan saya yang hingga usia saat ini hanya setinggi 152 cm).  Ibu
sempat berkata padaku, “Apapun yang terjadi nanti, Ita adalah cucu dari
Mbah Yasin. Dia adik kamu”. Saya tidak tau apa maksud ibu berkata
padaku. Bahkan sampai detik ini pun saya masih belum bisa memaknai pesan
ibu saya kepada saya sampai ibu meninggal.

Ita jarang ada
pada album keluarga besar kami. Ya tentu saja. Dia banyak menghabiskan
masa-masa sekolah dia di Wlingi Blitar. Saya pernah tidak suka dengan
gaya dia yang menurut saya telalu liar. Berbeda dengan kami.  Setelah
dewasa akhirnya saya tau, dia tidak liar hanya cara pengajaran rumah
kami yang berbeda. Tentu saja! Ibu saya adalah guru yang mempunya banyak
aturan yang diterapkan di rumah kami. Saat kuliah saya mendapat kabar
kalau nenek dia dari pihak ibunya meninggal. Ibu saya menyuruh saya
untuk takziah ke Blitar. Saya berangkat dari Jember. Menginap hanya 2
malam. Saya menemukan Ita sebagai seorang gadis cantik yang sudah
beranjak dewasa. Kami ngbrol banyak sekali bahkan dia mengajak saya
makan di bakso langganan dia, mengajaknya ke sekolah dia dan ke salah
satu radio yang ada di Wlingi Blitar. “Aku pingin kayak Mbak
Ira. Jadi penyiar. Nanti kalau lulus SMA kira-kira aku bisa nggak ya di
terima jadi penyiar ? kan aku…..”.
Ita menggantung
kalimatnya. Saya hanya memotivasi dia bahwa dia bisa menjadi apapun yang
ia inginkan. Tapi saya sudah tidak ingat lagi kalimat apa yang saya
ucapkan untuk dia.

Saya memanggilnya Ita.  Dia adik sepupu
saya. Ibu saya sebagai anak pertama dari 5 bersaudara membuat saya
mempunyai banyak adik sepupu. Di bandingkan dengan adik-adik sepupu saya
yang lain Dik Ita memang sedikit jauh dengan saya.  Bukan ….bukan
karena saya tidak sayang dengan dia atau dia bermasalah dengan saya.
Tapi karena faktor sejarah dari keluarga kami. (saya menyebutnya
sejarah. Karena sejarah adalah sebuah pembelajaran buat kami). Setelah
dia pindah ke Jakarta dan saya juga pindah ke Jakarta kami semakin
dekat. Walaupun hanya sekedar say hello dan reunian keluarga
kecil-kecilan.

Walaupun saya pindah ke Batam, hubungan
kami semakin membaik. Kami saling bercerita. Ya….cerita dua perempuan
yang sama-sama dewasa. Kami sering bercerita rahasia-rahasia kecil masa
lalu keluarga kami. Hubungan dia dengan seorang laki-laki yang saya
menyebutnya “Dinosaurus”.  Ya…saya hanya berharap hubungan mereka berdua
segera di resmikan.

Jika dibandingkan saya, mungkin
perjalanan Dik Ita lebih panjang lebih berliku. Dan saya tidak mungkin
menceritakannya di sini. Saya tidak ingin dia menjadi seperti saya. Tapi
saya hanya berharap dia bisa survive dalam keadaan apapun. Menghadapi
masa lalu ataupun masa depan dia nanti.

“Mbak….kalo
ibu anda adalah sebuah puisi, ibu saya adalah superhero buat saya. Aku
suka sedih kalo liat ibu nangis karena anak-anaknya. Padahal ibu sering
khawartir sama anak-anaknya”

Saya menjawabnya, “Pasti ada alasannya kan dek..”

“Tapi kan nggk boleh gitu ya mbak”

Saya
tidak bisa melanjutkannya lagi.  Dada saya terasa sesak. Kamu. Aku. Ibu
kamu. Ibu saya. Selalu membawa cerita masing-masing dari masa lalu
untuk catatan untuk masa depan kita.

Dik Ita……Mbak Ira
sengaja buat catatan ini untuk kamu. Agar kamu merasa bahwa kamu tidak
sendiri. Kamu punya Mbak Ira, punya keluarga Banyuwangi. Walaupun kamu
selalu protes tidak pernah ada kamu di foto keluarga besar kita. Mbak
Ira sayang sama kamu. Walaupun mungkin kita jarang bertemu secara fisik.
Mbak Ira ingin kamu menjadi perempuan yang dewasa dan bisa bersahabat
dengan kenyataan yang ada. Menyesal dengan masa lalu hanya membuat kita
ketakutan. Berdiri di tempat yang sama tanpa pernah berani untuk
melangkah. Bukankah itu kesia-siaan?. Aku ingin, kita yaitu aku dan kamu
belajar dari kesalahan masa lalu dan tidak akan lagi mengulangnya. Kamu
adalah perempuan yang sangat cantik, sempurna apalagi kalau kamu
berjilbab sekarang.  Kamu harus terus melangkah berjalan ke depan tanpa
ada penyesalan. Jangan pernah penyesalan masa lalu dan kekurangan
membuat kamu diam tidak melangkah!!!
Banyak rahasia yang masih
belum kita ketahui. Bukankah Tuhan suka bermain rahasia dengan umat-Nya?
Rahasia Tuhan yang akan membuat kita bisa bertahan. Bukankah kita tidak
pernah tahu masa depan yang diciptakan Tuhan untuk kita?
Selamat Ulang Tahun Ya Dik…..Mbak Ira percaya kamu punya kekuatan lebih untuk terus melangkah! Ibu saya yang kamu panggil Bu De Is pernah berpesan,
  

“Raa……Saat lahir kita sendiri. 
Saat mati pun sendiri. Lalu kenapa kamu harus takut dengan kesendirian?”.

Dan
Mbak Ira berikan pesan Bu De Is kepada kamu. Kamu berada di keluarga
besar Banyuwangi yang mempunyai perempuan-perempuan yang luar biasa. Dan
kelak kamu akan masuk dalam deretan perempuan-perempuan luar biasa itu.

KAMU
ADALAH DIRI KAMU SENDIRI…..TUHAN SELALU MENCIPTAKAN PEREMPUAN SEBAGAI
MAKHLUK YANG MAMPU BERTAHAN DALAM KEADAAN APAPUN. KARENA ITULAH
ANAK-ANAK LAHIR DARI RAHIM KITA KAUM PEREMPUAN
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *