Uncategorized

TEKA TEKI

Sepagi tadi, pagi sekali saat saya bangun ada suara kucing di belakang rumah. Kali ini kucing liar berwarna kuning kemerahan.

Saya tersenyum sendiri. Tuhan itu Maha Luar Biasa. Ia telah
menggantikan kucing hitam putih yang mati beberapa hari lalu. Kucing
hitam putih yang kematiannya membuat saya sangat kehilangan dan saya
mampu menunggunya berjam-jam sampai ia benar-benar mati dan tidak ada
gerak di perutnya yang masih menggantung puting untuk susu anaknya. Menemani mendengarkan dengkuran menghadapi kematian.

Menggebu-gebu saya menceritakan kematian ini kepada sahabat saya Pak
Cik. Dia hanya bilang setiap makhluk yang bernyawa sudah membawa cerita
masing-masing. Sedangkan Mas Kisma yang berkata, “Kucing itu kalau mau
mati balik lagi ke tempat di mana ia di lahirkan Raa”. Dan saya hanya
bilang, “Keren ya Mas…. kalau manusia tau kematiannya, pasti waktu
pulang kampung nggak harus harus lebaran”.

Kematian kucing
hitam putih bukan kematian yang pertama bagi saya. Saat saya duduk di
kelas 2 SD saya mengenal kematian yang pertama. Ibu selalu memaksa saya
untuk mengunjungi makam Ayah saya menjelang puasa. Hingga akhirnya saya
terbiasa dengan sebuah kematian satu persatu. Sampai saya tidak punya
air mata. Mungkin hanya sebuah nafas berat simbol sebuah kehilangan.

2013. Usia saya tidak lagi bisa di katakan muda. Walaupun hati kecil
saya menolak jika saya di panggil Bu di depan nama saya. Dan sudah
berapa kematian? lebih dari jumlah jemari tangan kanan saya.

Saya harus kembali bernafas berat jika berdiri di tengah makam keluarga.
saya hapal satu persatu nama belasan nisan yang ada disana. Tapi saya
tidak punya kekuatan lebih untuk membersihkannya dengan dua tangan saya.
Apalagi dengan semak yang meliar. Duh Gusti…. saya hanya bisa duduk
manis di sebelah kuburan ibu dan mencabuti satu persatu rumput dan
membiarkan bunga ilalang tumbuh di atasnya. Buat saya bunga ilalang itu
keren.


****

“Dek… kalau di Makasar nggk ada nisan. Yang ada cuma bongkahan batu di atasnya”

“Lo kalau mau berdoa gimana Pak? Nanti kuburannya ilang dong

“Berdoa itu bisa di mana saja. Semua ini bumi Tuhan. Adik mau berdoa di
Banyuwangi atau di Makasar tetap saja menuju Tuhan kan? Nisan itu hanya
simbol. Bahkan bapak kalau mati tinggal di lempar ke lautan juga nggak
apa-apa.Itu kalau bapak lagi berlayar dan tugas berbulan-bulan”

Membayangkan saja saya ketakutan.

Saat bapak saya meninggal, saya protes ke ibu yang selalu memaksa saya
ke kuburan ibu. Tentu dengan alasan-alasan yang diajarkan almarhum bapak
saya.. Dengan datar, ibu saya berkata, “Untuk mengingat kematian
dek…”. Tanpa banyak bicara saya langsung saja mengambil sepeda mini
dan mengayuhnya ke makam.

****

Saat kucing hitam putih
mati, pagi sekali saya menyeret-nyeretnya menggunakan plastik hitam
den menguburkannya di tepi Pantai Cacalan. Saya berharap dia bisa
mendampingi Neptunus dan dia tidak kesepian seperti saya. Tentu di
istana laut akan lebih ramai dibandingkan saat dia tinggal di rumah
sukowidi. Di sana ada Neptunus, Patrick, Spongebo, Sandy, Mrs Crab dan
semuanya.

Tuhan selalu mengirim pengganti kembali bagi yang
telah pergi. Termasuk kucing kuning kemerahan yang saat ini tidur di
atas jok motor saya.

“Lelaki adalah teka-teki yang sulit di
jawab. Perempuan adalah teka-teki yang tidak masuk akal dan kematian
adalah teka-teki yang tidak ada jawabannya”

~ Finish

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *