Uncategorized

TEATER BANGSAWAN PANGLIMA AYAM BERKOKOK: “OVJ” MELAYU DI PULAU BATAM

Hampir satu bulan yang lalu seharusnya saya menulis
catatan ini. Sepulang dari Kampung Tua Kampung Tua Batu Besar, 8 Februai 2011
lalu.
lampu pementasan
Ya….saya menemukan sebuah teater rakyat Melayu yang
sudah bertahun-tahun tidak di mainkan. Dan tahun ini di galakkan kembali oleh
Lembaga Adat Melayu Kota Batam. Di jadwalkan di tahun 2012 ini akan di
pentaskan setiap bulan purnama. Kampung Tua Batu Besar adalah pementasan kedua.
Sayangnya saya tidak datang di pementasan pertama. Tapi tidak apalah…..yang
terpenting saya bisa menyaksikan sebuah pertunjukan rakyat yang bertahun-tahun
tersimpan tanpa pernah dipentaskan kembali. 
Dari sebuah artikel yang saya baca
Teater bangsawan merupakan perintis kepada
persembahan drama moden. Namun, ia tidak melibatkan pengunaan skrip berbanding
drama moden kini. Sebagai seorang pelakon, mereka hanya perlu menguasai jalan
cerita sahaja.
Para pelakon bangsawan hanya menuturkan
dialog-dialog secara spontan dan ada kalanya berimprovisasi berdasarkan jalan
cerita yang diberikan pengarah. Apa yang penting dalam pementasan bangsawan
adalah keaslian cerita yang dilakonkan. Kebijaksanaan pelakon berimprovisasi
dengan dialog-dialog sendiri merupakan tarikan utama penonton untuk menonton
pementasan tersebut, selain pelakon yang kacak dan cantik. Sesuatu lakonan
bangsawan dianggap lengkap apabila terdapat unsur lucu dan melodrama selain
daripada unsur-unsur kebenaran sebagai pokok cerita yang bernada serius.
Cerita bangsawan merupakan satu persembahan drama
tradisi yang berkisar tentang kisah-kisah raja-raja yang melibatkan alam
kayangan dan nyata, umpamanya “Jula Juli Bintang Tujuh”. Watak-watak dalam
bangsawan biasanya terdiri daripada pahlawan, putera kacak dan puteri yang
cantik, hamba, jin dan raksaksa.
Nyat Kadir, Ketua Lembaga Adat Melayu Kota Batam

Pak Ucu
Teater Rakyat

Panglima Ayam Berkokok


“Sang Sultan”

Usia Senja tetap berkarya

Sang Sultan
Pementasan sederhana tapi luar biasa
Dengan Para Pejabat dan Artis Ibu kota dan saya sama sekali tidak mengenal mereka

Alat Musik Melayu

Kolaborasi sempurna

Tanpa stage manager

Tari Persembahan
Sehubungan itu, persembahan melibatkan pengunaan
panggung, teknik lampu mengikut cara barat dan juga menggunakan set saiklorama.
Pada kebiasaannya, tirai-tirai mengandungi tiga hingga tujuh set yang berbeda
seperti tirai istana, hutan, laut, awan, kampung dan gua. Babak dalam bangsawan
juga tidak kurang daripada 20 dan mungkin lebih. Satu yang sangat menarik
tentang bangsawan adalah unsur tasmat yang diselitkan semasa pementasan
bangsawan diadakan, umpamanya bunga api. Ia menjadikan pementasan bangsawan
tidak membosankan dan tidak hambar. Selain itu, ‘extra turn’ atau selingan
tambahan juga terdapat dalam pementasan bangsawan yang berfungsi sebagai penukar
babak supaya pelakon boleh bersedia untuk babak berikutnya selain merupakan
unsur hiburan kepada penonton.
Pementasan Bangsawan di Kampung Tua Batu Besar
berjudul, “Panglima Ayam Berkokok”.
Ceritanya sederhana, tentang Mahmud yang berhasil
mengalahkan seorang Panglima dan berhasil mengambil gelar Panglima Ayam Berkokok.
Tapi karena kedzaliman sebagai seorang pemimpin, akhirnya dia berhasil di
kalahkan dengan gurunya sendiri. 
Anak Muda….
Saya agak susah mengikuti. Tentu saja alasan nya
sederhana. Kendala bahasa. Bahasa Melayu yang digunakan benar-benar Melayu asli,
yang membuat kening saya berkerut karena harus loading lebih lama. Syukurlah….saya
mempunyai sahabat-sahabat yang luar biasa yang bisa mengartikan  beberapa bahasa melayu yang tidak saya
mengerti. 
Pementasan sangat sederhana, jika di bandingkan
dengan kesenan Janger di Banyuwangi. Cerita sederhana, pakaian sederhana,
dengan setting panggung yang sangat sederhana. Yang khas adalah pantun yang
selalu di ucapkan setiap adegan.  
Saya
baca dari sini,
Para Pemain Bangsawan
Wayang Bangsawan atau Teater Bangsawan adalah teater rakyat tradisional yang hidup di Kepulauan Riau dan Kepulauan Lingga, Indonesia, serta berkembang pula di kawasan Malaysia dan Brunei Darussalam. Teater ini dapat dimainkan semua lapisan
masyarakat, dari nelayan hingga guru.
Teater ini adalah
pertunjukan stambul atau komedi yang menggabungkan musik, drama dan tari serta mengangkat kisah-kisah di
lingkungan istana. Cerita-cerita yang
sering diangkat adalah kisah tentang Hang Tuah Lima Bersaudara, Sultan
Mahmud Mangkat Dijulang
dan Laksamana Bintan.
Menurut sejarah, teater ini
dikembangkan oleh masyarakat Persia
atau Parsi yang pindah ke India
karena pertentangan ideologi di tanah airnya. Teater ini lalu berkembang
di Pulau Penang, Malaysia, dan menyebar pula ke Indonesia,
termasuk Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan, tapi
teater ini lebih lekat dengan kebudayaan Riau.
Di Malaysia, teater
semula ini dinamakan Wayang Parsi. Lalu, kelompok wayang asal Persia ini pulang
ke India dan menjual peralatan pertunjukan kepada seorang Malaysia, Mohamad
Pushi. Mohamad menganti nama teater itu menjadi Teater Bangsawan.

Bang Umar
Sutamat Arybowo, peneliti Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia yang mendalami tentang “bangsawan” sejak tahun 1990
hingga sekarang berpendapat serupa. “Bangsawan” merupakan pertunjukan yang
telah komersil lantaran dimainkan di tempat umum seperti pasar dan penonton
membayar karcis.
Dia menduga teater tersebut sampai di kawasan
Lingga tahun 1870-an. “Waktu itu harga kopra naik dan perekonomian sangat baik
sehingga para pedagang membutuhkan hiburan. Kesenian menjadi berkembang,”
katanya.
Di Daik, Lingga, perkembangan bangsawan tak lepas
dari kehidupan istana. “Tadinya teater itu dimainkan di dekat istana untuk
memberikan pendidikan tentang adat istiadat kerajaan sekaligus menjadi
legitimasi kekuasaan,” kata Sutamat.
Namun, ada pula yang berpendapat bangsawan
mengalami peralihan dari sakral ke profan. “Tadinya untuk kepentingan ritual
seperti peringatan hari jadi kerajaan dan keagamaan. Setelah itu, beralih
menjadi hiburan,” katanya.
Lantas, muncullah cerita khas Daik, Lingga,
seperti Hulubalang Daik, Panglima Ayam Berkokok, Daeng Marewah mengambil
setting cerita pada waktu kerajaan Kerajaan Riau-Lingga berdiri.
“Bangsawan” tentu saja tidak hanya sekadar
hiburan yang menyenangkan, tetapi juga dapat menjadi salah satu jendela untuk
memahami Melayu.
Pementasan
Bangsawan malam itu benar-benar melekat di otak saya. Saya hanya membayangkan
betapa pada jamannya teater Bangsawan menjadi sebuah pementasan teater yang
luar biasa. Saya tidak peduli siapa yang hadir malam itu. Ada beberapa pejabat,
beberapa angota Dewan dan kelihatannya ada beberapa artis ibu kota yang juga
datang. Saya tidak tahu apa alasan pasti mereka untuk datang. Entahlah……! Dan saya
tidak ingin tahu dan tidak mau tahu
Menonton dengan lesahan

Yang pasti saya
bahagia malam itu, bisa menjadi bagian dari sebuah proses pembangkitan kembali
sebuah seni yang sudah hamper terlupakan. Walau saya bukan siapa-siapa. Saya
hanya seorang perempuan yang duduk manis di depan panggung dengan sebuah
kamera. Dan saya ingat saat itu tepat jam 12 malam. Saya melihat ke atas
rembulan sempurna. Dengan daun pohon kelapa yang bergerak perlahan. 
Ah kelak, saya
berjanji pada diri saya akan mengajarkan anak-anak saya tentang bagaimana
melestarikan sebuah tradisi. Tidak hanya tradisi dan seni Banyuwangi, tapi juga
Melayu. Dan kelak saya akan mengatakan pada anakku, bahwa dia harus bangga di
besarkan dengan dua budaya. Budaya Banyuwangi dan budaya Melayu. Tapi kapan? Entahlah…..:
Dear, Bulan Sempurna di tepi pantai Kampung Tua Batu Besar malam itu. dan ada
wajahmu yang membayang di sana.
Saya dan para penari
“Banyuwangi” di kota Batam
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *