Uncategorized

TEATER BANGSAWAN “AMOK HANG JEBAT” DI KAMPUNG TUA TANJUNG UMA

Sutradara Nyat Kadir Ketua LAM Batam
: antara cinta, negara  dan persaudaraan
Ini kali kedua saya datang ke Pentas Bulan Mengambang. Hhhmm…..saya
masih berpikir siapa yang mengadakan? Lembaga Adat Melayu, Pemko Batam atau EO
Batam Bisa? Entahlah…tapi saya suka. Sebuah kesenian yang patut di lestarikan.
Dan sekali lagi saya datang bukan sebagai siapa-siapa. Hanya seorang perempuan
yang nekad datang seorang diri. “Maksa banget sih datang”. Saya tertawa……kamu
tidak bisa merasakan bagaimana indahnya menikmati kesenian dan kebudayaan. Ada
kepuasan batin yang tidak bisa diungkapkan, walaupun kepala pegal karena
panggung lebih tinggi dari pada saya.
Melayu dan Hang Tuah tidak bisa di pisahkan. Seperti
layaknya Majapahit dan Gajah Mada.
Dalam zaman kemakmuran Kesultanan
Malaka, adalah Hang Tuah, seorang laksamana yang amat termasyhur. Ia
berasal dari kalangan rendah, dan dilahirkan dalam sebuah gubug reyot. Tetapi
karena keberaniannya, ia amat dikasihi dan akhirnya pangkatnya semakin naik.
Maka jadilah ia seorang duta dan mewakili negeranya dalam segala hal.

Hang Tuah memiliki beberapa sahabat karib: Hang
Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu.
Ada yang berpendapat bahwa kedua tokoh terakhir ini sebenarnya hanya satu orang
yang sama saja. Sebab huruf
Jawi wau;
“ﻭ” dan ra;
“ﺭ” bentuknya
sangat mirip. Tetapi yang lain menolak dan mengatakan bahwa kelima kawan ini
adalah versi Melayu daripada paraPandawa lima,
tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata.
Pementasan itu menceritakan Hang Tuah bersama
saudara-saudaranya Hang
Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu
yang diangkat menjadi hulubalang kerajaan Malaka karena dianggap berjasa
berhasil mengalahkan para Lanun. Hang Tuah mengawal Sultan Malaka ke Majapahit
untuk melamar Gusti Raden Mas Ayu. Di Majapahit, Hang Tuah berhasil mengalahkan
salah satu  pendekar dari Majapahit
sehingga mendapatkan sebuah keris sakti yang 
diberi nama Keris Tameng Sari. Kehebatan Hang Tuah menimbulkan keirian
diantara para pembesar  kerajaan,
terutama Patih Kamawijaya,  tangan kanan
Sultan Malaka

Pada saat yang bersamaan datang lah Melur kekasih Hang Tuah
yang berasal dari Gunung Ledang. Akan tetapi, oleh Sultan  Malaka, Melur dijadikan selir. Akhirnya, Hang
Tuah di hasut  untuk menemui Melur,
padahal hal itu dilarang. Raja murka saat tahu Hang Tuah menemui Melur yang
akan di jadikan selirnya, hingga akhirnya menyuruh Datuk Bendahara membunuh
Hang Tuah.  Datuk Bendara akhirnya
membunuh Hang Tuah dan kemudian menyerahkan keris Tameng Sari ke Sultan. Karena
posisi hulubalang kosong, maka Sultan melantik Hang Jebat dan menyerahkan keris
Tameng Sari. Saat mendengar Hang Tuah mati di bunuh, maka Hang Jebat marah dan
melakukan makar dan membuat keributan di istana.
Dan ternyata Hang Jebat kembali muncul. Dia tidak bunuh.
Akhirnya Hang Tuah kembali dipanggil oleh Sultan untuk menyelesaikan makar Hang
Jebat.  Sebagai seorang yang mengabdi
pada negaranya, Hang Tuah melaksanakan titah sang Sultan. Walaupun  Hang Tuah tahu, Hang Jebat membuat kekacauan
karena dia marah saudaranya di bunuh. Alhasil…….Hang Jebat mati di tangan Hang
Tuah. Ironis…….
Saya sepertinya tidak sepakat! Ingin protes……tidak adil!
“Ini cerita Nda…..Mau tidak mau kita harus mau”. Saat saya
protes tentang jalan cerita nya.
Saya menghela nafas. Selalu dalam sebuah cerita tidak lepas
dari pengkhianatan, nafsu, perempuan dan juga sebuah kesetian. Kesetian Hang
Tuah kepada Kerajaan Malaka, kesetiaan Melur kepada Hang Tuah, kesetian Hang
Jebat kepada saudaranya Hang Tuah. Pengkhianatan yang dilakukan Patih Kamawijaya.
Dan yang membuat saya tidak habis pikir adalah ternyata
Melayu juga “berkonflik” dengan Majapahit. Bahkan senjata Tameng Sari milik
Hang Tuah juga berasal dari Majapahit!!
Tapi yang pasti saya mengakhir tontonan  ini dengan sebuah kebanggaannya. Kebanggaan
saya kepada seniman-seniman Melayu. Kebanggaan saya kepada teater Bangsawan
yang masih bisa bertahan. Dan kebanggan kepada kamu yang selalu mensuport dan
mengajarkan banyak hal kepada ku. Terimakasih sayang……..!
Malam itu bulan mengambang di Tanjung Uma. Senyum ada dan
membuat ku bertahan di Pulau Batam. Sayang, Kau tak menghantar ku malam itu…….

“Amok Hang Jebat……….” Saya belajar tentang pengorbanan……….
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *