Uncategorized

TANJUNG UMA : DILEMA ANTARA CAGAR BUDAYA DAN PEMBANGUNAN KOTA

Tanjung Uma. Saya mengenalnya mungkin sekitar 5 tahun yang
lalu, atau lebih. Saya menemukannya secara tidak sengaja saat searching di google
saat masih kuliah di Jawa Timursaat mencari referensi tentang budaya melayu.
Ya…mengenalnya hanya sebatas nama. Tanjung Uma. Serasa aneh dalam pengucapannya
saya. Saya mengetahuinya sebatas dia adalah salah satu kampung tua di Batam.
Saat itu saya berharap bahwa saya bisa datang sekedar ingin tau seperti apa itu
Tanjung Uma. Tapi saat itu saya berpikir, Batam? Di bagian perbatasan negara Indonesia.
Sesuatu yang tidak mungkin. Tapi Tuhan mendengar doa saya saat di warnet kecil
depan kostan saya di Jalan Sumatra Kabupaten Jember. Doa seorang mahasiswa yang
mempunya mimpi untuk berkelling Indonesia.

 (bayangan saya tentang Tanjung Uma gambar diambil di sini)

Setahun yang lalu, “Kita pindah ke Batam”. Hah…..tidak
mungkin!. Terbersit langsung nama kampung tua itu. Tanjung Uma!! Walaupun berat
hati akhirnya saya bisa bertahan hingga detik ini. Jejak pertama kali saya di Batam
adalah Kampung Vietnam
di pulau Galang. Tentu dengan batuan referensi dari internet. Sedangkan Tanjung
Uma. Blank!!!! Saya hanya sampai di sebuah bukit yang kelak saya tahu itu bernama
Bukit Semocong.  Dataran tinggi, membuat
bisa melihat Batam dengan seribu lampu di malam hari. Tapi tetap saja otak saya
mengatakan. Ini bukan Tanjung Uma. Bukan sebuah tempat yang saya gambarkan
dalam pikiran saya 5 tahun yang lalu. Tanjung Uma yang saya tahu adalah Kampung
tua nelayan yang kental dengan budaya melayu. Bukan café-café yang bederet
sepanjang jalan di dataran tinggi menjual bandrek yang mengingatkan saya pada
bukit Rembangan di kota
Jember. 
Sekian bulan akhirnya saya mengenal Tanjung Uma. Awalnya
adalah Bukit Semocong. Di bandingkan tempat-tempat yang pernah saya singgahi, keadaan
bukit Semocong dalam ukuran standart. Hanyalah bukit dipenuhi dengan banyak
sampah dan nyamuk. Tapi entah kenapa saya nyaman disana. Mengingatkan saya pada
sebuah bukit di masa lalu. Bedanya disini penuh dengan ilalang-ilalang liar.
Apalagi saat senja. Saya bisa melihat matahari terbenam. Dan saya jatuh cinta
pada bukit itu sejak senja itu saat berpadu dengan dengan hujan dan ilalang
serta senyuman.  Seorang mengatakan
padaku. “Diujung matahari terbenam disanalah Tanjung Uma”. Saya bisa
menghabiskan berjam-jam di bukit ini. Mulai matahari masih utuh hingga ia
hilang digantikan bulan. Jika kamu kehilangan saya, cobalah cari saya di bukit
Semocong saat senja. Karena saya ada disana. Apalagi jika saya sedang
merindukan kamu, dan saat dalam keadaan terpuruk. Bukit semocong adalah jawaban
terbaik saya. Saya tidak peduli saat orang melihat aneh kepada saya, seorang
wanita berjilbab yang tetap duduk manis di atas bukit di antara ilalang saat
adzan Magrib berkumandang. Bukan hanya sendiri. Saya juga sering menghabiskan
waktu saya bersama sahabat-sahabat kepompong saya disana.
Sejak saat itu. Saya semakin sering mengunjungi Tanjung Uma,
mulai sekedar makan masakan melayu yang ada di Kampung Agas Tanjung Uma,
ataupun sekedar menyusuri jalan di tengah pasar saat Bulan Ramdhan. Tapi semua
itu masih belum membuat pertanyaan saya tentang Tanjung Uma sebagai Kampung tua
terjawab. Hingga pada suatu hari…..
“Mbak suruh ke Tanjung Uma….undangan Aqiqah”
Ini bukan pertma kali saya datang ke Tanjung Uma.
Saya berangkat sore itu. Dan bersama sahabat saya firman,
kami melarikan diri ditengah-tengah acara. “Mbak..ada tempat photo bagus”.
Melewati jalan-jalan sempit dan akhirnya saya sampai ke
sebuah pelatarn. Yang….pelataran yang sudah terbuat dari beton. Ya….ini yang
selama ini ada dalam pikiran dan mimpi saya. Selama 1 tahun di Batam, baru saya
menemukan Tanjung Uma yang sebenarnya.
Jujur saya terhipnotis. Saya seakan kembali ke 5 tahun lalu
saat saya masih duduk di warnet dan menemukan kata “Tanjung Uma”. Dan mimpi
saya terwujud. Tuhan….Kau sangat mengerti inginku.
5 tahun lalu saya membayangkan Tanjug Uma itu adalah sebuah
kampung nelayan dengan rumah-rumah kayu di atas laut (yang kemudian ini saya
tau disebut pelataran), dengan perahu-perahu khasnya, alat-alat penangkap
ikan.  Dan hal itu masih saya temukan
saat ini, walaupun pelataran itu sudah berubah menjadi beton, dan lautnya sudah
hitam legam karena tercemar. Dan di seberang sudah ada bangunan hotel yang berbentuk
kapal pesiar. Kalau boleh saya berkata, saya tidak suka dengan keberadaan hotel
berbintang itu. Saat saya melihatnya, kapal itu seakan siap untuk menabrak
kampung nelayan Tanjung Uma. Menghilangkannya dari peradaban kota Batam. Tidak bisa!
Pelantar itu sendiri berada di RT 05 RW 05 Tanjung Uma sudah
diajukan sejak tahun 2006, dan baru dibangun pada tahun 2010 dengan anggaran 3
miliar rupiah dengan panjang 300 meter. Pelantar beton itu menggantikan
pelantar kayu.. Sebagai salah satu pelabuhan, pelantar ini dianggap penting
sebagai akses pelayaran yang sering disinggahi. Dan harapan sederhana agar
pelantaran tersebut bisa meningkatkan perekonomian masyarakat tanjung uma.
Sahabat saya mengatakan, “Dulu pelataran ini terbuat dari
kayu mbak….saya harus nyebrang naik pompong bahkan saat jam 12 malam”.
Tanjung Uma, sebuah kampung nelayan tertua di Kota Batam.
Disini saya menemukan pemandangan-pemandangan khas kampung nelayan. Sebagai
kampung tua, oleh pemerintah kota
Batam, Tanjung Uma telah dijadikan sebagai cagar budaya. Istilah kampung tua muncul
sebelum adanya pengembangan Otorita Batam. (jangan pernah tanya saya perbedaan
antara Pemko Batam dan Otorita Batam. Karena keduanya sama-sama mengklaim
sebagai “penguasa” Batam). Kampung tua adalah sebutan untuk kampung nelayan di kota Batam. Pembangunan
“gila-gilaan” yang di lakukan oleh “penguasa”, membuat Pemko Batam
menginventaris keberadaan kampung nelayan, sehingga muncul istilah kampung tua.
Hal tersebut agar kampung tua tidak menjadi “korban” penggusuran rencana
pengembangan otorita Batam.
Dari data yang saya dapatkan, pada tahun 2007 penduduk di
Tanjung Uma mencapai 12 ribu, dan saya yakin sekarang akan bertambah banyak.
Dari berbagi etnis yang tinggal di Tanjung Uma, etnis bugis yang mendominasi.
Etnis Bugis…..apakah ini yang mendasari mimpi saya tentang Tanjung Uma? Bukan
kah darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah murni darah bugis? Apakah
ayahku dulu pernah singgah disini? Atau mungkin saudara-sauudara saya dari Ayah
yang berasal dari bugis yang hingga kini tidak pernah saya temui? Hingga usia
saya mendekati angka 3. Saya suka bermain-main dengan indera ke enam saya!
Berbicara Tanjung Uma adalah berbicara tentang melayu.
Hingga saat ini mereka masih mewarisi budaya asli Batam dalam keseharian
mereka. Logat-logat melayu dalam perbincangan sehari-hari mereka berusaha saya
serap walaupun saya harus  mati-matian
memahaminya hingga kening saya berkerut. Bahkan seorang warga keturunan dengan
santainya berbahasa melayu serta berpantun saat saya membeli minuman ringan.
Ckckckckckckckc…….bahasa melayu dan pantun saya temukan disetiap sudut Tanjung
Uma. Hal ini sangat kontras dengan keadaan Batam yang heterogoen dan dianggap
sebagai “modern”. Jadi ingat sebuah lagu melayu, “ Takkan hilang Melayu di
Bumi”. Logat Melayu warga Tanjung Uma juga masih sangat kental dan dipergunakan
sehari-hari tanpa terbatas asal daerah semua warganya.  Kelurahan Tanjung Uma terbagi atas 40 Rukun
Tetangga (RT) yang tergabung dalam sembilan Rukun Warga (RW). Adapun nama-nama
kampungnya antara lain Kampung Agas, Tanjung Tritip, Tanjung Uma, Kampung
Nelayan dan Taman Kota Mas.
#memilih aku akan tingggal dimana ya#
Saya terdiam cukup lama di pelataran Tanjung Uma.
Otak saya berpikir. 3 Miliar untuk pembangunan pelataran
Tanjung Uma, dengan dasar awal meningkatkan perekonomian penduduk. Memasukkan
Tanjung Uma dalam inventaris kampung tua dan cagar budaya oleh Pemerintah Kota
Batam.  Lalu apa yang di dapatkan oleh
warga Tanjung Uma? Mereka semakin terdesak oleh pembangunan. Rumah-rumah kayu
mereka akan menjadi sejarah. Laut mereka yang konon dulu bening sekarang
menjadi hitam legam terkontaminasi sampah abad modern. 
Saya ingat saat kamu menceritakan kepada saya. “dulu kami
sering menangkap ikan, atau mengantar para turis untuk menikmati keindahan
pelabuhan tradisional Tanjung Uma”. Saya masih ingat. Dan saat saya memaksa
sejak tahun berapa kamu tinggal di Tanjung Uma. Kamu hanya diam dengan alasan
saya bukan orang yang pantas menjelaskannya. Ah…saya tau pasti kamu juga merasa
perbedaan antara Tanjung Uma dulu dan sekarang. Atau kau juga merasa kehilangan
Tanjung Uma mu?
Pertanyaan saya apakah perekonomian Tanjung Uma benar-benar
meningkat?. Saya diam. Saya miris saat saya menyadari perahu pompong tertambat
tanpa penumpang bukan di atas air laut yang bening. Tapi hitam legam.
Sampah-sampah menyerobot masuk ke bawah rumah panggung. Perempuan-perempuan
nelayan yang duduk bergerombol di tepi pelataran. Dan saya yakin, jumlah ikan
yang ditangkap oleh suami mereka akan berkurang melihat “rusak” nya alam di
pelabuhan tradisional ini.
Tanjung Uma menjadi sebuah bukti keegoisan para penguasa.
Mereka mengagung-agungkan Tanjung Uma sebagai kampung nelayan. Sebagai kampung
tua yang menjadi cagar budaya melayu yang ada di Batam. Dengan sebuah gapura
besar berwarna kuning hijau yang memudar. Tapi apa pernah mereka melihat ke
dalam. Apa yang di butuhkan oleh warga Tanjung Uma? Apa mereka dianggap ada? Saya
hanyalah perempuan biasa yang tidak mempunyai kapasitas apa-apa di Tanjung Uma.
Tapi saya melihat Tanjung Uma mempunya sebuah potensi yang cukup besar. Bukan
hanya sebagai cagar budaya melayu, tapi potensi wisata sejarah. Tanjung Uma
memiliki sumber daya manusia yang cukup banyak, yang bisa diberdayakan. Mempunyai
komunitas-komunitas seni dan budaya yang jika diberdayakan menjadi asset yang
luar biasa. Tanjung Uma mempunyai sejarah yang sangat spektakuler dalam sejarah
Batam.
Tanjung Uma hanya menjadi korban lips service bagi dunia
politik. Karena mempunyai jumlah warga yang nilainya cukup fantastis, dan
menguasai Tanjung Uma berarti bisa mendulang suara cukup banyak. Menjadikan
Tanjung Uma sebagai kantong-kantong politik mereka. Janji utuk  membangun Tanjung Uma? Membangun yang mana?
Menutup semua menjadi satu pelataran luas hingga keseberang ? hingga tidak
perlu lagi perahu pompong? Hingga tidak lagi rumah-rumah kayu? Tidak lagi ada
jaring-jaring nelayan? Tidak ada lagi logat melayu dan berubah menjadi istilah
loe gue? Tidak ada lagi kias pantun dan berubah menjadi musik dangdut dengan
pakaian erotis! Muda mudi tidak lagi mengenal musik kompang tapi lebih mengenal
club malam yang berada di seberang rumah mereka. Pembangunan keblinger……..
Seharusnya tidak merubah Tanjung Uma. Biarlah Tanjung Uma
tetap menjadi sebuah kampung nelayan tua dengan khasanahnya. Pemerintah hanya
perlu membina. Mendampingi. Memberdayakanya. Menjaganya. Tetap menjadi sebuah
kampung sebagai cagar budaya.
Saya akhirnya membayangkan kalau seandainya Tanjung Uma
seperti halnya kampung di Suku Baduy atau mungkin suku Samin?. Tetap bertahan
dengan adat budayanya. Menjunjung ke arifan budaya lokal. Ah mana mungkin para
pejabat di Batam berpikir sejauh itu untuk Tanjung Uma. Sedangkan mengurusi
sampah saja mereka saling menyalahkan!
Ya….Tanjung Uma adalah sebuah dilema antara cagar budaya dan
pembangunan kota.
Ketika saya akan menyelesesaikan. Saya baru sadar saya masih
belum tau mengapa disebut Tanjung Uma. Sedangkan tidak ada satu pun yang bisa
menjelaskan kepada saya apa arti Tanjung Uma. Saya berusaha mencarinya di
internet. Nihil……
Tanjung sendiri berarti daratan yang menjorok ke laut, atau
daratan yang dikelilingi oleh laut di ketiga sisinya. Sedangkan Uma sendiri
dalam Ibrani berarti adalah perempuan atau Ibu. Sedangkan dalam bahasa Mentawai
artinya adalah Rumah. Perempuan, ibu dan Rumah. Tiga kata yang dapat disimpulkan
sebagai sebuah ketenangan. Sekarang siapa yang tidak tenang saat kita berada di
dekat ibu kita? Di rumah kita.
Bukan sebuah kesalahan kan
jika saya mengartikan bahwa Tanjung Uma adalah sebuah daratan yang memberikan
kita ketenangan? Ibu dari kota
Batam. Rumah dari Kota Batam. Pusat dari kebudayaan melayu Batam yang semakin
terlupakan.
Saya akhiri catatan saya tentang Tanjung Uma dengan sebuah
pertanyaan besar bagi saya, “Apa yang bisa kamu lakukan untuk Tanjung Uma Raa?
Kampung tua yan sudah kamu mimpikan sejak jaman kamu kuliah dulu”
Saya sempat sharing ke teman saya di Jawa. “Kamu pasti bisa
Raa! Anggap Tanjung Uma adalah Banyuwangi kedua kamu. Konsep kamu di Banyuwangi
bisa kamu terapkan di Tanjung Uma”
Saya menggelengkan kepala. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya
seorang perempuan yang mempunyai mimpi dan singgah di Tanjung Uma. Ah…andaikan
ada seseorang yang mengatakan, “ kita akan buat Tanjung Uma bukan hanya menjadi
sebuah sejarah untuk anak-anak kita, tapi tempat tinggal anak-anak kita nanti”
Saya hanya bisa menulis dan menulis. Saya hanya ingin
mengatakan kepada Indonesia
bahkan pada dunia. Bahwa ada sebuah kampung tua yang perlu diselamatkan. Yaitu
Tanjung Uma.
Dan inilah jawaban saya mengapa saya sangat mencintai Tanjung
Uma seperti yang selalu ditanyakan mereka yang ada di sekitar saya.  (1) mimpi jaman kuliah saya untuk datang ke
Tanjung Uma dari sebuah searching di Internet (2) Saya bermain-main dengan
indera ke enam saya. Bahwa saya percaya dan yakin kakek nenek atau nenek moyang
saya dari suku bugis pasti pernah tinggal di Tanjung Uma, walaupun saya sampai
detik ini tidak pernah menginjak tanah Bugis di Makassar sana dan ke (3) karena
saya berada di Batam dan saya bekerja di sebuah radio yang mengangkat budaya
Melayu. Serta alasan yang harus saya sembunyikan karena alasan tersebut adalah
alasan yang tidak masuk akal dan tidak masuk secara nalar. Konspirasi!
Kalau bukan kita siapa lagi? Karena saya percaya Tanjung Uma
tidak akan menjadi cerita dongeng untuk anak-anakku kelak. “Melayu takkan Hilang
di bumi”.
Saya jadi ingat perjuangan teman-teman Koseba, komunitas
Sejarah Banyuwangi untuk mengumpulkan sejarah-sejarah Banyuwangi yang tidak
terlacak. Menjadikan satu dalam kumpulan tulisan. Tapi apakah saya bisa? Siapa
yang akan dukung saya disini? Karena saya adalah perempuan jawa bugis yang
terdampar di Batam yang mulai mencintai budaya Melayu. Dan sendiri!!
Entahlah….mimpi saya kembali menggila. 
 My dear
: Saya mencintaimu seperti saya mencintai Batam dan Banyuwangi
Pagi ini saya ingin berbisik padamu, Melayu Takkan Hilang di
Bumi!
Finish!! menutup tulisan dengan doa semoga saya bisa berguna untuk Tanjung Uma, Melayu dan Batam! Paling tidak tulisan saya di baca oleh dunia.
Tanjung Uma, Sebuah dilema antara Cagar Budaya dan
pembangunan kota
 *maaf….karena saya tidak membawa kamera sendiri! jadi saya terlalu narsis dengan gambar saya. 
   ya…seperti seorang bocah mendapatkan mainan baru. My Lovely Tanjung Uma
Catatan ini aku persembahkan pada Ibuku yang mengajarkan aku untuk menghargai sejarah
Ayahku yang menciptakan aku sebagai perempuan yang harus belajar
Pada Banyuwangiku, Pada Batamku, Pada Melayuku
Pada semua yang peduli tentang warisan sejarah Indonesia

Pada Tanjung Uma, yang mengajarkanku bertahan di antara “kemajuan”
Padamu My Dear, yang mengajarkanku bagaimana aku harus bersabar!
Tagged

4 thoughts on “TANJUNG UMA : DILEMA ANTARA CAGAR BUDAYA DAN PEMBANGUNAN KOTA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *