Catatan

Taman Sritanjung

Saya menulis ini sambil mengenang Taman Sritanjung. Entah kenapa beberapa bulan terakhir ini saya lebih suka menghabiskan waktu di taman Sritanjung. Entah sekedar menikmati kopi, jus barang 15 menit atau berjam-jam. Sendiri atau dengan kawan baik saya.

Seketika saya merasa nyaman melihat anak-anak kecil yang berlarian di sepanjang jalan. Serasa mereka adalah saya.

Ketika di awal tahun 80-an. Saya juga selalu menghabiskan waktu bersama ibu, ayah dan kakak saya. Naik bukit buatan. Bermain bola di bawah pohon bringin besar yang katanya angker. Memberi makan ikan mas di kolam-kolam kecil. Belajar berjalan di rumput yang tebal. Atau sekedar menghabiskan makanan yang dimasak dan dibawa ibu di rumah. Konon katanya, Iraa kecil hanya akan menghabiskan makanan sambil berlari-lari dan bermain. Bakat dolan sudah ada sejak masih bayi

Ketika saya sudah sekolah, bukan lagi sekedar makan makanan yang dibawa oleh ibu. Tapi kami selalu makan di warung soto Pak Niti di timur jalan. Satu meja dengan 4 kursi untuk Bapak, Ibu, Mas Nurul dan saya. Kebiasaan saya selalu memilih duduk di sebelah ibu dan berhadapan langsung dengan Bapak dan sebelahnya adalah Mas Nurul.

“Biar adek bisa liat wajah bapak. Kan adek selalu kangen sama bapak”

Dulu, sebulan sekali. Jika Bapak pulang dari Bali.

Setelah Bapak meninggal, Taman Sritanjung hanya menjadi sebuah kenangan. Bisa dikatakan semacam di hapus dalam kehidupan keluarga kami. Selepas saya dewasa, akhirnya saya sering mengajak ibu di sela waktu kepulangan saya ke Banyuwangi untuk menghabiskan senja di Taman Sritanjung.

“Dek…. liat. Banyak burung di pohon itu”
Saya menganguk-angguk, “Nggak berubah ya Bu. Sejak adek kecil”

“Dek …. seperti burung-burung itu. Mereka selalu pulang ke rumahnya. Dan kamu juga harus pulang. Rumahmu Banyuwangi”

Dan kami akan ngbrol apa saja seperti bukan antara ibu dan anak, tapi seperti dua perempuan dewasa yang saling membutuhkan dan mengerti.

Taman Sritanjung tidak berubah namanya sejak 30 tahun yang lalu. Lebih bahkan. Tapi buat saya Taman Sritanjung bagi saya adalah sebuat kotak pandora yang menyimpan kenang masa kecil saya.

Iya… saya yang “pernah” mempunyai keluarga dan menyimpan kenangan itu diam diam disana.

Pohon beringin yang pernah meranggas sudah tidak ada. Pohon yang berbeda dengan tanaman lain di sekitarnya. Karena di bawahnya dulu, saat saya masih SD saya pernah menggali tanah dan menyimpan surat rindu pada bapak saya di surga.

Selamat pagi Bu. Kamu selalu cantik setiap hari

Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *