Uncategorized

SURAT PADA “Y”

“Y”…..sudah lama aku ingin tulis surat ini padamu. Tapi hanya berhenti di ritme batang otakku dan terbentur pada tembok-tembok yang membatasi ku menemuimu. Keberanian ini muncul saat aku lewati kotamu senja itu, tepat saat hujan turun dan aku berada dalam kereta. Kotamu ternyata masih sama saat kutinggal kan beberapa tahun lalu saat aku belum mengenalmu, karena banyak kisah yang telah ku torehkan di kotamu tanpa kau ketahui.
“Y”……kau harus tahu kalau aku adalah orang yang paling sulit berkata jujur jika aku jatuh cinta. Dan kejujuran itu berhenti dalam hitungan detk yang tak pernah terhitung hingga saat ini. Aku jatuh cinta padamu. Pada kesederhanaanmu. Pada Hitam Putihmu. Pada secangkir kopimu. Pada kata-katamu. Pada tatapanmu. dan Pada keegoisanmu. Pada teriakan kebebasanmu. Pada semua tentang mu
“Y”….kau tahu. Jika aku sekarang tinggal di dalam penjara. Memang di dalamnya luas. Ada kursi dan meja  tempatku duduk berjam-jam di depan laptop. Ada secangkir kopi yang tak pernah habis walaupun tiap malam selalu kusesapi. Ranjang yang cukup nyaman tapi tak pernah kutiduri karena aku lebih memilih tidur dengan rebahkan kepala di atas meja tepatnya di dekat laptopku. Dan di penjara ini aku sendiri. Sering aku merasakan kebosanan dan aku langsung langkahkan di ujung kamar, karena di sana ada celah yang cukup untuk pandangan mataku. Dan kau tahu….itulah pertama kali aku melihatmu. Dan aku hanya menikmatimu dari sini….. Melihatmu tertawa lepas. Berlarian di tengah padang ilalang. Melukis di pinggir pantai bahkan terkadang aku melihat kau menangis tersedu sedan. Dan entah kenapa!!!! setiap aku melihat dalam celah ini, aku selalu melihat kehidupanmu yang penuh kebebasan.Tidak sepertiku yang terkunkung dalam penjara. Penjara yang kubuat sendiri.
Dan kau tahu “Y”…..aku semakin jatuh cinta padamu. Tapi jangan artikan cinta seperti Roro Jonggrang dengan Pranacitra.  Tapi ini cinta yang sebenar-benarnya. Seperti cintaku pada samudra dan hujan. Cinta yang tak pernah bisa di takar. Bukan cinta yang memerlukan pelukan dan ciuman. Tapi cinta untuk menerima dan memberi. Bahkan tak pernah terbayang tuk menggenggam jemariku untuk berbagi kisah ku. Melihatmu dari celah ini, seperti aku menikmati samudra….menikmati hujan…..!!!! memang cintaku memang aneh…..tapi keanehan ini aku nikmati.
“Y”……tak perluka tau tentang cintaku ini. Cukup aku dan penjaraku serta celah yang menjadi bukti perasaan ini. Dan kota mu yang ku lewati kemarin sore adalah awal aku keluar dari penjaraku. Entah..kenapa aku langsung menuju kotamu? Apakah karena ada dua cinta yang pernah tertinggal di sana. Pertama, cinta yang tak pernah bertemu dalam satu titik. Cinta kedua adalah cintaku padamu. Ah…cinta memang tak pernah memilih.
“Y”…….dan aku kini kembali ke penjaraku. Seperti pesan yang sempat kukirimkan padamu.

KAU DAN AKU SEPERTI REL KERETA API ITU
BERJALAN BERDAMPINGAN, SATU TUJUAN 
TAPI TAK PERNAH BERTEMU DALAM SATU TITIK
CINTAKU ABADI DISINI 
Nb. ada tertinggal “Y”…..aku tak memaksa kau menjadi kekasihku. Karena ikatan perasan itu lebih kuat dari pada ikatan sebuah komiten. Ah entahlah……cintaku ini masih abadi untumu

Tagged

9 thoughts on “SURAT PADA “Y”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *