Uncategorized

SURAT KEPADA PANGERAN LILIN

Selamat malam. Aku mulai rangkaian surat ini dengan kalimat Bismillahirrohmanirrohim karena saya adalam muslim. Mungkin hanya untuk mengingatkan bahwa kita lahir dari sabda Tuhan yang meniupkan ruh pada Rahim Bundaku, Bundamu dan Bunda kita. Saat aku kembali menggandeng sunyi melewati nyanyian malam.
Aku sendiri, dan mungkin esok masih banyak puisi yang lahir dengan namamu. Pangeranku, semoga ini bukan surat yang pertama tapi juga bukan surat yang terakhir yang aku tulis dengan menyebut namamu. Awal kedua panggil aku Raa, Amoor Raa, Dewi matahari. Kau tahu alasannya? karena matahari selalu sendiri, matahari selalu memberi panasnya, Matahari adalah sebuah keegoisan karena kau tak kam mampu memandang dengan mata telanjang. Dan kau tak tahu Matahari selalu memandangimu dari disini!!! altar tertinggi di bagian bumi kita.Matahari…….aku bahagia dengan kata yang keluar dari tulisanmu. Karena hanya aku, hatiku, dan Tuhan yang tah. Atau kau mungkin bagian dari hatiku?
Selamat Malam, Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Dini Hari atau Selamat Tinggal? Saat waktu menemukan kita, dan aku masih mengenangnya sampai detik ini. Dengan tidak meninggikan hati, aku bertanya padaku dan bukan padamu. Matahari mengagumi sebatang Lilin?. ” Aku terlalu merah untukmu, Raa”. Aku masih mengingatnya.
Dan malam ini aku berusaha mengukir lagi hari-hari yang berlari meninggalkanku. Apa ini cinta, rindu atau sekedar sebuah Rindu Matahari pada sebatang Lilin!!!! Dan panggil aku Amoor Raa!!!!!!!!!!!
Surat ini bukan surat pertama dan juga bukan surat terakhir. Tapi munkin sebuah awal dengan melepakan sekelompok burung yang terkurung untuk mencari persinggahan sejati? Dan aku bertanya, Dimana?. Saat kata menjadi sebuah belati yang akan membunuh perasaan kita berdua. Aku merindukan Pangeran Lilinku tuk kubawa bercerita tentang mimpiku di kamar merah yang sepi sambil berbisik lirih
lelaki adalah teka teki yang sulit di jawab 
perempuan adalah teka-teki yang tidak masuk akal
dan
pertemuan serta perpisahan adalah teka-teki yang tidak ada jawabannya
Pangeran Lilinku…..aku merindukanmu 
Tagged

11 thoughts on “SURAT KEPADA PANGERAN LILIN

  1. bagus suratnya ini, aku suka bagian terakhir. pertemuan serta perpisahan adalah teka teki yang tidak ada jawabannya…emang bener juga, ya. kita nggak pernah tau akan ketemu siapa lalu pisah sama siapa.

  2. Aduh.. lebih susah dounk jadi cewek ya.. karena tidak masuk akal.

    Kerinduan terhadap pangeran lilin si lentera jiwa, pastinya dalem banget..
    Nice poem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *