Uncategorized

SUDAH SERIBU HARI YA BU?

 
Bu….bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan di surga. Adik
kangen….kangen banget sama ibu. Terimakasih ya Bu. Semalam ibu datang
memeluk adik. Walaupun adik tahu dunia kita sudah berbeda. Ibu di surga
dan adik masih di dunia. Tapi adik percaya bahwa masih ada benang merah
yang membuat kita masih bisa berkomunikasi. Ya…komunikasi yang tidak
akan mungkin di pahami oleh orang lain. Hanya adik dan ibu.

Sudah
seribu hari ibu ninggalin adik sendirian di dunia ini. Sudah seribu
hari adik melakukan sebuah perjalanan panjang tanpa ibu yang membimbing
adik. Sudah seribu hari adik hidup secara “liar” tanpa pengawasan ibu.
Sampai sekarang terkadang adik berpikir kenapa Tuhan terlalu cepat
memanggil ibu ke surga? Tapi adik percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana
terhebat buat adik.

Oh ya Bu…..adik pingin cerita. Tadi
malam adik di photo aura. Dan hasilnya sudah adik duga. Ada sesuatu
dalam photo aura adik. Kuning, Hijau dan putih. Tidak perlu adik
jelaskan bagaimana artinya. Cukup adik dan orang-orang tertentu yang tau
maknanya.
“Saya lihat kamu naik ke atas piramida Raa. Sudah separuh jalan. Dan masih ada 7 tingkatan lagi yang harus kamu lewati Raa”
“Kalau saya mundur”
“Kamu tidak akan bisa mundur. Walaupun mundur kamu akan terus terseret kedepan”
“Lalu apa yang harus aku lakukan”
“Berdamailah dengan hidup kamu…….terimalah kenyataan siapa diri kamu. Bahwa kamu adalah…….”
Tidak
perlu adik teruskan perbincangan itu Bu. Tentunya ibu sudah tahu
jawabannya. Atlantis………Jawaban yang tidak bisa dijelaskan dengan
jawaban-jawaban rasional. Seperti satu tambah satu sama dengan dua.
Seandainya ibu saat ini menemani adik untuk melewati tangga-tangga itu.
Bu…..kalau
boleh jujur adik sebenarnya lelah. Sangat lelah. Terlalu banyak
pergolakan-pergolakan batin yang tidak bisa adik selesaikan sendiri.
Adik tidak tahu harus berbagi pada siapa. Karena adik pikir bahwa
pergolakan-pergolakan dalam batin bukan sesuatu yang wajar dan bisa
diterima secara logika. Adik sangat lelah. Adik kangen sama tangan ibu.
Adik kangen sama dada ibu tempat adik menangis sepuas hati. Adik kangen
sama senja yang selalu kita nikmati berdua di rumah sukowidi. Adik
kangen bu…..adik kangen diskusi panjang lebar tentang hidup.
Diskusi-diskusi hebat yang tidak adik temukan di seminar-seminar yang
pernah adik datangi.
Sudah seribu hari Bu? Sepertinya baru
kemarin ibu telpon terakhir, “Raa….kenapa kamu takut sendirian.
Bukankah kamu lahir dan mati juga akan sendiri?”. Sepertinya baru
kemarin adik panik saat hp ibu nggk diangkat saat adik ingatkan buat
sholat magrib. Sepertinya baru kemarin ada dua kupu-kupu besar berwarna
hitam masuk kedalam rumah di Bintaro, dan feeling adik mengatakan bahwa
ibu sudah meninggal. Sepertinya baru kemarin adik nerima telpon dari
Banyuwangi, “Raa cepat pulang Ibu kritis”. Walaupun akhirnya adik tau
semua membohongi adik. Walaupun mereka mengatakan ibu kritis, tapi adik
tahu ibu sudah meninggal. Sepertinya baru kemarin adik terbang lewat
Bali untuk pulang ke Banyuwangi dengan cuaca buruk dan berharap agar
pesawat tersambar petir dan adik ikut mati bersama ibu. Sepertinya baru
kemarin ibu mengantar adik dan mencium adik di stasiun kereta api saat
adik pergi ke Jakarta. Sepertinya baru kemarin saat adik menginjakkan
kaki di rumah sukowidi adik tidak menemukan pelukan ibu, tapi hanya
menemukan senyuman jenasah ibu. Sepertinya baru kemarin adik mencium
kening ibu terakhir kali dengan rasa kehilangan yang tidak pernah
terhapuskan hingga sekarang.
Bu…..adik
kangen……kangen sekali!!!!! Rasa kangen yang mengalahkan semua sakit
yang adik alami saat ini. Ibu kangen nggk sama adik? Entahlah
Bu…..Sudah seribu hari!!!!!!  Terkadang adik membenci diri adik
sendiri kenapa tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibu sudah pergi!!!!
Ajarkan adik bu untuk berdamai dengan kenyataan
Oh ya…bagaimana
dengan kabar Bapak? Sudah berapa lama ya Bu terakhir adik bertemu dengan
bapak. 10 tahun? Ah….tidak….18 tahun.? Lebih……..ya…sudah 22
tahun adik hidup tanpa bapak. Sejak adik umur 8 tahun kan? Cukup lama
juga ya bu? Bagaimana wajah bapak bu? Apakah bapak masih gagah? Saat dia
masih pakai sepatu laras dan baju doreng dia? Maafkan adik kalau adik
sudah lupa wajah bapak. Tapi yang adik ingat bahwa bapak mewariskan
bentuk mata, alis dan sifat keras kepala kepada adik. Bukankah itu yang
selalu ibu katakan sama adik dulu? Salam hormat adik buat Bapak ya bu?
Lalu
bagaimana kabar Aulia? Ah…….berbicara tentang perempuan kecil itu
sama beratnya saat adik berbicara tentang ibu. Walaupun Aulia hanya
beberapa bulan bersemayam dalam rahim adik, tapi………! entahlah
Bu…kenapa Tuhan mengambil orang-orang yang adik cintai lebih cepat.
Bapak, Ibu, emak dan Aulia……
Bu…..secepatnya
adik akan pulang ke Banyuwangi. Iya bu….untuk menabur kan bunga di
makam ibu, bapak dan emak serta Aulia.  Iya…….Banyuwangi adalah
sebuah tempat peristirahatan ternyaman saat adik terlelah melewati
perjalanan yang cukup panjang ini. Dan nanti kalaupun adik harus
meninggal.  Dimana pun adik berada adik harus di makamkan di Banyuwangi.
Tanah leluhur adik Berkumpul dengan orang-orang tersayang adik. Ya
Tuhan…..karena adik terlalu lelah!
Ibu….Bapak…..Emak….Aulia….Banyuwangi!
tunggu saya pulang! Untuk menaburkan bunga di makam kalian. Membacakan
Yasin di depan kalian. Mengunjungi rumah masa kecil adik yang menjadi
sebuah jawaban dari kelelahan adik. Walaupun adik tahu rumah itu kosong!
Tapi adik tau bahwa rumah itu akan memberikan energi positif bagi adik
untuk melanjutkan hidup dan perjalanan adik.
Ya….sudah
seribu adik melewati hari-hari berat tanpa ibu. Dan adik tahu Bu! bahwa
perjalanan adik tidak hanya berhenti di hari ke seribu! tapi masih ada
ribuan-ribuan hari yang harus adik lewati tanpa bergantung dengan
siapapun.
4 Desember 2011
Hari ini Seribu Hari malaikat saya di panggil Tuhan……..Ibu-ku…..Ismiwati
 DISANA AKU DIPELUK IBUKU

Entah kenapa tiba-tiba aku rindu rumah itu
Rumah dimana aku mengenal perempuan yang kelak aku panggil Ibu
Perempuan tua yang aku tau dia adalah ibu dari ibu ku

Di sana aku selalu di peluk ibu
Saat aku masih belum bisa memanggilnya ibu
Pagi Siang Sore dan Malam dia selalu memelukku
Menambatkan keliaranku dan keegoanku
Sempat ku jengah….tapi aku tak pernah menolaknya
Karena aku sangat mencintai ibu ku lebih dari aku mencintai nyawaku dan mimpiku

Tiba-tiba aku rindu di peluk Ibu
Satu perempuan yang menjinakkanku seperti matador yang mengendalikan banteng dengan kain merahnya
Atau seorang kusir yang menarik talinya melawan kekuatan kuda liar di pedatinya

Dan tiba-tiba aku ingat dini hari
Saat aku memeluk dia dan menatap matanya untuk terakhir kali
Mengecup keningnya
Ibu tidak membalas pelukku
Aku berontak dan aku baru menyadari Tuhan lebih mencintai ibuku

Tuhan:
boleh aku meminta?
Aku butuh pelukan ibu saat ini!
Bisa Engaku kirim Ibuku ke sini……….

Batam: 28 Juni 2011
(perempuan berbaju orange di sebelah kanan adalah bidadariku: Banyuwangi 16 Februari 2008)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *