Uncategorized

STASIUN GUBENG : pagi tanpa kamu

; Kepada W
Terlalu pagi saya buat catatan ini. Bahkan saya sendiri belum ke kamar mandi. Turun dari kereta saya memilih duduk dikursi tempat kita pernah berbincang minggu lalu.
Kau tau….. semalam saya se kereta dengan banyak wajah yang saya kenal. Mungkin mereka anggota Dewan? Atau politikus? Entahlah ….. dan mereka mengajak saya berbicara ini….. berbicara itu…. Huh… apakah mereka tidak bisa membaca gerakku yg lebih asyik dengan buku dari pada dengan materi perbincangan yang mereka tawarkan.
“Aku gerbong satu dulu ya bu”
Akhirnya saya memilih memutuskan perbincangan menuju gerbong 1. 5 B? Kursi yang sama seminggu yang lalu. Iya… belum seminggu anteng di Banyuwangi saya harus angkat ransel lagi. Walaupun ini perjalanan pendek ke surabaya. Tidak lebih dari 2 x 24 jam saya akan balik lagi ke Banyuwangi.
“Seminar dan lokakarya konsultasi daerah masukan masyarakat sipil terhadap RUU tentang keadilan dan kesetaraan gender”
Gender? Saya teraenyum sambil mengajukan sebuah pertanyaan, ” kenapa harus saya (lagi)?”
Kursi yang sama seminggu lalu. Dan saya berharap kamu ada di gerbong 3 dan mengirim pesan kepadaku, “turun di stasiun mana Raa?”
Dan saya akan memaksa kamu untuk menemani saya. Iya….duduk di kursi kosong di samping saya. Bercerita apaaaaaaa saja. Agar saya tidak merasa sendiri. Pindah dari gerbong 3 ke gerbong 1. Bukan berdua ketika di sidoarjo. Tapi berdua mulai dari kota kita Banyuwangi.
Akhirnya mengkhayal seandainya ada kesempatan kedua.
Kau tau? Pagi ini di stasiun Gubeng berjalan datar. Ini bukan kali kedua, kali pertama atau kali ke sekian. Tapi entah kenapa pagi ini berbeda. Apalagi seminggi yang lalu kita duduk bersama begitu dekat. Hahahahahahaha …… kau tau? Saya merasa menjadi seorang gadis yang bertemu dengan pemuda idaman nya? Uppsss? Apakah kamu pemuda idamanku? Tidak tidak ….. saya hanya suka itu saja.
Perbincangan pagi itu luar biasa. Ah …entah kenapa saya selaku menikmati setiap menit yang diberikan Tuhan untuk bersama kamu. Saya suka mencuri pandang pada mata coklatmu. Melihat anak rambut di sela leher atau cara membetulkan rambut kamu dengan tangan kanan mu. Atau cara kamu memiringkan wajah dan membetulkan baju kaosmu. Kita begitu dekat pagi itu………… dengan perbincangan panjang tentang hidup.
Saya sebenarnya benci menceritakan tentang saya sendiri. Saya lebih suka menceitakan angin, ombak, laut, gunung atau apapun itu yang penting tidak menecritakan tentang saya. Sederhana….karena bercerita tentang aku berarti cerita tentang sebuah pilihan hidup.
“Terlalu rumit hidup mu Raa”

“Saya selalu belajar menyederhanakannya mas….. tapi entahlah”
Dan kita harus selesaikan perbincangan pagi itu. Kau tau sebenarnya saya enggan untuk berdiri. Dan lebih memilih bersama kamu. Tapi bukankah waktu itu adalah pedang yang bisa membunuh kita? Dan saya suka dengan waktu yang diberikan Tuhan kepada saya untuk menikmati kinesik wajah kamu di pagi itu. Siluet wajah kamu diantara bangku-bangku di pelataran stasiun.
Ada roti dan sebotol kecil kopi untuk saya menemani perbincangan kita pagi ini walau tidak lebih dari 3 x 60 menit.
Dan saya mengenangnya saat ini. Mengenang sebuah pertemuan seminggu yg lalu. Hanya ada aku dan kamu serta pagi yang sederhana.
Akhirnya saya sendiri pagi ini, dengan kenang tentang kamu.
“Wes balik Raa”
Sebuah pertanyaan yang membuat saya tersenyum. Saya sudah balik tapi kembali lagi melanjutkan perjalanan.

“Hidup ku luar biasa ya mas?”
Saya menyesap secangkir kopi. Ekspresso…. pahitnya seperti morphin yang membuat mata saya terbelalak. Walaupun ini adalah pemaksaan.
Halusinasi saya berjalan seandainya kamu kembali lagi menemani perjalanan saya, di sebuah stasiun gubeng suatu pagi.
Dan sadar pagi itu adalah tanpa kamu
Stasiun gubeng, 13 – 12 – 12 06.07 wib
Published with Blogger-droid v2.0.9
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *