Uncategorized

Soang (tanpa) sayang

Foto Iraa Rachmawati.
Soang dan mantan adalah dua hal yang selalu saya hindari untuk bertemu. Apalagi saling berhadapan. Dua hal yang tidak saya sukai. Soang adalah sebuah trauma masa kecil karena pernah dikejar dan di”sosor” dibagian betis. Saya tidak tahu bahasa Indonesia baku dari di sosor itu apa.
Lalu mantan? Ah siapa mau yang bertemu dengan mantan karena sudah tidak ada lagi urusan masalah perasan.
Saya tidak menyukai Soang tapi tidak pernah sekalipun saya menyakitinya semacam melempari dia batu atau menendangnya. Cukup angkat kaki naik ke kursi atau berlari sekuat sekuatnya. Menjauh. Saya pun tidak pernah membenci Soang karena saya tahu Soang pun makhluk ciptaan Tuhan yang telur dan dagingnya masih enak dikonsumsi.
Ada yang bilang soang itu lucu dan menggemaskan tapi bagi saya tidak. Soang jauh dari pada kata lucu. Tapi sekali lagi saya tidak membencinya. Hanya tidak suka. Suaranya membisingkan. Kecipak dia saat bermain air buat saya pusing.
Tidak suka ya tidak suka saja. Saya tidak pernah nyinyir dan memprovakasi teman saya untuk ikutan membenci soang. Apalagi menyuruh untuk menyakitinya. Tidak suka, tanpa membenci dan tidak menyakiti.
Semacam mantan ya sudah tidak usah dibenci tanpa berlebihan toh dulu pernah punya perasaan. Tidak perlu juga dinyinyiri siapa tau nanti kalian balikan lagi.
Sesimple itu. Tidak suka tanpa menbenci tanpa saling menyakiti.
Selamat jelang berbuka
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *