Uncategorized

SMP KU SAYANG, SMP KU KENANG

Berbicara SMP adalah berbicara sebuah keputusan. Mengingat sejak TK hingga SD aku berada dalam satu yayasan sekolah yaitu AL-Irsyad. Dan sejak duduk di kelas 6 SD aku sudah mempunyai cita-cita untuk masuk sekolah negeri. Sekolah yang lebih bonafit. Bukan sekolah “luar negeri” alias swasta yang sedikit membuatku tertekan. Masuk lebih pagi dibandingkan sekolah negeri. Harus mengunakan jilbab yang memuat pagiku seperti orang perang. Dilarang untuk menggunakan celana panjang dan dilarang untuk menari. Sebuah penjara bagi seorang gadis kecil yang penuh dengan protes. 

Tapi, cita-citaku langsung pupus. Almarhum ayah menginginkanku masuk ke pesantren puteri Gontor. Tapi ibu sepertinya tak mau jauh dariku. Alhasil ibu memtuskan aku untuk masuk ke sekolah yang sama lanjutan dari TK SD yaitu SMP Al-Irsyad. Protes sudah kulayangkan. Tidak mau berangkat sekolah. Tidak mau mengikuti MOS. Bayangkan…aku harus kembali menggunakan rok yang lebih panjang dan ribet. Berteman dengan teman-teman yang sama sejak TK. Hampir 9 tahun ? (karena aku masuk TK usia 4 tahun). Pelajaran yang lebih banyak. Ya iyalah. Namanya juga sekolah agama. Fiqih. Aqidah Akhlak. Bahasa Arab bla…bla…bla….dan yang paling tidak aku suka adalah aku sangat berbeda dengan teman-temanku. Pasalnya hampir mayoritas teman-temanku adalah warga keturunan Arab. Berkulit putih, tinggi dan tentu saja berhidung mancung. Tidak seperti aku yang tidak beitu tinggi, tiak berkulit putih dan berhidung tidak mancung alias pesek (haduhh….aku paling benci menulis pesek, karena kau selalu memanggilku pesek)
Pengalaman yang membuat aku “down” adalah saat aku dan teman-teman SMP ku sedang lihat karnaval. Tuhan….seorang ibu-ibu mencolek lenganku sambil tanya, “Mbak orang arab juga ya? Tapi kok pesek?”. Haduhhh…..baru sadar kalau dari 7 temanku hanya aku satu-satunya yang lebih “pribumi”
Ya….SMP ku sayang, SMP ku kenang. Tahun pertama penderitaanku semakin bertambah, saat pihak yayasan membuat peraturan memisahkan antar murid putera dan puteri. Dan selama 3 tahun teman sekelasku adalah perempuan. Membuat ke”tomboy”anku tidak terasah. Satu tahun pertama seperti neraka baru buatku. Hhhmmm…….sebuah proses saat aku masih belum ikhlas menerima kenyataan bahwa aku “kembali” menjadi siswa sekolah swasta “agama”. Masih ada rasa iri saat melihat beberapa teman SD ku, berhasil masuk ke sekolah negeri. Mengikuti beberapa ekstrakurikuler yang tidak ada di sekolahanku. Mereka bebas menurai rambut panjang dan menggunakan jepit-jepit, bandana warna-warni. Dan aku diharuskan memakai baju kurung panjang dan jilbab polos yang menurutku sama sekali tidak gaul. 
Tapi semuanya berubah. Saat aku menikmati masa-masa ke”gila”an anak “bau kencur. Sering mengirim surat lewat tembok dengan kelas sebelah yang semuanya adalah cowok dan menunggu dengan hati deg-degan balasan dari mereka. Belajar menari japin dan tari ular dengan teman-teman dari Kampung arab. Secara sembunyi-sembunyi janjian dengan kelas sebelah untuk ke air terjun naik sepeda kayuh sepulang sekolah. Dan aku penah mengkoordinir satu angkatan, baik kelas puteri dan putera untuk pulang lebih pagi karena tidak suka dengan salah seorang guru. Dan lebih parah, aku pernah berkelahi hebat dengan adik kelasku yang membat dia “sedikit” berdarah-darah. Alasan sepele sih dia mematahkan gagang kacamataku dang mengolokku “jawa pesek”. Dan ibuku hanya senyum-senyum sendiri saat kepala sekolah memanggilnya untuk mempertanggungjwabkan pebuatanku. Dan aku ingat ibuku hanya berkata, “Ira habis kenaikan sabuk pak. Mungkin dia coba ilmu karatenyanya”, Ibuku memang paling ahli membela anaknya. 
Seperti umumnya anak remaja lainnya. Aku juga memiliki geng yang anggotanya satu kelas dan jumlahnya 42 orang. Hahahahaha……kami adalah geng yang paling kompak. Tapi aku sendiri memiliki dua sahabat. Nova dan Rita. Kita mempunyai nasib yang sama yaitu paling “pribumi” diantara teman-teman lain. Kami bertiga sering melakukan hal-hal gila termasuk menulis surat cinta pada guru baru luluan dari salah satu pondok pesantren terkenal. Dan kami dipanggil stau persatu untuk diberi ceramah. Dan kami juga pernah melarikan diri dari sekolahan karena belum hapal beberapa hadits yang akan di uji, dan kami mencuri timun di belakang sekolahan. Dan pemiliknya melaporkan pada pihak sekolahan. Hukuman lagi…….Aku sempat membuat sulaman masing-masing nama di jilbab putih kami. Dan pada hari terakhir kami di SMP setelah menerima ijasah, kami menuliskan nama kami bertiga di lantai dua sekolah di tempat paling tinggi dengan menggunakan tangga penjaga sekolah. Dan juga mengukir nama di meja kelas tiga menggunakan cutter, Kemudian kami berdiri di bawah tiang bendera saling berpegang tangan mengucapkan janji persahabatan kami.
Ah….sayangnya. Nasib mereka tidak sebaik nasibku sekarang. Mereka telah memilih jalan mereka masing-masing. Dan aku menghargai pilihan mereka. Dan aku telah kehilangan kontak hampir 3 tahun lamanya. 
Dan kini aku tidak pernah menyesal dengan keputusan dan pemaksaan ibuku untuk masuk ke SMP Al-Irsyad. Di sana aku belajar tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Belajar mencintai Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh Ustadz Nur Rifai dan Ustadzah Siti Latifah. Dari mereka berdua aku memutuskan fokus pada sastra. Dan keputusan tetap menggunakan jilbab, walaupun telah lulus dari SMP AL – Irsyad dan diterima di salah stu SMA negeri unggulan. Walaupun proses istiqomah menggunakan jilbab masih aku lakukan hingga saat ini. Ah….tiba-tiba aku rindukan masa-masa SMP ku. SMP ku sayang, SMP ku kenang
Bukan tanpa alasan aku menulis tentang SMP. Atas perintah Mbak Reni. (hehehehe…maaf mbak? Aku gunakan kata perintah!) dengan imbalan “awards”.
Gerakan ini muncul dari ari keprihatinan Manajemen Emosi karena ketika searching “SMP” di Google, ternyata yang muncul di halaman pertama Google hanya berisi hal-hal yang tak pantas. Itu sebabnya Manajemen Emosi berupaya melakukan pembersihan keyword SMP yang negatif dengan membuat postingan yang mengandung keyword SMP positif. Agar gerakan itu semakin mendapatkan dukungan banyak pihak, maka Manajemen Emosi memberikan hadiah sebuah award keren bagi siapa saja yang telah memposting artikel tentang / berjudul SMP. Dan salah satunya adalah Mbak Reni dan diteruskan ke Mbak Ira. (hehehehehehe…..narsis,com)
Dan Awards ini aku persembahkan pada seluruh blogger yang singgah dan mendukung pembersihan keywords SMP yang negative dengan membuat postingan SMP yang positif.
Ah….SMP ku sayang…..SMP ku kenang….
Catatan ini aku persembahkan pada ibuku
Pada yang selalu memanggilku “pesek”
Pada Rita & Nova (aku hargai keputusanmu)
Pada Al-Irsyad yang mendidikku hampir selama 12 tahun
Aku merindukanmu, bangku sekolahku
Tagged

25 thoughts on “SMP KU SAYANG, SMP KU KENANG

  1. Setiap masa di tingkatan sekolah memang memiliki kesan dan kenangan yang berbeda. Ada orang yang bilang masa sekolah yang paling diingat dari ketiga jenjang (SD, SMP DAN SMA) adalah masa SMP, ada yang masa SMA, ada yang masa SD. Semuanya tergantung peristiwa atau kejadian unik yang pernah dialami di setiap jenjang. Kalau saya pribadi setiap jenjang memiliki kenangan tersenderi yang asyik untuk dikenang selamanya. Tapi dari ketiga jenjang yang paling menyenangkan untuk diingat adalah masa SMA dan SMP. Halah malah curhat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *