Catatan, Kuliner, Traveling

SIDAT, UNAGI JEPANGNYA BANYUWANGI

Diriku mendapat tantangan darai Eliza Gusmeri
buat upload foto makanan selama lima hari berturut turut. Nahh baru
sempat memulai hari ini. Dengan banyaknya pilihan makanan, maka saya
akan memilih dan memilih poto poto makanan khas Banyuwangi.

Saya memilih makanan khas. Keindahan dan kebagusan sisi fotografinya saya abaikan secara sudah nggak pernah lagi angkat-angkat
kamera “gede”. Hanya modal kamera dari handphone saja karena yang
terpeting sisi “kekayaan kuliner” tersampaikan. Saya menyebutnya politik
meja makan.

Untuk hari pertama saya memilih Sidat.

Di Banyuwangi dikenal dengan nama Uling. Kalau di Jepang dikenal dengan
Unagi. Harganya cukup mahal mencapai 150 ribu lebih per kilo gram bahkan
lebih.

Unagi bukan belut. Unagi adalah sidat. Dagingnya
lembut dan bumbu bisa dengan mudah meresap ke dalamnya. Di Jepang, Unagi
biasanya di masak Kabayaki dengan saus terbuat dari campuran kecap
asin, mirin, gula pasir, dan sake.

Unagi kabayaki dipercaya
orang Jepang sebagai makanan bergizi untuk menambah stamina sepanjang
musim panas. Pada hari Doyō no Ushi musim panas (sekitar minggu ke-3
atau minggu ke-4 bulan Juli) terdapat tradisi makan unagi kabayaki di
seluruh Jepang.

Saya doyan banget !!!!!

Nah bagaimana
sidat di Banyuwangi? di Banyuwangi, Sidat kebanyakan di pepes atau di
pelas. Dengan bumbu merah pedas dan di bungkus dengan daun pisang lalu
di bakar.

Rasanya Indonesia banget. Seperti biasa saya juga
doyan Sidat dimasak versi “Banyuwangi”. Kuliner ini ada di Singgasana
SIdat, di sebuah tambak yang dikelola secara mandiri di wilayah
Parijatah Banyuwangi. Bulan Januari rencananya mereka akan membuka
restoran dengan Sidat sebagai salah satu menu utama.

Jayalah terus kuliner Indonesia

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *