Catatan, Life Style

Sepotong coklat dan tentang memukul istri, kejahatan yang tidak di dihukum

Saya menyelesaikan film yang berjudul “Chocolat”. Menceritakan tentang Vianne yang diperankan oleh Juliette Binoche, perempuan misterius yang menggunakan jubah merah dan berkelana dengan putrinya. Mereka kemudian tinggal di sebuah kota kecil Lansquenet di Prancis yang kehidupan warganya tertekan karena larangan agama dan adat istiadat yang kuat. Pengaruh walikota Comte de Reynaud, cukup besar

Vianne mendirikan toko coklat “La Chocolaterie Maya”. Vianne yang tidak pergi ke gereja serta memiliki anak di luar nikah menjadi pembicaraan masyarakat desa dan dikucilkan. Sang walikota marah, karena Vianne dianggap tidak beriman dan ingin menyingkirkan Vianne dari kota kecil tersebut. Reynaud memiliki sifat radikal dan keras kepala. Ia tidak segan-segan menghina Vianne dan anaknya di belakang hanya karena mereka menolak diajak ke gereja. Dia berencana untuk mengusir Vianne dan anaknya hanya alasan perbedaan keyakinan

Vianne yang ramah tetap berbuat baik walaupun dikucilkan banyak orang. Dia juga menyelamatkan Josephine (Lena Olin) yang diperlakukan buruk oleh suaminya. Josephine yang selalu dipukuli oleh suaminya karena dianggap selalu melawan dan tidak becus melayaninya. Josephine lalu tinggal bersama Vianne dan putri kecilnya mengurus toko coklat dan sering membagi-bagikan coklat untuk warga sekitar. Toko kecil itu kemudian menjadi tempat yang menyenangkan bagi sebagian penduduk kota.

Saya tertarik dengan kasus Josephine. Tentang seorang istri yang dipukuli oleh suami.

Mengapa wanita menerima saja dipukuli oleh suaminya yang notabene harus melindunginya?

Andrea Dworkin dalam bukunya Woman Hating menulis “Tak kala wanita mempunyai keberanian untuk mempertahankan diri, mengambil langkah-langkah terhadap kebrutalan dan kesewenangan, berarti kita sudah menyalahi setiap segi dan sifat kewanitaan yang diajarkan”

Elizabeth Truninger mendaftar ada 7 penyebab mengapa wanita tetap hidup bersama suami mereka yang memukul mereka
1. Citra diri yang rendah
2. Yakin suatu saat suami mereka akan berubah
3. Kesulitan ekonomi
4. Kebutuhan anak-anak akan dukungan ekonomi dari ayah mereka
5. Ragu apakah mereka dapat hidup sendiri
6. Kepercayaan bahwa perceraian adalah urusan yang sangat memalukan
7. Fakta bahwa sulit bagi perempuan yang telah memiliki anak untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.

Sementara penyebab lain yang sering di rasakan adalah
– terlalu takut untuk bertindak
– terlalu malu untuk memceritakan kepada orang lain
– merasa terperangkap dengan perkawinan
– benar-benar tergantung pad suami
– dan tidak ada tempat untuk pergi.

Namun alasan klise yang sering di dengar mengapa sejumlah perempuan masih tetap hidup bersama laki-laki yang memukul mereka adalah “Saya mencintainya”.

Sebagian orang mungkin akan mentertawai alasan tersebut, namun tidak bagi saya yang pernah mengalami kekerasan tersebut.

Sebenarnya ada beberapa pilihan terbuka bagi istri yang teraniaya yaitu, berdiam diri dan memilih bertahan, meminta bantuan untuk menyelamatkan perkawinannya, menuntut suami dalam perkara pidana dan terakhir adalah berpisah.

Namun menuntut suami dalam perkara pidana tidaklah mudah karena dianggap kasus “kerusuhan dalam keluarga” sehingga tidak pernah menjadi prioritas pemeriksaan kecuali jika dilaporkan mengancam dengan senjata. Tapi apa harus menunggu terluka atau mati lebih dulu? untuk mendapatkan keadilan.

Jika saya memilih pilihan terakhir yaitu berpisah. Teori sederhananya adalah “Pergi. Tinggalkan sumber masalah”. Apalagi masalah itu selalu muncul berulang ulang. Bukan, Ini bukan pilihan seorang pecundang. Tapi karena perempuan berhak untuk melanjutkan hidup dengan bahagia. Tanpa dipukuli setiap hari. Percayalah. Tuhan tidak akan tidur. Selalu ada jawaban dari setiap doa dan pinta.

Kembali ke film Chocolat.

Mungkin disekitar kita banyak orang-orang semacam Josephine. Dipukuli oleh suaminya. Mengalami kekerasan. Kita tahu tapi memilih diam? Bukan. Itu bukan pilihan bijak. Paling tidak dekati, dengarkan ceritanya, siapkan bahu untuk dia berkeluh kesah. Bantu dan temani dia hingga berani memutuskan pilihannya. Atau sediakan segelas coklat panas seperti yang dilakukan Vianne. Mereka yang “sakit” terkadang hanya butuh didengarkan untuk meringankan beban.

Berdirilah bersama-sama diantara para perempuan yang tidak berdaya. Karena memukul istri, adalah kejahatan yang tidak dihukum.

“Those whom we marry are those whom we fight” (African Proverb)

“Mereka yang kita nikahi adalah mereka yang kita lawan”.

Sediakan coklat di rumahmu. Siapa tau ada yang datang hanya untuk didengar. Konon. Konsumsi coklat itu menenangkan

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *