Uncategorized

SEPOTONG BULAN DI ATAS LAUTAN

Keluar dari kantor
: waktu terbuang hanya untuk menunggu tanpa kabar.
Sedangkan saya telah membatalkan sebuah janji dengan seorang teman yang membutuhkan telinga saya untuk mendengar cerita.
Akhirnya saya memilih sebuah cafe di perempatan  lampu merah. Sebuah tempat pelarian yang keren buat saya. Secangkir capuchino dan sebuah buku sejarah tentang blambangan. Sendiri…. membuka lembar-lembar hasil penelitian .  Kenapa tiba-tiba tidak menarik? Saya memicingkan mata dan melongok di jendela kaca. Ada bulan. Sempurna…..keputusan gila. Saya menyeruput dan menghabiskan capuchino sekali teguk. Memasukkan buku dan botol minum ke dalam tas. Membayar tagihan dan segera menstater motor.
Pantai…. iya pantai. Ini tujuan saya.
Sebuah pantai yang tidak begitu jauh dari cafe ini. Bergegas…..
Berjalan di atas pasir pantai membuat saya terperangah. Sepotong bulan seakan mengambang di atas selat bali. Sempurna…… dengan sedikit awan hitam di ujung sebelah kanan. 
Saya memilih duduk manis menikmati bulan yang baru saja terbit sambil memainkan pasir hitam dengan ujung jari kaki. Menggenggam pasir kering dan membiarkan dia meluncur perlahan di antara jemari tangan.
Ada sebuah kenang tentang bulan mengambang. Tanah melayu….. tentang Hang Tuah.
Mengapa jarak kita semakin jauh padahal kita pernah berjani untuk sehidup semati? Pengorbanan? Saya tidak ingin membahasnya lagi.
This is my life. Saya tidak pernah menyesal dengan apapun keputusan yang pernah dan akan saya ambil nanti. Bahkan sebuah keputusan untuk mengasingkan diri ke Banyuwangi.  Meninggalkan ribuan mimpi dan catatan catatan panjang
Meninggalkan mimpi? Lebih tepatnya adalah menyederhanakan mimpi.
Bulan perlahan lahan meninggi. Saya seorang diri. Dan saya tidak peduli apakah ada orang lain di sekitar saya. Semuanya gelap. Toh akhirnya retina saya sudah mulai bisa beradaptasi dengan kegelapan ini. Saya menekuk kaki dan membiarkan kepala saya terkulai di atas lutut menoleh ke arah kiri.
Apakah ini sebuah hukuman? Bukan…. bukan… ini adalah pilihan.
Saya rindu kamu Tuah….. saya rindu kampung tua sepanjang pantai melayu….. saya rindu bukit tempat pertama kita bertemu….. saya rindu pompong dan rumah kayu. Saya rindu teriakan kamu, ” Nda… ayok masuk laut. Ini menyenangkan”
Lalu saya akan berteriak-teriak mengikuti ayunan ombak. Dan sesekali menikmati kerling mata kamu. Kamu manja……….
Saya merindukan bulan mengambang. Iya rindu sekaligus membencinya. Sebuah pentas yang membuat kita terpisah jauh. Bukan…. bukan ….. saya yang salah. Saya yang memutuskan kembali ke tanah jawa.
Tiba-tiba saya benci dengan orang-orang munafik yang telah mengkhianati saya. Hidup mengajarkan saya untuk terus berdamai dengan kenyataan. 
Dan kalian kini mungkin mentertawakan saya. 
Silahkan…. lihat saja. Toh sekarang saya masih bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kalian. Sedang kalian? Tetap saja dalam hidup dalam dunia abu-abu.
Ssssttt….. ini tandanya kamu tidak ikhlas Raa
Saya memain-mainkan ujung kemeja saya. Jilbab saya berantakan. Angin malam jahat. Angin malam pengkhianat. 
Dan tiba-tiba wajah itu hadir. Wajah Hang Tuah di tanah Jawa. Apakah dia adalah Hang Tuah yang moksa dan menitis pada lelaki itu? Apakah dia adalah Hang Tuah yang akan menjemput aku? Atau kah dia adalah HangTuah yang dikirim untuk menemaniku?
Ombak rambutnya, senyumnya, matanya, cara dia menggerakan tangan, beberapa tahi lalat di wajah, bentuk gigi yang membuat dia mengeluarkan logat yang khas.
Siapa nama lengkapnya? Saya mengangkat bahu. Tempat tinggalnya juga saya tidak tahu, tempat tanggal lahirnya atau apapun tentang dia saya tidak tahu.
Saya hanya tau  wajah dia adalah wajah Hang Tuah. Wajah lelaki dari tanah melayu yang menjadi alasan utama saya kembali ke tanah jawa
Biarlah saya menikmati peradaan ini.
Berharap kamu ada disini menemani saja sudah cukup, sambil mendengarkan dongeng saya tentan bulan purnama yang mulai meninggi.
Uppsss…… sudah berapa jam saya duduk disini? Lebih dari 3 jam mengkhayal tentang kamu. Batrai tablet saya sudah memerah. Berkejaran untuk menyelesaikan tulisan ini.
Saya harus segera pulang. Cukup waktu untuk menyepi. Bulan sudah terus meninggi hampir tepat di atas kepala.
Lelaki beretina coklat catatan ini untuk kamu. Walau saya tidak bisa memastikan apakah catatan ini akan kamu baca.
Selamat malam…….
Sepotong bulan tepat di atas lautan selat bali. Saya rindu……..?
Published with Blogger-droid v2.0.9
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *