Catatan

Seperti ibu

Tidak satu dua orang yang mengatakan jika saya seperti ibu. Mulai bentuk tubuh, wajah hingga sifat dan sikap. Saya hanya tertawa dan mengatakan ya persislah, la wong saya anak kandungnya.
Jarang ada yang bilang saya seperti bapak. Tentu karena bapak meninggal ketika saya masih sangat kecil dan keberadaan kami juga tidak banyak karena bapak kerja di Bali. Terkadang saya mengamati bagian tubuh mana yang sama dengan bapak. Mungkin mata saya, karena mata ibu sangat sipit dan kecil. Mata saya lebar sama seperti bapak. Semoga saja.
Tapi hampir semua keluarga menyepakati jika ditanya apa kesamaan saya dan ibu yaitu keras kepala. Saya menyadari itu. Jika ibu yang marah, saya yang bisa buatnya adem. Jika saya yang marah, ibu yang menjadi kunci mendinginkannya. Adalah sebuah kiamat kecil jika saya dan ibu bertengkar hebat. Sahabat saya Deni jadi saksinya. Atau saya dan ibu memiliki pikiran yang sama sehinga akan mati-matian mempertahankan pendapat di depan orang lain. Sudah mending mundur. Begitu kata sebagian orang.
Seperti ibu. Kadang juga nggak asyik apalagi membandingkan pekerjaan saya sekarang dengan ibu yang menjadi guru dengan stereotipe disiplin. Rajin. Rapi dan suka silaturahmi. “Ibumu dulu gini, kok kamu sekarang gini blaa blaa blaa,” kata seorang teman ibu. Dan saya hanya akan mengerlingkan mata kemudian mengangkat kedua tangan dan berkata, “Aku berubah jadi ranger merah untuk melawan negara api. Nggak bisa berubah jadi ibu.” Maka drama membanding-bandingkan akan berhenti seketika.
Paling tidak menyenangkan lagi adalah ketika bertemu dengan teman ibu atau perkawanan ibu yang akan memeluk saya pakai acara menangis dan towel towel pipi dan bilang, kamu persis ibumu Raa. Lupa bahwa saya perempuan dewasa berkepala tiga. Dan ujung-ujungnya bertanya. Ngajar dimana? oh Gusti Allah. Saya bukan guru. Mana ada guru pake celana jeans dan kaos oblong di jam kerja.
Hari ini ada pertemuan keluarga. Saya akui, mungkin saya satu satunya yang jarang kumpul keluarga. Bahkan sampai ada gurauan, “mau di coret jadi ahli waris? Dipecat jadi ponakan? Diberhentikan jadi cucu?” Siap salah kalo sudah ada telpon macam itu.
Dan dipertemuan hari ini hampir sebagian besar mengatakan saya seperti ibu. Tentu saya tidak membantahnya. Pasrah. Hanya garuk garuk kepala sambil senyum manis sekali.
Tapi ada hal yang saya pelajari hari ini bahwa apapun yang terjadi keluarga adalah tempat untuk pulang yang sebenarnya. Selesaikan semua masalah dengan duduk bersama. Tidak berbohong. Jujur dan menyelesaikan semua urusan dengan kepala dingin. Menyikapi semua masalah dengan dewasa, berpikir jauh dan tidak reaktif.
“Kamu nggak jadikan ini masalah Raa?”. Celetuk seorang keluarga. Saya menggeleng dan mengatakan seandainya hari ini adalah 5 tahun lalu mungkin saya akan reaktif dan berbicara banyak tentang keadilan yang beradab.
“Iraa sudah kehilangan banyak hal. Ibu, bapak, anak anak dan semuanya. Tapi iraa ada Tuhan. Iraa baik baik saja bahkan hingga melewati hari ini. Mengikhlaskan itu buat tenang. Nggak jadi beban.” Banyak mata berkaca-kaca.
Saya semacam pemenang yang menyelesaikan sebuah peperangan.
Saya membuat tulisan ini sebagai penanda saja. Setahun lagi saya tidak tahu apa yang terjadi namun jika membaca kembali catatan ini, akan mengingatkan saya bahwa saya berhasil mengambil sebuah keputusan besar tanpa emosi.
Maka semuanya akan baik baik saja. Semacam keluar dari lorong waktu dan terjebak di masa lalu. Bebas. Bahagia 
Oh ya kalo ada yang bilang saya persis ibu, pliss percayalah ibu saya jauh lebih cantik dan lebih keras kepala dibandingkan saya
Jadi kapan kamu menyiapkan diri untuk jatuh cinta lagi? Besok malam abis magrib kalo nggak hujan
Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *