Catatan

Senyap

4 September 2018

Saat pulang ke Sukowidi jelang pagi hari, saya kaget ketika sampai di dapur belakang sudah penuh orang dan tumpukan barang. Baru menyadari dan ngeh tetangga saya hajatan dan sudah izin sejak 2 bulan yang lalu, untuk mendirikan terop. Tetangga juga izin ketika akan mulai masak memasak namun saya sedang tidak ada di rumah. Namun saya kaget karena tidak menyangka sebesar itu acaranya. Mereka sudah memasak beberapa hari sebelum saya pulang.

Fix! Saya harus berdamai. Saya hanya meminta agar ruangan saya dan kamar emak tidak digunakan. Dan itu berarti jatah istirahat panjang saya terpangkas habis karena ada hajatan yang menggunakan hampir 80 persen bagian rumah termasuk kamar mandi.

Menjelang hari H. Kue kue sudah ekspansi ke dalam rumah. Bisa dibayangkan saat saya yang kangen bangun siang, pas keluar kamar sudah banyak orang rewang. Sementara saya masih belum cuci muka dan sikat gigi. Saya macak ndakblek saja apalagi dengan wajah belang nggak jelas macam permen . “Mbak Iraa maaf yaa ganggu tidurnya,”.

Serius saya nggak mempermasalahkan, karena sudah ada kesepakatan sejak awal. Saya bisa numpang istirahat di rumah mbak Maya dan kebetulan juga ada event yang langsung saya garap. Saya cuma wanti-wanti agar buku buku saya tidak rusak dan hilang. Saya hanya rewang shubuh lalu berangkat dan pulang tengah malam. Untungnya saya terbiasanya tidur dalam segala situasi termasuk saat sound dinyalakan hampir tengah malam.

Semalam saya pulang hampir jam 11 malam. Saya menemukan rumah Sukowidi menjadi sunyi. Hajatan sudah selesai. Tinggak beberapa barang yang ditata di gang sebelah rumah. Sukowidi bersih dan rapi. Ada sepiring nasi goreng dan teh yang sudah dingin yang sudah disiapkan tetangga untuk saya. Mungkin tidak mengira saya pulang semalam ini.

Setiap pesta selalu ada akhirnya. Setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Setiap jatuh hati, pasti selu ada rasa rindu. Yang sering saya lupakan bahwa itu adalah sebuah siklus yang tidak boleh dilawan.

Termasuk saat pernikahan. Ada mempelai bahagia, ada orang tua yang terharu, ada tetangga yang membantu dan ada orang orang yang berdoa, “ah semoga disegerakan”.

Barakallah pada siapapun yang menikah dan berbahagia.

Sukowidi kembali senyap, dan saya pun kembali hidup sunyi. Kembali menjalani lakon dan menyimpan semua perasaan ini diam-diam.

Lalu apa lagi yang harus di sesali? Pernikahan semacam pertemuan. Harus ada doa doa baik sepanjang waktu.

Mulai hari ini sudah tidak ada sarapan sate gule lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *