Uncategorized

SENJA, PELANGI, DI JAWA TANPA KAMU (kenang itu menyakitkan)

(Copyrigt foto Anton Saverius pinjem fotonya ya…. di antara foto pelangi yang ter- upload di FB, foto mu aja yang agak keren heheheheh)
“Mbak Iraa….. ada pelangi?”, teriak seisi radio ini.

Saya keluar dan berdiri di belakang studio bersama beberapa remaja selepas mereka latihan patrol.

Pelangi? fuich….. di Banyuwangi ini jarang terjadi atau saya yang tidak pernah tahu dan tidak mau lagi memperhatikan? Senja ini memaksa saya untuk berpikir kembali ttg pelangi

Baju saya masih basah bekas hujan yang baru saja turun. Dingin menjalar
tanpa ampun. Tiba-tiba ada rasa kosong di hati saya. Kapan terakhir
saya melihat pelangi? Batam? atau di belahan bumi yang lain? #berharap
amnesia#

“Nda…. mana ada pelangi di malam hari. Kamu mimpi… khayalanmu terlalu tinggi”


Saya membantah, “Ada…. dan pasti ada. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini yah…. termasuk pelangi di malam hari”

Panjang lebar saya bercerita padamu, ” Tau nggak …..Pelangi itu
disebabkan oleh cahaya bulan purnama, saat itu bulan sedang penuh dan
membelakangi pelangi. Pelangi bulan purnama merupakan fenomena cukup
langka, dan memerlukan kombinasi langit sangat gelap, bulan kurang dari
42 derajat di langit, dan hujan jatuh di seberang bulan. Pelangi malam
hari itu mengingatkan pada Aurora Borealis atau cahaya utara yang
menerangi langit malam di daerah kutub dengan tampilan yang indah”

“Berisikkkkkkk….,” katamu sambil tertawa, ” Sudahlah Nda…. nggak
usah di jelaskan panjang lebar tentang pelangi di malam hari. Kita
nikmati saja pelangi senja ini”

Dan kita sama-sama berdiri di
sebuah bukit menghadap ke Selat Philips, yang membatasi Indonesia dan
singapura. Masih ada sisa gerimis dan ilalang yang bergerak. Kita
berdiri begitu dekat. Pelangi itu seakan muncul dari batas negara kita.

Tiba-tiba pandangan mu berpaling, “Nda… aku tidak akan pernah
meninggalkanmu. Aku akan selalu menemani kamu dengan ribuan mimpi kamu.
Di sini di tanah Melayu. Di Bumi Hang Tuah”

“Jika aku pulang ke jawa?”

“Aku akan menyusul mu”

Saya tersenyum dan hanya menganggukkan kepala perlahan. Dan kita
menikmati senja itu sampai pelangi dan matahari hilang digantikan bulan
dan bintang. Sampai sisa gerimis kering di atas ilalang.

Dan senja ini saya terlempar pada masa lalu. Jarak kita begitu jauh…… janji itu tidak pernah tertepati.

Saya mundur perlahan dari pelangi di senja di Banyuwangi.

Indah memang …… tapi bagi saya pelangi di senja ini adalah sebuah
jembatan maya, dengan satu ujung di sini di Banyuwangi, dan ujung lain
di sana …. di tanah melayu….. dan tapak saya tidak akan pernah bisa
melewati jembatan maya itu.

Senja ini indah dengan pelangi, walau tanpa kamu

Ya, pelangi hanya terbentuk jika ada hujan,
dan ada sinar matahari yang datang pada sudut 42 derajat dari mata kita
ke titik air hujan. Maka jangan bergeser terlalu jauh dari tempatmu
berdiri dan menatap, atau ia tak akan pernah tercipta untukmu…….
 Kau tau Ilalang ku ? kenang itu sangat menyakitkan !!!
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *