Uncategorized

SELAMAT ULANG TAHUN YA BU….

Bu.

Semalam adek sediakan sepotong kue coklat untuk kamu. Adek beri angka
65 di atasnya. Lalu adek nyanyikan lagu selamat Ulang Tahun untuk kamu
tepat tengah malam. Iya…semacam sebuah tradisi di keluarga kita. Iyaa
bu. Keluarga. Ibu, Bapak, adek dan mas.

Bu.

Masih ingat kado tas yang pernah adek kasih saat adek masih kuliah
dulu? ibu bilang pasti harganya mahal. Iyaa bu sangat mahal untuk
mahasiswa yang hanya punya gaji 75 ribu rupiah perbulan. Adek beli nya
kredit. Saat tahu tas itu pertama kali adek bayangkan pasti ibu keren
dengan tas itu. Tas coklat dengan selempangan. Ibu tidak perlu susah
menjinjing saat berangkat sekolah jalan kaki. Dan ibu cantik pagi itu
dengan tas baru ulang tahun dari adek. Berangkat kerja sambil berpesan,
“Mumpung di rumah Dek anterin ibu berangkat ngajar ya”


Bu.
Adek selalu bangga melihat kamu berdiri di depan kelas walaupun muridmu
hanya tujuh. Lalu kita beli nasi bungkus makan bersama di dalam kelas.
Saat sore aku tidur di pangkuanmu di Pantai Cacalan. Kamu mengelus
kepalaku dan bertanya, “Dek.. masih mau jadi wartawan?”

“Iya Bu….”
“Sebenarnya sih ndak setuju tapi kalau itu pilihan kamu ya sudah. Ibu restui. Tapi baik-baik ya. Sering pulang ke rumah”

Lalu kami berbincang apa saja.

Bu. Buat adek ibu bukan hanya sekedar seorang perempuan yang melahirkan
tapi ibu adalah seorang sahabat. Orang pertama kali yang tahu aku
patah hati.

Bu. Ingat saat sebuah sore di Taman Sri Tanjung.
Kamu selalu geleng-geleng ketika adek berjalan berjingkat atau berjalan
terlalu cepat. Lalu kita pesan kopi dua. Sambil berbincang ibu menunjuk
burung-burung yang terbang di atas beringin.

“Dek. Kalau sudah malam burung itu pulang ke kandang. Pulang ke rumahnya”

Adek tahu bu. Kamu pasti merindukan anak perempuan mu ini anteng di rumah menemani kamu.

“Kamu harus keluar dari rumah. Kamu harus keluar dari Banyuwangi. Mau
jadi apa kamu di sini. Bumi Gusti allah ini luas Raa. Banyak yang akan
kamu dapatkan dan kamu temu di luar sana. Bukan di Banyuwangi”.

Dan adek sekarang pulang Bu.Sudah 2 tahun lebih satu bulan adek pulang
ke kota kamu. Banyuwangi. Semacam dulu adek selalu pulang di hari ulang
Tahun mu,

Bu.

Dari sekian tahun tahun tanggal 18
Desember adek selalu memilih stay ke Batam. Termasuk tahun kemarin. Atau
pergi ke negara antah berantah untuk berdiam mendoakanmu.

Tapi tidak tahun ini Bu. Adek memilih melawan ketakutan di hari ulang
tahun mu untuk tetap di Banyuwangi. Walaupun perasaan semacam di aduk
aduk. Percayalah Bu. Ini lebih sakit dari sekedar patah hati.

Rasanya di rumah ini semuanya penuh kenang tentang mu. Tentang kamar mu
yang adek pilih menjadi kamar pribadi. Tentang selimut mu yang masih
adek gunakan sampai malam tadi.

Kamu semacam menjelma menjadi aku

Selamat ulang tahun bu.

Oh ya…. tentu kamu masih ingat saat ulang tahun mu juga bersamaan
dengan Hari Jadi Banyuwangi? lalu bersamaan juga dengan ulang tahun Kota
Batam?

Ah Bu. Salah satu alasan sederhana saya juga mencintai dua kota itu. Kamu. Banyuwangi dan Batam.

Semacam sebuah segitiga yang mengikat.

Bu, adek tidak melawan. Adek menerimanya.

Selamat Ulang Tahun Bu…. ternyata merindukanmu sangat rumit

Banyuwangi, 18 Desember 2014
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *