Uncategorized

SELAMAT SORE TUAN MOESA

Selamat Sore Tuan Moesa.

Apakah kabar mu di Surga? betahkah kau disana? Semoga. Sampaikan salam
hormat kepada perempuan yang menjadi ibu ku dan istrimu. Serta anak-anak
ku.

Hari ku mungkin akan suram dalam beberapa waktu ketika aku
harus berdamai dengan nama kehilanga. Separti 20 tahun lalu saat aku
kehilangan kamu Tuan Moesa. Hanya bedanya, kamu tidak pernah janji untuk
kembali tapi dia berjanji untuk selalu menemani ku. Mungkin hanya berjeda saja dalam beberapa ratus jam .

Kau tau Tuan Moesa. Aku sedang menyediakan sebuah kesedihan dan kembali
membiasakannya. Kembali terus berkutat dengan apa saja sehingga
menjungkirbalikkan malam menjadi pagi dan pagi tetaplah pagi. Mengisinya
hanya dengan mimpi dan kenang-kenang yang berseliweran begitu saja.
Saya sudah menyimpannya ratusan file.

Akhirnya aku menyerah
Tuan Moesa. Memilih merelakan dia sebab tubuhku sudah berteriak memberi
peringatan. “Rela sama ikhlas beda. Rela itu karena hal – hal tertentu.
Ikhlas itu ya tanpa tapi”

Ah Tuan Moesa seharusnya aku
menyapamu untuk mengenang wajahmu yang aku lupa bukan nglantur bercerita
kemana-mana seperti sore ini. 20 tahun lebih aku lupa bagaimana bau
tubuhmu, bagaimana suaramu. Bagaimana pelukan mu, bagaimana kamu
memanggil “nak” kepadaku dengan logat aneh semacam suku Bugis. “Kau anak
Jawa Raa”. Bagaimana dialogmu kepadaku? kapan terakhir aku bicara
padamu? 20 tahun yang lalu? entahlah.


Apakah kamu sama dengan
laki-laki yang aku miliki saat ini ? aku lupa apa iya aku bisa
mengingatmu? yang mengajarkan bagaimana aku belajar untuk melepaskan
seperti saat aku dipaksa melepas kan kamu dan menyandang “yatim” di usia
yang aku sendiri tidak tau apa itu malam dan siang.

Tuan
Moesa. Aku rindukan kamu sangat. Dan hari-hariku besok aku juga akan
menyicil rindu yang sama seperti rindu kepada kamu. Membiasakannya saja.

Beristirahatlah dengan tenang, sementara aku di dunia ini masih terus berpacu dengan waktu, yang entah sampai kapan.

Tuan Moesa. Aku sudah bukan lagi bocah kerudung putih dengan rok merah
seperti saat kamu pergi. Katanya aku sudah menjadi perempuan yang
berumur jika tidak mau disebut tua. Tapi Tuan Moesa jika boleh memilih
aku mau menjadi anak-anak yang “ndusel” di bawah lengan kamu sambil
mendengar cerita kamu tentang Soekarno atau suku laut atau Lembang Daeng
tempat kami dilahirkan di tanah Makasar.

Semacam Lelaki hujan. Sepertinya tidak (lama ) lagi kita (tidak) akan bercengkerama.

13 Februari 2014.

Kepada Ayah ku yang menitipkan “bugis” dan “pemberontak” kepadaku.

“Kau anak Jawa Nak. Bukan anak Bugis”.

Tidak Bapak…. adek anak Jawa yang “bugis”. Seperti kamu dan istrimu yang juga ibuku.

Sore Tuan Moesa. Adek kangen kamu.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *