Uncategorized

SELAMAT MALAM, “Y”

” Hidup merangkai kata mengungkap rasa ternyata cukup bahagia karena diri jadi ada dan tak sia-sia”
Merpati pos’ kan tiba
Bawa cengkram darahku
Menyiram matahari sore di atas kotamu
Aku akan mengawali semuanya dengan satu kata
              RINDU
Kau tau, Y
Kalau malam tertawa diam-diam
Saat aku menelungkup sendirian, mungkin menangis…aku…..kangen?
Dia tetap tertawa kala aku jadi bisu dengan notasi lagumu
Pasti kau rasa, Y
Malam turun terus
Diam-diam mengucapkan salam
Dan dari dadaku mengalir sejuta kata yang tak sempat kuucap
Tak mengapa, Y
Ucapkan saja pada malam minta pada nya mimpi kita
              sementara menunggu esok aku tetap sendiri
Sekali saja, Y
Kau pasti tau apakah harus ada ucapan selamat malam
Sekal saja meski juga tak bernada seperti lagumu
“Mestine yo ro ning kene…… Sun lungguh nyanding larene…… Kepengin ati rasane…..Turu semende dadane”
Memang bukan untukku
Seperti pernah kau katakan padaku, ” Kau bukan cinta abadi ku”
Tak mengapa, Y, Kembang Galengan tertinggal sendiri tanpa siraman
Karena dia akan mati di bunuh pisau rindu yang menancap telak dijantungnya
Tak bisa berkata : Cintanya terlalu berat atau aku terlalu merah untuknya
Mungkin kau harus tahu, Y
Tempat ku susun harapan akhirnya harus musnah
Menghitung kangen-kangen yang berkeping dan merasa bintang betul-betul menimpa kepalaku
Sudah penuh sesal seluruh cintaku kuronce malah penghabisan kembang setaman ku taburkan
Biar ku ingin kau mengerti
Ini sebuah cinta bukan permainan 
Kalau gemawan itu bisa jatuh antaralangit dan lazuardi
Mengapa awan di hatimu tidak
Kalau matahari setiap senja memerah menghanyutkan batas pandang kasih di mataku
Mengapa matahari di hatimu tidak?
Aku hanya bertanya padamu, “Kalau?”
Kalau….semua harus, Bagaimana dengan aku?
Kamarku hilang hanya tingal sepetak mimpi dan aku terperangkap di atas tilam
Kau lupa bahwa aku adalah musafir yang selalu merindu pelukan seorang seperti Samudra
Dalam lingkaran waktu yang terus berputar kita masih mencoba untuk menahan diri 
              mengekang hasrat mencoba melawan kodrat
Kau berkubang dalam sebuah impian
Aku terbenam – nyaris mati – dalam sebuah rindu
Tidak berani aku bertanya mengapa ke tempat ini, kau membimbing aku melangkah
Dan jangan pula kau tanya mengapa kita senang berada di sini
Menyusuri jalan-jalan padahal di sini senyap tak ada siap-siapa
Padahal di sini penuh dengan keraguan
Antara hasratku dan mimpi-mimpimu
Antara kepastianmu dan keraguanmu
(ku baca sesal di raut wajahmu seperti bergemuruh tanya itu menyiksa; kenapa kita diam membungkam perasaan sendiri? atau kenapa dulu dan sekarang harus ada cinta?)
Jawablah tanyaku ini, biar malam tak menyiksaku
Dalam kesendirianku, ku rasakan arti keberadaanmu
Rindu yang dulu pernah ku berikan kepadamu tolong kembalikan jika kau tak memerlukannya kembali
Tak mengapa, Y
Setiap ku tatap wajahmu ingin kutanya. Ada apa?
            (masihkah tersisa rindu)
Mungkin tak pernah lagi terurus di hatimu tentang aku
Hingga akhirnya cuma ku sayat cintamu pada ilusi semu
Sekali saja, Y
Jika kau tanya tentang cinta, jangan padaku
          Carilah jawabanya pada hembusan malam
Jika kau tanya tentang kesepian jangan padaku
          Tanyalah pada hatiu sendiri
Dan bila kau bertanya tentang kesetiaan
          Carilah lewat buih gelombang laut yang selalu mengawinkan angin pada malam
Karena aku terlalu lelah belajar melukiskan wajahmu di mimpiku
Sayang sekali kita tidak pernah bicara tentang cintaku padamu yang telah membuatmu terluka tanpa kau tau
Karena wakt terlalu egois
Cahaya perakmu semakin mendinginkanku
Bahkan malam-malam aku datang merindukan cahayamu dalam kamar merah
Hanya ada kebekuan, semakin merah aku
Sekali saja kau tau, Y
Bias mu yang kurindukan sedikit demi sedikit membunuhku dengan sederhana l
           lewat ujung api yang tak pernah mati semburatkan dingin
Padahal aku telah hitung kerikil-kerikil kasar anatar kotaku da kotamu
Tapi hanya ada kata hampa
Saat kutautkan rinduku pada secangkir kopi susu sambil menggumam
dan kau kembali bertanya tentang kesepian padaku
” Ah…..coba kau cari antara dada dan bibirmu”
Karena aku terlalu lelah mencari alasan untuk mencintaimu
Cataan kecil ku persembahkan pada Y, Terimakasih atas pertemuan yang indah ini
(kapan kita bisa menghabiskan secangkir kopi sabil bercerita tentang mimpi kita?) 
Tagged

14 thoughts on “SELAMAT MALAM, “Y”

  1. Mbak Iraaa.. ga bakal hilang followersnya. Asal ingat dicari di Widget – tambah widget followers. Tadi gek juga sempet bingung, loo.. kok kawan2 pada hilang!! Tapinya setelah ditambah widget, jadi tetap ada!
    Itu aja kok..
    😉
    Sukses terus ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *