Uncategorized

“SELAMAT KEMBALI KE BANYUWANGI MASA LALU”

Kota Banyuwangi di Jaman Regentschap

oleh: Hasnan Singodimayan

Kota Banyuwangi di jaman Regentschap, merupakan kota kecil yang
batas-batasnya serta keramaiannya terletak pada tiga titik kegiatan,
yaitu yang berpusat di bioskop Srikandi yang dekat pada pasar dan
terminal oplet. Perliman di Dandangwiring dan Pecinan sebagai pusat
perekonomian sinse. Sedang pelabuhan Banyuwangi yang masih bernama
“boom”, merupakan tempat pergudangan untuk kegiatan menyimpan pisang
yang akan dikirim ke Australia dan penyimpanan kopra.

Batas
kota sebelah utara hanya sampai di Keramat, sebelah selatan sampai di
pekuburan Belanda yang sekarang menjadi Kantor Kecamatan Kota. Sebelah
barat sampai di rumah sakit dan rumah penjara. Di luar bat as batas itu,
merupakan wilayah yang dikabarkan penuh dengan hal-hal yang menakutkan,
terutama jika menjelang matahari terbenam.

Konon katanya di
desa Maanggisan sampai Kanalan Sukowidi, masih terdapat begal dan
rampok, yang dilakukan para manol pabrik gula yang sudah bangkrut.
Antara rumah penjara sampai desa Penataban, terdapat banyak gandruwo
yang bertengger di pohon-pohon asam yang berjajaran sangat rapat dan
sangat lebat. Sekitar kuburan Belanda sampai desa Talun, banyak
bergentayangan kontilanak yang berbusana seperti nyonya Belanda.

Diantara sekian banyak tempat-tempat yang menakutkan, adalah
Bengkalingan dan Buyukan. Dua pedukuhan di Kelurahan Kertosari sekarang,
sebagai penghuni orang-orang Cina yang pandai bermain kungfu. Sehingga
para pendekar pencak di Banyuwangi belum dianggap jagoan,jika belum
berguru di Buyukan dan Bengkalingan.

Keramaian malam hanya
berpusat di sekiar bioskop Srikandi yang berdekatan dengan Masjid Jami’
dan pasar. Sedang pasarnya hanya terbatas di seputar Kelituran Kepatihan
dan bukan di Biskalan. Sebab Biskalan merupakan areal kuburan Belanda
di jaman VOC, berhadapan dengan sositet atau kamarbola yang sekarang
dipakai untuk Gedung Juang 45.

Ketika itu kota Banyuwangi hanya
punya dua lapangan. Lapangan sebelah timur dinamakan Tegal-Loji, karen a
berhadapan dengan Loji Inggrisan. Sedang lapangan sebelah barat yang
berada di depan pendapa Regentschap dan Masjid, dinamakan Tegal Masjid.

Di tengah kedua lapangan itu, terdapat dua tiga pohon beringin yang
cukup besar dan tua serta rindang. Sedang di pinggir lapangan ditanami
pohon kenari dan pohon sawo yang cukup banyak dan rapat, sehingga
membuat kedua lapangan itu sangat sejuk dan nyaman.

Di sebelah
selatan Tegal-Loji berdiri sebuah Hotel mewah milik Belanda dan rumah
sebelahnya dinamakan kampung Kulandan, karena dihuni oleh para Ambtenar
Belanda. Berhadapan dengan Loji Inggrisan terdapat lapangan tenis, yang
dipagar kawat kasa yang ditumbuhi pohon menjalar, sehingga para Ambtenar
yang bermain didalamnya tidak dapat dilihat dari luar.

Sesekali dalam setiap bulan di lapangan Tegal-Loji di selenggarakan
pertandingan Sepak Bola yang didatangkan dari Surabaya dan kota-kota
besar lain di Jawa Timur atau club sepak bola dari Betawi. Lapangan itu
dikurung dengan kain blacu seluas lapangan sepakbola setinggi tiga
meter.


Harga tiket masuk terbagi tiga, yaitu untuk Pribumi,
anak-anak dan orang Asing. Untuk pribumi seharga Satu Sen, untuk
Anak-anak seharga setengah sen yang disebut Seketeng dan buat orang
asing seharga dua sen setengah atau sebenggol. Yang dimaksud Orang
Asing, adalah orang-orang Belanda, Orang Cina, India, Arab dan orang
pribumi yang sudah berhaji. Portir yang menjaga pintu masuk dibantu oleh
Kontroler Belanda yang dibantu oleh Kapten Cina dan kapten Arab.

Umumnya para pemain dari luar itu bermalam di Hotel. Di Banyuwangi ada
tiga hotel, yaitu Banyuwangi Hotel, Srikandi Hotel dan Hotel Slamet yang
terletak berhadapan dengan Stasiun Kereta Api. Ketiga Hotel itu sudah
punya pelanggan sendiri. Banyuwangi Hotel khusus untuk para Ambtenar
Belanda, Hotel Srikandi untuk para pelancong dan para pemain sandiwara
yang akan bermain di Banyuwangi. Adapun Hotel Slamet untuk para pedagang
yang naik kereta api.

Di sebelah barat pendapa Regentschap,
terdapat timbangan motor, yang sekarang digunakan untuk Monumen Garuda
Pancasila. Di antara jalan raya di sampingnya terdapat “Tugu Pentol”
sebagai tanda batas kekuasaan VOC dengan Regent. Parkir kendaraan oplet
bertempat di sebelah selatan Tegal Masjid, diapit dua buah Pompa bensin
yang besarnya seperti gardu. Milik Kapten Cina dan Kapten Arab.

Di perempatan menuju ke pasar terdapat satusatunya toko Apotik, milik
seorang Belanda yang pintar menggunakan bahasa Banyuwangi Using dan di
sebelahnya menuju jalan raya berdiri tokoh Jepang bernama tokoh Nanyo,
sering dimusuhi orang Cina karena dianggap sebagai pesaing berat.
Di
depan gedung bioskop Srikandi, jika diputar film “Jawa” maka pada siang
harinya digelar “Angklung Caruk” untuk meramaikan suasana. Setiap
sorenya pasti ada arak-arakan yang membawa gambar film yang akan diputar
keliling kota dengan kendaraan dokar. Jika yang diputar film tarzan,
maka arak-arakan di atas dokar itu ditampilan “Tarzan-tarzan-an” yang
diperankan seseorang yang bertubuh atlet.

Menjelang malam
sekira pukul 9 malam sesudah film kedua usai dan toko-toko sudah tutup,
jangan harapkan ada orang yang berkeliaran, terutama anak-anak. Mereka
umumnya berada di dalam rumah atau di depan rumah, itupun dalam bentuk
ke lompok orang, untuk bercerita atau gesah.

Tapi menjelang
subuh, suasana akan berbeda. Sebab di subuh itu akan terdengar suara
pikulan yang sabut menyabut dalam jumlah yang cukup banyak, dari barat,
dari utara dan dari selatan, kesemuanya menuju ke pasar membawa
dagangan, sebab ketika itu becak belum ada, yang banyak hanya dokar.
Tapi umumnya dokar-dokar itu tidak keluar subuh, adanya menjelang
matahari terbit.

Tapi suasana malam itu akan berubah dan
berbeda, jika memasuki bulan puasa. Malam tidak lagi sepi seperti
biasanya. Toko-toko buka sampai pukul 10 malam, sebab orang yang shalat
tarawih di masjid dan yang darusan, baru selesai pukul 11 malam. Sesudah
itu para remaja kampong menyaingi petugas patrol yang keliling kampong
dengan kentongan bambu. Para remaja itu memukul kentongan bambunya
dengan nada yang lengkap, sehingga suaranya jauh lebih berirama dari
pada pukulan petugas patrol.

Di setiap persimpangan jalan di
kota Banyuwangi, terdapat sebuah gardu dengan sebuah kentongan kayu.
yang terkenal adalah kentongan Parliman, berbentuk raksasa dengan mata
yang melotot. Siang hari saja banyak orang yang takut, apalagi malam.
Diperempatan Kauman berdekatan dengan pendapa, terdapat kentongan yang
suaranya sangat nyaring dan di perempatan Lateng, terdapat kentongan
tidur yang cukup besar.

Diperempatan Singonegaran te rdapat
kentongan kayu yang berkepala sapi dan di Sawahan, suara kentongannya
terdengar sampai di desa Giri. Kentongan kentongan itu harus dipukul
mengikuti bunyi genta yang ada di dalam pendapa, yang dipukul mengikuti
bunyi genta yang ada di dalam pendapa, yang dipikuli oleh opas yang
menjaga pendapa. Kemudian genta itu dipindahkan ke Kantor Hoofbiro,
yaitu Kantor Polisi.

Di sebelah utara Masjid Jami’ terletak
Kantor Penghulu yang terdapat dua buah meriam kecil menghadap ke barat.
Sedang Kantor Asisten Wedana berjajaran dengan Sekolah PHIS, yaitu
Partikelir Holands Yolander School dan HIS-nya berada di sebelah kamar
bola di Tegal-Loji. Di sebelah Timur Tegal-Loji terletak sebuah benteng
peninggalan VOC yang kemudian dijadikan klinik.

Ketika itu
sekolahart hanya terbatas beberapa buah, selain HIS dan PHIS, terdapat
beberapa sekolah Angka Lima yang terletak, di Dandangwiring dan di
Lateng. Selebihnya adalah sekolah-sekolah partikelir yang didirikan
organisasi pergerakan , antara lain Sekolah Tamansiswa yang berada di
Karangbaru, sekolah Sari kat Islam yang berada di Singonegaran. Madrasah
Al-Khairiyah, Madrasah Qarunnajah di Tukangkayu dan Madrasah Al-Irsyad
di Kampung Arab.

Kota Banyuwangi di jaman Regentcshap akan
tampak sangat ramai, siang dan malam, jika di bulan lebaran. Sebab
lebaran di Banyuwangi berlaku sepanjang 7 hari 7 malam. Masyarakat
berbondong-bondong pergi ke “Boom” dengan mengendarai dokar. Sebelumnya
dil akukan “Puter Kayun” mengelilingi kota. Start dimulai dari terminal
dokar di depan bioskop Srikandi, ke utara sampai di perempatan Lateng,
belok ke kanan sampai Kampung mandar kemudian berbelok ke kiri menuju
“boom” atau berbelok menuju stasiun dan ke barat samapai parlimam dan
terus kern bali di bioskop Srikandi.

Pada mulanya Puter Kayun
di hari lebaran itu dilakukan oleh para Ambtenar Belanda dan istrinya,
kemudian diikuti oleh orang-orang kaya dan seterusnya oleh masyarakat
sebagai tradisi. Mengamati route yang dilalui hampir sama dengan route
pawai kernaval sekarang ini, hanya berbeda pada start, jika Puter kayun
dimulai start dari depan masjid dan finish di depan bioskop Srikandi.
Maka start pawai dimulai dari bekas kuburan Belanda yang menyeramkan dan
berakhir di bekas benteng VOC yang sekarang jadi gedung Wanita,
“Paramitha Kencana” apalagi jika di “boom” banyak pisang yang akan
diangkut ke kapal besar yang menunggu ke tengah kami, Pisang-pisang itu
dan kopra-kopra itu, diangkut dengan kapal-kapal atau yang diseret oleh
sebuah kapal boot.

Materi di atas dinukil dari Majalah Gema
Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan
Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.

Tagged

1 thought on ““SELAMAT KEMBALI KE BANYUWANGI MASA LALU”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *