Uncategorized

SELAMAT HARI BAPAK DAENG MOESA

Saya yang kecil
Berkali kali saya bercerita ttg ayah saya.
Namanya Daeng Moesa. Iyaa ‘daeng’ yang menunjukkan bahwa saya keturunan Bugis.
Percayakan jika saya bilang bahwa saya bukan 100% Jawa apalagi Using?
Jika saya marah, maka Bang Bur, anggap lah abang saya yang di Batam
selalu bilang, “Lihat lah Iraa. Kalau marah tampaklah dia bukan Jawa.
Dia Bugis”

Ayah saya salah satu anggota Kahar Muzakar sebelum dia
bergabung di Kodam Udayana Bali. Saya tidak pernah mencatatnya atau
mencari tahu siapa sosok ayah saya sebenarnya. Beliau meninggal saat
saya masih kecil.

Semacam Ayah, Ibu pun diam tanpa memberitahu siapa keluarga ayah yang tertinggal. Orang Jawa bilang “kepaten obor”.

Saya sempat memberontak tapi akhirnya saya berdamai dan menghargai
keputusan ayah dan ibu. Maka nanti saya akan pergi ke Makasar untuk
menemui dan mencari keluarga ayah saya. Menyalami mereka dan mengatakan,
“Saya iraa anak perempuan Daeng Moesa”

Cukup mereka tahu ada saya dan kakak saya. Lalu saya akan pulang kembali ke Jawa.

Kapan Raa? Nanti. Ketika saya yakin Tuhan sedang mengaturnya. Mungkin
Ayah dan Ibu lupa anak perempuannya suka membaca novel roman sejarah
yang berbau misteri. Lupa kalau anak perempuannya akan tumbuh dewasa dan
akan mencari “ujung”nya. Ketika saya hanya butuh mempersiapkan diri
saja..

“Aku mau ke Makasar cari keluarga bapak”
“Butuh tiket kapan?”
“Nanti kalau sudah siap”
“Disana menemui siapa Raa”
“Terserah Tuhan dan alam yang menentukannya”
“Jangan gila Raa”
“Ibu mungkin dianggap gila saat menikah dengan bapak lelaki asing dan
bukan Jawa yang dikenalnya dalam waktu tiga hari. Bapak pun mungkin gila
saat melarikan diri dari Makasar saat pasukan Kahar Muzakar di tangkap
dan terombang ambing 3 bulan di lautan”

Nama ayah saya Daeng
Moesa. Konon katanya bentuk kepalanya sama dengan saya. Matanya juga.
Karena mata ibu saya sipit. Ayah saya tidak mewariskan nama gelar Bugis
di nama lengkap saya. Nama saya hanya Rachmawati hampir sama dengan nama
ibu saya yaitu Ismiwati.

Nama ayah saya Daeng Moesa. Saya
mencintainya walau saya sudah lupa raut wajahnya. Dia sakit lalu
meninggal di Sukowidi saat saya masih kelas 3 SD. Waktunya banyak di
habiskan di Bali sehingga saya tidak punya moment banyak dengan dia.

Namanya Daeng Moesa. Saya merindukannya. Sangat. Semacam saya
merindukan ibu, mbah dan anak anak saya yang tidak sempat terlahirkan.

Selamat Hari Ayah, Bapak Daeng Moesa.

Foto ini adalah saya ketika kecil. Bapak dan Mas Nurul. Foto diambil di
Lapanga Puputan Bali. Saya menyelamatkan secuil kenang ttg dia. Bapak
saya namanya Daeng Moesa dia yang mengajarkan saya bagaimana mencintai
Indonesia

Banyuwangi, 12 November 2014

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *