Catatan

Selamat Hari Ayah, Daeng

Bapak saya bernama Daeng Moesa. Dia katanya dari Bugis Makasar. Katanya nenek moyang saya bernama ‘Mangkaok Daeng Marompak’
Saya tidak pernah tahu tanah dia di lahirkan. Bahkan sampai sebesar ini saya tidak punya keberanian untuk untuk meginjak “Sinjai’. Saya merasa bapak saya masih hidup disana.
Saya mencintai bapak saya walaupun saya lupa bagaimana wajahnya. Bapak saya dinas di Bali sedang Ibu, saya dan Mas Nurul tinggal di Jawa. Bapak pulang seminggu sekali itu pun jika tidak tugas keluar pulau.
Sungguh saya tidak punya kenang banyak dengan bapak ketika Tuhan lebih mencintainya yang pergi ke surga ketika saya masih duduk di kelas 2 SD.
Nama bapak saya Daeng Moesa. Hanya sebentar saya bersama dia. Tapi dia mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah mengajarkan saya ‘survive’ menjadi perempuan.
“Jangan cengeng. Kamu boleh menangis. Tapi hanya sebentar. Menangis tidak menyelesaikan masalah,” katanya saat itu saat saya bertengkar dengan teman SD
Nama ayah saya Daeng Moesa. Dia mengajarkan saya untuk berani bermimpi. Mengajarkan saya mencintai hujan dan bermusik dengan meloncat-loncat serta memainkan genangan air dengan kaki.
“Dengarkan musiknya dek. Pejamkan matamu dan kamu menarilah,” bisik ayah saat itu.
Sejak itu saya mencintai hujan. Apalagi saat bapak meninggal, bapak juga diantar hujan. Hujan bagi saya menghadirkan bapak, ibu, emak dan Aulia.
Bapak. Mulut saya seakan kaku menyebutkan satu kalimat itu. Sudah 28 tahun lebih saya tidak mengucap kata “bapak”.
“Dek … jaga ibu mu,” katamu saat itu. Dan kini bapak jaga ibu kan? Duhhh betapa saya merindukan kalian. Tentu dengan Aulia dan Emak, perempuan yang melahirkan istri kamu Pak. Ibu saya.
Bapak saya Daeng Moesa. Dan saya sangat merindukannya
Pak…. adek cuma mau bilang, “Selamat Hari Ayah”
Banyuwangi, 12 November 2017
Tagged , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *