Kuliner, Traveling

Sejarah panjang di seporsi Mie Apong Jember

Minggu, 4 Maret 2018.
Hari ini saya menginap di Hotel Dafam Jember. Ada kegiatan bersama dengan kawan-kawan Aliansi Jurnalis Independen selama tiga hari. Dari jendela kamar hotel saya di lantai 3, saya melihat Plaza Johor yang berarti ada banyak makanan legendaris di sekitarnya. Dan saya memilih datang ke Mie Apong Sampurna yang berada tepat di belakang Plaza Johor. Saya mengajak Friska untuk makan siang.

Mengenal Mie Apong sekitar tahun 2001-an saat masih kuliah di Jember. Saya ingat saat itu baru pulang dari Blitar, lalu Memphi sahabat saya menjemput di terminal kemudian mengajak saya ke Mie Apong. Sejak saat itu, Mie Apong menjadi salah satu langganan saya. Apapun isue yang beredar, saya tetap menjadikan Mie Apong menjadi salah satu kuliner favorit di Jember,

Kami -saya dan friska- memesan dua pangit mie porsi kecil dan pangsit kuah. Walaupun mie porsi kecil, tapi porsinya tetap sangat besar bagi kami. Jadi jangan coba-coba pesan porsi utuh kalo makannya sedikit, kecuali sedang sangat kelaparan. Sebenarnya saya ingin memesan menu lainnya yaitu Bakwan kuah dan juga Sok Mie, tapi saya berpikir siapa yang akan menghabiskan. Kedai ini buka jam 10.30 dan tutup jam 21.30. Ada beberapa cabang lain di Kota Jember, tapi kedai yang saya datangi ini ada tepat dibelakang Plaza Johor tengah kota Jember.

Mie dari mie apong ini setengah kering dan mienya agak besar. Lembut dan gurihnya terasa sekali. Jika suka berkuah, pesan saja kuah terpisah. Walaupun tanpa kuah, rasa umami mie tetap nendang. Tapi yang paling saya suka adalah topping ayam yang berlimpah plus bawang goreng dan juga potongan daun bawang. Sama sekali tidak pelit toping, Bahkan mie yang saya pesan tertutup full dengan toping. Saya suka daun bawang karena membuat mie terasa lebih segar.

Di meja ada acar timun di dalam toples, acar lombok hijau di mangkok, sambel, saos dan kecap. Silahkan ditambahkan sendiri sesuka hati. Kalau saya cukup sambal saja, karena saos dan kecap buat saya hanya akan merusak rasa original dari mie apong. Sambalnya khas, warnanya sedikit gelap dan berminyak. Bukan manis asam dan berwarna terang seperti pada mie ayam pada umumnya yang juga sering dibuat cocolan pangsit dan bakwan. Jika dicampur dengan mie akan ng blend denga rasa gurihnya.

Acar timur dan acar lombok hijau bisa ditambahkan jika suka rasa yang berbeda dalam mulut. Tentu sensasinya berbeda jika menemukan rasa pedas dari acar lombok hijau atau dari sambalnya.

Walaupun banyak langganan, tapi pelayanannya cepat sekali. Saat datang segera pilih tempat karena warung akan penuh apalagi saat datang bertepatan dengan makan siang. Di sana juga tersedia lumpia dan bakwan goreng yang bulat. Tapi entah kenapa saya lebih suka bakwan goreng bulat zaman saya kuliah dulu karena saat itu saya masih menemukan cacahan daging ayam dan udang. Kemarin saya tidak menemukan itu karena semuanya sudah halus dan lumat. Tapi rasanya masih tetap enak buat campuran makan mie.

Satu porsi mie pangsit dihargai 12 ribu, sedangkan untuk porsi kecil seharga 10 ribu. Sedangkan untuk sok mie porsi utuh seharga 20 ribu dan porsi kecil seharga 15 ribu. Cukup murah dengan porsi besar dan rasa yang sangat enak. Padahal dulu zaman saya masuh kuliah merasa makanan ini sangat mahal. Ya secara zaman dulu saya beli nasi makan siang seharga 1.500 rupiah untuk ngirit.

Oh ya Sok Mie ini sama dengan mie pangsit tapi ditambah bakwan atau bakso. Sementara untuk bakwan kuah seharga 10 ribu dan pangsit kuah seharga 7,500. Cuma tambahan informasi, bakwan ini sama saja dengan bakso atau meatball atau pentol. Tanpa ada tambahan apa apa hanya kuah saja. Sedangkan pangsit kuah ini semacam yang ditemukan di dimsum. Hal ini penting karena sebagian orang menyebut pangsit itu ya mie.

Tapi bagi saya yang terpenting adalah bagaimana sejarah tentang Mie Apong. Saya sempat beberapa kali mencari kapan Mie Apong ada di kota Jember tapi nihil. Hingga akhirnya saat saya unggah di instastory, salah satu admin dari Mie Apong memberikan respon. Dia memberikan informasi yang buat saya ini adalah kuncinya.

Mie Apong ada sejak tahun 1967 dan dirikan oleh Pak Apong Abdurrahman asli dari Kabupaten Jember. Beliau adalah seorang mualaf keturunan Tionghoa dan sekarang sudah dikelola oleh generasi kedua. Noted!!  akhirnya saya menemukan jawaban mengapa mie ini enak sekali. Akulturasi mie dari Tiongkok dan rasa yang disesuaikan dengan lidah lokal Jember.

Berbicara tentang sejarah mie masih diperdebatkan. Tapi dari manakah mi ini berasal? Tidak susah ditebak, ya memang, dari negeri Tiongkok. Orang Italia, Arab dan Tiongkok sama-sama klaim bahwa merekalah penemu mi, tapi yang jelas bukti dan jejak tertulis tercatat ditemukan di jaman East Han Dynasty di antara tahun 25 – 220 Masehi. Jejak tertua ditemukan bulan Oktober 2005 di situs Lajia (Qijia culture) di pinggiran Yellow River di Qinghai terbuat dari foxtail millet dan broomcorn millet.

Secara umum mi didefinisikan sebagai: adonan tipis dan panjang, digulung dan dimasak dalam cairan mendidih. Cairan mendidih ini bisa air, bisa kuah, bisa minyak, sehingga bisa dikatakan bahwa cairan mendidih adalah media pemasak mi. Kata noodle sendiri ditengarai dari bahasa Jerman nudel dan kemungkinan berasal dari akar kata nodus (knot = simpul) dari bahasa Latin. Sementara kata “mi” berasal dari dialek Hokkian dari kata “mian” (baca: myen). Menurut bahan bakunya, ada beberapa jenis mi, yakni yang dari millet, wheat atau gandum, beras, mung bean, kentang (potato) atau canna starch dan buckwheat.

Itulah ‘mainstream’ bahan baku mi di seluruh dunia. Namun demikian makin banyak lagi bahan mi yang divariasi dan dimodifikasi dari jagung misalnya, ketela rambat, singkong dsb. Tapi gandum masih memegang urutan tertinggi dalam dunia per-noodle-an. Ide untuk membuat instant noodle adalah untuk mengawetkan. Jejak awal instant noodle ini dari Qing Dynasty, yang disebut dengan yimian, digoreng dengan cara deep fried untuk disimpan dalam jangka waktu lama.

Kembali ke Mie Apong Jember. Mau tidak mau, saya mengakui bahwa Mie Apong adalah salah satu khazanah kuliner yang dimiliki Jember, kabupaten tetangga Banyuwangi tempat saya tinggal saat ini. Walaupun bukan kuliner asli Jember, Mie APong sudah memiliki tempat tersendiri bagi mereka yag pernah singgah dan mencicipi mie legendaris ini.

Menutup catatan ini dengan mengutip obrolan saya dengan Friska siang itu selepas menikmati seporsi Mie Apong Jember.

“Fris…karena makanan nggak hanya soal kenyang, tetapi ada sejarah panjang yang tersaji di atas meja. Salah satunya ya mie apong ini”

Tagged , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *