Uncategorized

SAYA BENCI JIKA HARUS BERKATA INI

Seharusnya saya sudah tidur dan memejamkan mata
sore ini. Menghidupkan AC mematikan TV dan lampu. Yaa….saya harus banyak
istirahat walaupun saya tidak sedang ingin beristirahat siang hari ini.
Entah pikiran saya sedang tidak bersahabat.
Saya selalu benci jika berbicara menggunakan perasaan.
Berbicara…..? ahhh bagaimana ini di sebut
pembicaraan? jika hanya aku saja yang menginginkan pembicaraan. Sedang kamu
cuma diam-diam dan diam tanpa mengungkapkan perasaan. Saya seperti orang bodoh.
Mencampur adukkan perasaan antara profesional dan perasaan. Saya punya hak
untuk memutuskan untuk mengambil keputusan. Tapi sekarang?
Banyak yang ingin saya tanyakan. Banyak yang
ingin saya katakan. Bukan…bukan tentang kita. Tapi tentang sesuatu yang
menyangkut banyak orang. Tapi kamu adalah salah satu orang yang terpenting
dalam kehidupan saya. Yang saya anggap paling mengerti saya. Salah satu
“sahabat” terbaik saya.  Tapi sekarang? saya tidak bisa berbuat
apa-apa. Hanya mengulur-ngulur waktu hingga kamu mulai lagi mau berbicara
kepada saya sampai suatu batas yang saya sendiri tidak bisa menentukan kapan
waktu itu tiba.
“Kita profesional saja. Bukankah semua
bisa kita bicarakan baik-baik?.

Saya belajar dari kata-kata itu. Belajar dalam
sebuah kesulitan yang saya buat sendiri. Dari kebodohan dan kecerobohan saya.
Dari ketidakprofesioanalan saya sebagai seorang pemimpin. Yang mencampur
adukkan semuanya dalam otak saya.
Ah….saya benci jika saya harus bicara seperti
ini apalagi menulis catatan ini. Tapi bukankah kau tau? jika aku hanya bisa
jujur berbicara lewat catatan-catatan saya. Entahlah…paling tidak beban saya
sedikit berkurang. Tidak peduli apakah kau membaca catatan ini atau tidak.
Saya sekarang hanyalah perempuan bodoh dalam
catatan-catatan saya. Jangan……jangan pernah suruh saya untuk mengeluarkan
keegoisan saya sebagai seorang “Raa”
Fuichhh……..saya benci. Sangat membenci diri
saya di saat seperti ini.
Saya berharap ada mukjizat Ramadhan esok hari.
Saat saya membuka mata dan mengambil sebuah keputusan dan pembicaraan tanpa
emosi serta kepala dingin. Bukankah kita berdua sudah sama-sama bisa bangkit
dari keterpurukan selama minggu-minggu terakhir ini? walaupun saya tahu bukan
hal yang mudah untuk saya dan juga untukkmu.
Percayalah….Dalam kehidupan saya kau tetap
salah satu yang terbaik dalam catatan-catatan perjalanan saya.
Sahabat…saya benci jika harus mengatakan ini.
Bahwa saya hanya ingin berbicara dan memastikan bahwa semuanya akan baik-baik
saja.  Ketika saya belajar untuk menjadi manusia yang lebih bertanggung
jawab.
Batam, 14 Agustus 2011
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *