Uncategorized

SEBLANG BANYUWANGI: ANTARA TRANCE DAN KENYATAAN

Mistis. Jika aku diharuskan mengucapkan satu kata untuk menggambarkan tarian Seblang Banyuwangi. 
Seperti siang itu, 19 September 2010. Langkahku berhenti di satu desa Olehsari (5 kilometer arah barat dari wilayah Banyuwangi kota) Kecamatan Glagah Banyuwangi. Disebuah lapangan desa yang dipenuhi oleh ratuan orang. Suara gending-gending Banyuwangi mengalun lembut seakan-akan mempunyai roh memanggilku untuk bergegas menyaksikan ritual Seblang yang diadakan tiap tahun pasca lebaran Idul Fitri.
Di tengah lapangan desa sebagai pusat upacara tampak sebuah tonggak berupa tongkat panjang yang ditempel batang tebu segar. Disisi tonggak tertanam kokoh sebuah Payung Agung. Selain berfungsi sebagai sebagai tempat Pemain Musik, sepertinya juga merupakan ekspresi Yoni, yaitu sentral kegiatan upacara yang bersifat metafisik tersebut.
Di sebelah barat, tak kurang 8 (delapan) orang wanita setengah baya yang bertindak sebagai penyanyi (sinden) duduk di sebuah gubuk tak berdinding, siap mengiringi Penari Seblang. Pada gubuk yang beratapkan daun nyiur tersebut, bergelantungan puluhan buah-buahan dan Poro-Bungkil (hasil bumi) yang merupakan simbolis kemakmuran desa.

Bau dupa mulai menyeruak, ketika gadis muda masuk ke lapangan diiringi dengan beberapa dukun Seblang. Dialah penari Seblang terpilih yang di tentukan secara mistis dan menggunakan supranatural oleh dukun setempat. Beberapa hari sebelum Seblang dimulai, biasanya beberapa warga Olehsari akan kesurupan dan menyebutkan satu nama gadis perempuan yang belum aqil balik, dan dia yang akan dipilih sebagai penari Seblang. Biasanya penari adalah keturunan dari penari Seblang sebelumnya
Dengan pakaian khas, wajah gadis itu tertutup omprog (penutup kepala) yang terbuat dari rangkaian daun pisang muda. Seorang wanita muda menyrongkan nampan ke tangan gadis muda itu. Tak lama kemudian setelah asap dupa membungkus tubuh gadis itu, secara tiba-tiba nampan itu terjatuh dan saatnya ritual Seblang dimulai. Diiring dengan gamelan khas Banyuwangi yang terdiri dari sebuah kendang, satu buah kempul atau gong, dua buah saron dan biola sebagai penambah efek musikal, gadis muda itu menari mengitari payung agung diringi 5 pawang yang berusia lanjut, 3 laki-lak dan 2 perempuan. Dalam keadaan trance atau tidak sadar, gadis muda itu menari mengikuti arahan para pawang sambil menggerak-gerakkan selendangnya ke penonton. Sekilas gerakan tarian Seblang tidak beraturan tapi nuansa gaib seakan membuat mataku terpaku. Gending pertama yang dibawakan adalan Seblang Lukinto. . “Seblang yo Lokento sing dadi encakono …” berulang-ulang dinyanyikan oleh para pesinden dengan antusias penuh riang.
Perbedaan terjadi saat Gending beralih ke kembang Dirmo. Sang pawang mengeluarkan satu nampan berisi tusukan bunga yan terdiri dari beberapa jenis. Bunga tersebut di asapi dengan asap dupa dan kemudian di jajakan ke penonton dengan harga yang sangat murah. Konon bunga itu akan membawa keberuntungan untuk rejeki dan juga untuk mempermudah mendapatkan jodoh. Dalam hitungan menit, tusukan bunga tersebut amblas diborong oleh para penonton dan salah satunya aku.
Atraksi yang cukup membuat aku terpesona adalah ‘Ngibing’ yang dilakukan pada hari ketiga dan seterusnya dari 7 (tujuh) hari pementasan seblang. Masih dalam keadaan trance, gadis muda diangkat oleh pawang ke atas sebuah meja sehingga semua penonton dapat melihatnya. Sambil menari, gadis tersebut melemarkan selendang kea rah penonton. Dan siapapun yang terkena lemparan selendangitu diwajibkan ikut naik ke atas meja menari bersama gadis muda yang masih dalam keadaan trance. Stelag selesai, selendang tersebut kembali dilemparkan ke penontong dan itu dilakukan berulang-ulang. Interaksi antara Seblang dengan penonton secara langsung memberikan sebuah energi yang berbeda.
Senja mulai turun. Adegan berubah sedikit mellow, saat gending Condro Dewi di kumandangkan. Adegan ini merupakan puncak orgasme tarian Seblang, setelah menari sekian lama kemudian gadis muda tersebut terkulai dan pingsan. Namun setelah para sinden menyanyikan gending “Erang-erang” yang terdengar sangat sendu, secara perlahan membangkitkan kembali sang Seblang di bantu dengan bantuan para pawang. Konon, saat ini adalah saat yang tersulit, pasalnya jika pawang tidak berhasil menyadarkan sang Seblang, maka nyawa yang akan menjadi taruhannya.
Tidak ada penjelasan yang tepat sejak kapan Seblang muncul di Banyuwangi. Namun masyarakat Banyuwangi menyakini jika penari Seblang pertama adalah Semi yang juga menjadi pelopor Gandrung perempuan pertama di Banyuwangi. Ia meninggal tahun 1973. Saat itu Semi kecil sakit parah, dan saat sembuh, ibunya, Mak Midah bernadzar akan me-seblang- kan Semi. Saat dewasa Semi pun menjadi Gandrung perempuan pertama di Banyuwangi.
Upacara Seblang biasa dilakukan di pedesaan, konon pada abad ke XVI pernah dipindahkan ke istana oleh seorang bangsawan Blambangan yang bernama LUKINTO. Tetapi Seblang yang dilakukan di Pendopo Kadipaten dan dikenal orang dengan nama “Seblang Lukinto” itu kini telah musnah.
Namun hasil dari penelitian bahwa, sejarah tari Seblang didesa Olehsari berawal dari kebudayaan Pra-Hindu yaitu sejak masa pemerintahan Sri Gunapriya Rajapatri (929-943 M) keturunan Empu Sindok dari Jawa Timur dan pernah memerintah Bali bersama suaminya Undayana. Tari seblang yang merupakan bentuk budaya tradisional yang tidak dapat dipisahkan dari ciri khas kehidupan masyarakat Banyuwangi, khususnya masyarakat desa Olehsari. Hal ini terlihat ritual keyakinan masyarakat juga menggambarkan perpaduan antara ritual Hindu dengan ritual Islam, dan sebagai salah satu bukti pelaksanaan tradisi yang secara turun-temurun apabila ritual tari Sseblang tidak diadakan akan ada sangsi moral dari perasaan hukum masyarakat sehingga masyarakat tetap melaksanakan dan melestarikan tari Seblang sebagai ketentuan para roh leluhur. Sekitar tahun 1960-an, ritual Seblang sempat ditinggalkan warga karena alasan politis dan keamanan. Keanehan pun muncul. Mendadak sejumlah warga kesurupan tanpa alasan yang jelas. Setelah dilakukan upacara, mereka yang kesurupan meminta ritual Seblang. Sejak saat itu tradisi Seblang terus dilestarikan hingga sekarang.
Selain berkaitan dengan hal-hal mistis, tari Seblang juga merupakan bentuk pemujaan pada Dewi Sri yang dikenal sebagai dewi padi, dewi kesuburan. Hal ini terlihat dari palawija dan hasil bumi yang digantung di lokasi tari Seblang. Sebagai acara bersih desa, diperaya jika Seblang dapat memberikan kemakmuran bagi masyarakat Oleh sri yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Tari Seblang pun, melambangkan kesuburan dengan simbol mahkota yang dipakai oleh sang penari yang dihias dengan kembang aneka warna yang melambangkan kesuburan. Satu kesimpulan yang bisa ditarik dari sini adalah betapa wanita merupakan sosok penting dalam mitos kesuburan, baik kesuburan tanaman maupun kesuburan reproduksi.
Tari Seblang bukanlah satu-satunya tari tradisional Indonesia yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanaman yang mereka peroleh. Dalam budaya Jawa-Mataraman dikenal yang namanya upacara Bersih Desa. Pada budaya Jawa non-Mataraman, dikenal pula upacara Sedekah Bumi. Di Bugis-Makassar, ada upacara bernama Mappalili. Dalam budaya Suku Dayak Kenyah yang berada di Kalimantan Timur ada pula upacara kesuburan yang disebut Lepeq Majau. Di Bali ada upacara Mungkah, Mendak Sari atau Muat Emping Ngaturan Sari.
Simbol kesuburan dilambangkan dengan sesosok dewi cantik jelita bernama Dewi Sri. Lain daerah, lain pula nama simbol padi dan kesuburannya. Dalam budaya Jawa, ada simbol yang bernama Nini Thowok. Pada budaya Sunda, dikenal dewi bernama Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati. Pada budaya Dayak, simbol padi dan kesuburan dilambangkan dengan penokohan Bini Kabungsuan.
Senja mulai menggantung. Mbahku bilang itulah saat Samarwulu. Saat mendekati magrib. Gending terakhir dikumandangkan. “Sampun Mbah Ktut sare sampun osan, yang kundangan yang muleh-muleh”. Artinya kurang lebih demikian : “Sudahlah Mbah Ketut, acara sudah berakhir, pengunjung sudah akan pulang”. Begitu usai diulang-ulang sebayak 10 (sepuluh) kali, sang penari Seblang tampak sadar kembali layaknya orang bangun dari tidurnya. Wajahnya pusat pasi saat ia terbangun pada sebuah kenyataan. 
Kawan-kawan yang kurindukan. Tetap survive menjaga sejarah. 
Dan aku pun ikut tersadar. Seblang Banyuwangi tetap survive di gempuran modernisasi. Banyak kekuatan alam dan keikhlasan masyarakat Olehsari untuk menjaga tradisi. Saat semuanya mengkampanyekan “back to nature”, Seblang tetap hadir untuk menjaga keselaran dengan alam. Walaupun terkadang banyak mata yang sadar melihat kenyataan itu, namun Seblang membuka mata hatiku untuk menyeimbangkan antara kenyataan dan impian.
Tiba-tiba aku ingat dirimu sayang. Aku bayangkan kau ada disini menyaksikan pesta adat Banyuwangiku, dan mendengarkan semua kisahnya langsung dari bibirku walaupun aku yakin kau akan asyik sendiri dengan pikiranmu. Kapan kau datang ke kotaku? Untuk menemuiku dan menari bersamaku. menari tarian hujan
Trance…….saat aku harus menyadari bahwa kau tak lagi memikirkanku.
Catatan ini kupersembahkan pada Banyuwangi-ku
Pada Ibuku
Dan pada mu yang memiliki mata hujanku
Aku merindumu untuk datang kekotaku
Tagged

7 thoughts on “SEBLANG BANYUWANGI: ANTARA TRANCE DAN KENYATAAN

  1. Enak bacanya mba….bgt bisa mewakili aku meski ga nonton sendiri….foto foto nya diolah lagi ya ? mateng warnanya.
    Salam buat anak anak anak KOSEBA, salut …. tanpa kalian apalah jadinya sejarah.

    Mungkin Koseba adalah satu dari banyak. Tapi gaung mu telah sampai di sini….. Bravo n teruso jenggirat…. kario isun nggeremeng njerone ati….

  2. Selama ini yang aku tahu hanya tari Gandrung Banyuwangi mbak. Thanks mbak atas informasinya. Semoga kebudayaan BAnyuwangi tetap dapat lestari.
    Rupanya Mbak Raa lama juga ya mudik ke Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *