Uncategorized

SAYA SEPEDA BARU WARNA BIRU

 

sepeda baru warna biru
Saya
mendongak ke atas. Langitnya biru dengan awan yang hitam. Dramatis
sekali senja hari ini. Saya menghela nafas dan kembali mengayuh sepeda
baru saya yang warna biru.

Oh ya saya belum bercerita jika
sepeda saya baru warna biru. Bukan, bukan sepeda mahal seperti yang
dipakai kawan-kawan dan pejabat Banyuwangi yang sering berseliweran
sampai harus di buatkan jalur khusus sepeda. Sepeda saya sepeda mini warna biru dengan keranjang di depan juga warna biru. Harga nya juga minimalis untuk kantong saya yang tipis.

Sehari ini saya memilih di dalam rumah saja hanya pagi tadi liputan ke
Ketapang untuk lihat KRI Banda Aceh yang merapat di Banyuwangi. Setelah
itu memilih saja di dalam kamar walaupun saya harus bersabar hati dengan
saluran tv dan kipas angin yang mati. Kapan terakhir saya tidur siang?
Entahlah. Mungkin sudah cukup lama.

Ketika sore saya menyapu rumah, menyiram 6 pot tumbuhan di teras. Hidup saya yang sendiri tiba-tiba indah sekali.


“Aku di Batam. Ada rencana bersih-bersih rumah Baloi sama Villa Panbil. Kamu nggak pingin pulang ke sini?”

“Iraa di Banyuwangi aja. Di sini nyaman”

“Katanya kepanasan? Di sini kan ada AC. Disini juga nggak capek buat
liputan. Kamu bisa jalan-jalan kemana aja. Katanya mau ke Singapura?”

“Pokoknya Banyuwangi. Kalo ke Batam main-main aja kalo kangen tapi nggak stay”

“Sempat ketemu kawan-kawan mu. Mereka semua tanya kamu. Dipikir kamu ikut pindah kesini lagi”

“Kalo ada tiket murah saya ke sana lagi lah”

Maka saya kembali ingat di Villa Panbil. Saya suka tiap sore duduk di
jendela lantai dua. Tepat di belakang rumah hutan Panbil. Kalau lagi
beruntung ada monyet yang bergelantungan di pohon-pohon yang berjarak
dekat dengan jendela.

“Jangan lupa tutup jendela. Nanti monyetnya masuk kamar”

Saya suka berendam dengan melihat langit yang biru. Sambil memutar
musik kencang-kencang. Atau jalan-jalan di kompleks villa panbil. Saya
sempat berpikir kompleks perumahan ini lebih banyak diisi pembantu,
karena saya jarang bertemu dengan majikan mereka.

Saya juga
masih ingat ketika 17 an, saya masih duduk di jendela lantai dua dengan
kaki menggantung di balkon. Dari titik saya berdiri daya melihat pasukan
di lapangan Tumenggung Abdul Jamal. Mereka menghormat pada Bendera
Merah Putih. Titik yang membuat saya berpikir bahwa saya harus melakukan
sesuatu bukan di zona nyaman. Sosialita? Tidak juga. Saya hanya suka
menyendiri dan menikmati hidup saya dan lupa bahwa saya makhluk sosial.

——————————-

Saya menggayuh sepeda baru warna biru saya dengan celana buruk rupa
saya dan kaos belel saya. Keringat saya semacam diperas. Ahh… Saya
jadi merasakan bagaimana menjadi orang minoritas di jalan raya dengan
sepeda murah.

Hei Raa. Menulis apa kamu. Nggak tau. Saya hanya
menulis yang sederhana saja ketika minggu-minggu terakhir ini otak saya
tersita untuk berpikir banyak hal.

Senjanya indah walaupun
saya menikmatinya seorang diri. Maka ketika saya memilih maka saya akan
bertanggungjawab dengan pilihan saya.

Jika pilihanmu salah
Raa? Saya akan tetap bertanggung jawab karena hidup tidak pernah
mengajarkan saya sebagai seorang pecundang yang lari dari kenyataan

Banyuwangi, 8 Mei 2014
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *