Uncategorized

SAYA SAMBU MELAYU

5 jam saya menyelesaikan tulisan tentang Sambu.

Mungkin ini catatan perjalanan terlama yang saya tulis. Catatan yang
membuat saya kepala pusing. Atau efek mabuk kereta kuda yang berbentuk
mobil yang saya naiki Banyuwangi Situbondo PP? atau efek jet leg yang
belum selesai? atau efek pemberitaan mutilasi anak perempuan usia 14
tahun tanpa kepala? atau karena saya belum makan?

atau karena mual kerena
Panglima TNI meminta maaf kepada Singapura terkait kebijakan Mabes TNI
AL mengabadikan nama Usman Harun ke dalam dua kapal perang milik
Indonesia?

Penamaan dua kapal perang yang memaksa saya untuk
berkunjung ke Pulau Sambu seminggu lalu. Kamu gila Raa. Hanya karena
Singapura emosi dengan nama Usman Harun, kamu memilih datang ke Pulau
Sambu seorang diri. Saya memang gila. Dan hanya orang “gila” yang
mencintai Indonesia.

Pulau Sambu merupakan pulau terluar yang
hanya berjarak 14 mil dari Singapura yang pada tahun 1965 masih bagian
Malaysia. Pulau Sambu yang digunakan Usman – Harun mengawali misi
mereka. Usman-Harun adalah prajurit Korps Komando Angkatan Laut
(Marinir) yang terlibat peledakan hotel McDonald di Singapura pada 1965.
Atas aksinya dalam misi Dwikora, Usman-Harun harus meregang nyawa
lantaran digantung aparat setempat.


Dari Sambu Usman-Harun
menggunakan perahu karet menuju Singapura. Ketika ada tentara, maka
Usman-Harun turun dan menenggelamkan diri semacam kayu yang terapung.
Tengah malam lalu mereka tiba di Singapura menjelang shubuh dan
melakukan aksinya.

Sambu, merupakan basis KKO dan juga orang-orang pulau membela kedaulatan negaranya, negara Indonesia saat “Ganyang Malaysia”

Sambu juga merupakan stroge tank oil oleh perusahaan perminyakan Royal
Dutch Shell sejak tahun 1927. Orang kapal pun meng-identikkan Indonesia
dengan Sambu Island, pulau yang berbentuk seperti orang tidur
terlentang. Hingga akhirnya tahun 1970 dikelola oleh Pertamina.

Sekarang mual bukan sekedar permintaan maaf kepada Singapura. Namun ketika Sambu semakin terlupakan, mungkin juga pemerintah.

“Katanya bangunan akan dibongkar. Semuanya akan diganti dengan
penginapan dan villa. Di bagian sana sudah di hancurkan tapi tidak tahu
yang mana karena tidak boleh masuk”

Saya terenyuh. Sekarang ternyata bukan hanya bermasalah dengan Singapura tapi juga ‘berhadapan’ dengan bangsa sendiri.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bangunan-bangunan bersejarah ini
akan hancur. Ada rasa terenyuh. Apalagi saat saya mengkonfirmasi hanya
mengatakan, “Ah emang iya? kok tidak ada laporan”. Hati saya semakin
hancur semacam patah hati. Semoga saja isue bangunan sambu akan
dibongkar tidak benar. Semoga….semoga….semoga…semogaaaaaaa……………

Lalu bagaimana Indonesia menyelamatkan “negara” nya sendiri. Lalu apa
yang bisa saya lalukan. Saya hanya bisa menulis saja. Ini baru Sambu.

Saya berkhayal seandainya Sambu menjadi sebuah kota tua dan tetap
dengan sejarahnya. Lalu ‘Indonesia’ bercerita pada anak-anak muda yang
berkunjung di dalamnya.

Selamatkan Sambu….selamatkan sejarah….selamatkan Indonesia.

Baiklah Raa. Kamu terlalu menceracau. Mungkin kamu terlalu lelah saja.
Tidur lah. Lalu bermimpilah tentang Indonesia yang hebat. Indonesia yang
luar biasa. Indonesia yang menghargai sejarah. Indonesia tanpa
konspirasi dan korupsi.

Semacam ketakutan kehilangan Kampung
Tua di kota Batam, saya juga takut Sambu menjadi sebuah dongeng
pengantar tidur untuk anak-anak kita kelak.

“Bunda… emang ada Pulau Sambu”
“Dulu Nak… sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah ganti”

Lalu apalagi yang akan kita wariskan pada anak-anak kita nanti? Indonesia bukan negara dongeng.

Saya menulis Sambu dari sini, Banyuwangi

“Raa…yang harus kamu Tahu Sambu itu memang pulau khusus untuk minyak”
Saya diam dan saya ingin sekali bilang, “Pulau Sambu juga milik
Indonesia. Dan Indonesia berhak menyelamatkan sejarahnya sendiri”

Banyuwangi, 27 April 2014
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *