Uncategorized

SAYA, PULAU MERAH DAN KAMPUNG BULE

Banyuwangi, 24 Mei 2014


Saya pernah di tegur oleh salah satu “satpam”
ketika saya motret di ajang Kompetisi Bartender Internasional yang
diadakan di Kampung Bule Nagoya Batam beberapa tahun yang lalu. Tahu
alasannya? karena saya menggunakan kerudung. Saya sempat shock saat ditegur dengan alasan yang tidak masuk akal menurut otak saya.

“Mbak beda. Karena mbak pake kerudung”

Saya baru sadar ketika secara berpakaian saya benar-benar berbeda.
Waktu sudah lewat tengah malam. Pengunjungnya hampir di dominasi oleh
bule tentu dengan pakaian minim. Karena lomba bartender tentu saja full
minuma beralkohol di meja-meja yang di tata di luar cafe-cafe di bule.
Saya garuk-garuk kepala dan berpikir saya yang salah atau mereka yang
salah?

Dan kejadian dengan atmosfer yang sama kembali saya
alami hari ini di ajang Surfing International di Pulau Merah Kecamatan
Pesanggaran Banyuwangi hari ini. Ketika pemerintah “menjual” kekayaan
alam dengan alasan pariwisata maka “tamu” yang diharapkan akan datang.
Tentu dengan budaya mereka. Dan saya pikir masyarakat tidak siap atau
belum siap tepatnya.


Coba bayangkan, ketika ada beberapa bule
perempuan yang sibuk berjemur dengan hanya menggunakan celana dalam,
hotpants dengan atasan tipis dan apa adanya dengan dalaman yang
menerawang sepanjang pantai Pulau Merah. Akhirya, mereka menjadi
“rasanan”masyarakat lokal. Yang katanya nggak sopan, aneh dan lain-lain.
Sedangkan di sisi lain Pemkab Banyuwangi menjual nya dengan lomba
surfing. Katanya harus sesuai dengan budaya lokal blaa….bla…blaaa.

Kata kawan saya dari luar kota, “Kalau nggak mau ada bule yang
telanjang ya Pemkab nya jangan adakan lomba surfing.” Saya ngakak saja.

Apalagi saat mendengarkan sambutan Bupati yang menjelaskan bahwa
pariwisata tidak harus identik dengan hal-hal yang negatif. Saya
senyum-senyum sendiri. Bagaimana dan apa yang terjadi di belakang anda
Pak? La terus foto-foto yang saya rekam di kamera saya apaan dong?

Lalu ketika hotel-hotel melati tidak boleh didirikan. Kost-kostan dan
losmen-losemen di razia dengan alasan untuk mengurangi penyakit
masyarakat dan bla…blaaa…blaa. yang lain. Saya mempertanyakan apa
iya kegiatan negatif, free sex atau apapun itu namanya tidak dilakukan
di hotel-hotel besar yang tidak pernah di razia? Apa iya tidak ada
prostitusi di htel sekian bintang? tidak ada yang mabuk? tidak ada yang
teler? tidak ada yang transaksi narkoba? apa iya kejahatan hanya
dilakukan di hotel-hotel kelas melati seharga 60 ribu? Apa ada jaminan?
lalu apa bule-bule yang nginep berdua lain jenis juga akan di cek apakah
mereka menikah dan membawa surat nikah?

Saya membayangkan
jika saya yang suka backpakeran maka akan memilih kelas melati atau pun
berbagi kamar dengan teman perjalanan untuk menekan pengeluaran. Dan
mungkin saya akan marah luar biasa jika saat saya beristirahat saya akan
di gedor oleh petugas yang mengatasnamakan razia. “Hei… gue
wisatawan”.

akhirnya saya menyimpulkan bahwa Banyuwangi masih
belum siap. Atau lebih mementingkan kepentingan “bule” dan pendatang
dari pada kepentingan saudara sendiri yang sama-sama berwarna cokelat.
Jogya? Bali? Saya ndak mau membandingkan tapi hanya mempersilahkan anda
sendiri yang membandingkan.

Saya di Kampung Bule Nagoya jadi
makhluk aneh, seaneh bule yang berjemur di sepanjang Pantai Pulau Merah
hari ini. Bukan aneh Raa. Tapi beda. Dan mungkin tidak semua orang bisa
menerima perbedaan seperti kamu Raa. *saya garuk-garuk kepala sendiri.

Doa saya salah satunya adalah tentang Gunung Tumpang Pitu yang tepat
menjadi pagar Pulau Merah. Bukan mencari perbedaan bule dan bukan bule.
Berdoa saja agar penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu di batalkan.
Sebelum masyarakat Banyuwangi terkontaminasi mercury dari ikan yang
dikonsumsi, lalu mati.

Iraaaaa………. upsss… semua ada
benang merahnya kan. Ini ceritanya Banyuwangi yang kehilangan identitas
diri. Semacam “ngambang”.

*foto ini diambil Shandi Sumarsono. Ternyata jari saya masih cukup lentik buat mengoperasikan kamera ini

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *