Catatan, Life Style

Saya (pernah jadi) penari

Saya menari pertama kali saat masih TK. Saat itu menari kelinci bersama dengan Yasmin yang saat ini menjadi dokter di salah satu rumah sakit miliknya sendiri. Menggunakan baju polkadot dot hitam putih dan tutup kepala mirip telinga kelinci.

Akhirnya saya ‘nyandu’ menari. Saat itu tidak banyak sanggar tari.
Guru tari, saya namanya Mbak Wiwit, yang juga guru TK saya. Latihan narinya ya di mana saja. Di rumah Sukowidi, di rumah orang bahkan dilatar gang kecil dekat rumah mbak Wiwit. Dulu saya punya 5 orang yang sering menari bareg saat Agustusan. Hal tersebut berlanjut hingga saya menyelesaikan SMP. Tarian terakhir adalah Margapati, tari Bali yang diajarkan bapak bapak yang saya lupa namanya. Tapi dia punya profesi membetulkan kompor. Bahkan ibu membelikan saya baju Margapati satu set. Sampai saat ini masih saya simpan dan berharap nanti anak saya yang akan menggunakannya.

Saat masuk SMA, untuk pertama kalinya saya harus memilih. Melanjutkan menari atau menggunakan jilbab karena nadzar jika masuk sekolah negeri. TK hingga SMP, saya memang seolah Islam yang mewajibkan saya menggunakan jilbab. Tapi diluar itu? Jangan tanya penampilan saya. Sudah kayak preman.

Maka dengan berat hati saya mengikuti nadzar menggunakan jilbab di sekolah negeri dan meninggalkan nari. Banyak yang mengusulkan toh nggak apa apa pas nari bisa buka jilbab. Tapi saat itu saya belajar untuk berkomitmen dan menepati janji. Berjilbab apa sudah pasti bener? Nggak pasti. Bahkan sampai detik ini sholat saya bolongnya banyak banget.

Tapi masih saya suka seni tari. Sebagai penikmat ataupun nari nari nggak jelas saat ada musik yang disuka. Saya kadang masih suka ikut gerakkan tangan atau kepaa saat liat musik Gandrung. Mencintai tarian dengan cara saya sendiri. Kadang berdiri saja di tepi pantai, mengikuti condong angin dan suara ombak.

Agustus bagi saya adalah momentum mengingat kembali ketika saya merayakan 17-an dengan tidak menari lagi saat kelas 1 SMA. Tapi sebagai ketua panitia 17-an yang mengadakan sepak bola antar RT di lapangan Sukowidi belakang rumah yang sekarang jadi maskot. Sepak bola yang kemudian ricuh dan tukaran antar pemain. Pak RT mengajak saya yang saat itu masih pakai baju putih abu abu pulang sekolah, untuk rapat mendamaikan dua kubu. Saya kemudian memutuskan jika lomba sepak bola antar RT di batalkan walaupun sempat di protes. Saya bilang, harus ada jaminan tidak ada lagi pertengkaran. Sepak bola terus berjalan, dan saya selalu nonton dipinggir lapangan buat jaga jaga.

Saat pulang dari rapat sampai tengah malam, ibu membuka pintu sambil ngakak melihat penampilan saya yang berantakan dan bau rokok. “Dek. Seharusnya kamu jadi camat”
“Ndak mau. Adek jadi bupati sekalian”

22 tahun kemudian cita cita saya ternyata berubah jadi wakil bupati. Halah.

Mau jadi penari ataupun pemain bola. Mau jadi bupati ataupun ketua karangtaruna. Rayakan Agustus dengan gembira.

Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *