Uncategorized

SAYA, PEREMPUAN, BAHAGIA DAN KEREN

“Aku
melihat banyak wanita di sini, mereka terlihat sophisticated, chic,
powerful dan sangat stylish. Kalian terlihat tahu benar cara berpakaian,
cara mengenakan aksesori dan itu memudahkan pekerjaannku sebagai
desainer”

Kalimat itu dilontarkan Victoria Beckham saat datang
ke Indonesia mengunjungi toko On Pedder dalam rangka mempromosikan
koleksi lini aksesori terbaru Spring / Summer 2014 di Jakarta.

Saya membacanya di sebuah media online sore ini selepas bersih-bersih rumah.

Lalu jika Vic masuk ke kampung-kampung, sawah, atau ke pesisir pantai
masihkah dia akan bilang jika perempuan Indonesia sophisticated, chic,
powerful dan sangat stylish?

Entahlah saya tidak pernah atau
apakah ada SOP untuk perempuan yang dikatakan stylish? Yang pasti
perempuan kampung yang tinggal di pedesaan ataupun di wilayah pesisir
tidak akan pernah berpikir untuk membeli koleksi Vic dengan harga
paling murah 24 juta. Atau jangan-jangan mereka bahkan tidak tahu
bagaimana bentuk uang sebanyak itu?

Ketika dalam media online
tersebut hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk menemui Vic.
Istilahnya sosialita. Herannya ada juga yang membelinya dan konon ada
yang membeli sampai 5 koleksi sekaligus. Katakan jika harganya 24 juta
maka ia harus mengeluarkan 100 juta lebih? wow…… itu jika beli yang
paling murah. Lalu bagaimaan jika harganya 50 juta? tinggal kalikan
saja. Ketika saya saja masih ‘megap-megap’ buat bayar kredit sepeda
motor yang harganya lebih murah dari satu tas koleksi Vic.


Saya lalu berpikir apakah Vic menyimpulkan perempuan-perempuan Indonesia semuanya adalah sosialita? orang-orang kaya? entahlah.

Ketika perempuan tetap saja di jadikan komoditas utama untuk penjualan
produk. Mereka bekerja apa ya? suaminya juga. Tiba-tiba saya
menyimpulkan secara konyol bahwa tuntutan perempuan kepada laki-laki
juga berperan dengan munculnya korupsi.

Iraaaaaaaaaaa…… terlalu jauh kamu berpikir seperti itu.

Jadi gini. Bisa bayangkan jika para perempuan selalu minta ini minta
itu kepada suaminya agar sama dengan teman sosialitanya. Mobil,
baju-baju mahal, kalung, berlian dan lain. Saya bisa bayangkan bagaimana
bingungnya sang suami.

Bukan permintaan standart tuntutan istri kepada suami.

Ah entahlah. Bukankan setiap orang mempunya pilihan hidup yang berbeda-beda.

Perempuan cantik? saya selalu garuk-garuk jika di suruh mendefinisikannya.

Saya cantik dengan cara saya sendiri. Tidak harus menjadi sosialita dengan membeli tas mahalnya Vic.

——————

“Raa…. belum mandi ya. Hahahaha….. berantakan banget”

Saya meringis saja pagi tadi saat saya liputan kapal yang keluar asap.
Tanpa mandi. Tanpa bedak. Dengan celana kain kembang-kembang yang biasa
saya pakai tidur dengan jaket. Duduk bersila dan menikmati sebungkus
nasi.

Lalu langsung ke sekolah untuk membantu seorang kawan mengenalkan cinta lingkungan.

“Meg… aku langsung ke sekolahanmu. Tapi aku nggak pake sepatu”
“Sudah hapal. Langsung masuk ke kelasku”

Maka sangat menyenangkan melihat anak-anak kelas 5 duduk manis melihat
film tentang penyu yang bertelur di Sukamade bersama Aris Restu dan Mega

“Mulai sekarang kurangi penggunaan plastik, buang sampah di tempatnya dan menanam pohon”

“Iyaa kak Iraaa”

Saat pamitan seorang anak laki-laki berkata, “Kak Iraa kereeeennn……. “
“Lo kenapa?”
“Bisa kemana-mana. Sama itu kak boleh pake tatoo di tangannya”

Saya tertawa. “Ini bukan tatoo ini henna. Seminggu sudah hilang”

Maka akhirnya keren itu bukan menjadi sosialita dengan tas seharga 24
juta. Keren itu sederhana. Seperti saya menggunakan tatoo matahari di
tangan sebelah kiri saya. Menggunakan celana kain kembang-kembang masuk
ke kantor.

Keren itu adalah sebuah kebebasan. Keren itu adalah bermanfaat bagi orang lain.

Bahagia yang sederhana

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *