Uncategorized

SAYA (mau) PULANG

  
Saya berdiri di atas bukit itu. Singapore tampak selemparan batu. Selat philips tiba-tiba terlihat sangat tenang.

“Hei Raa……”

Saya terkejut dan melihat ke arah belakang. Perempuan berbaju putih itu tersenyum.

Saya terbeliak kaget. Dia berdiri di samping.

“Lama kamu nggk main kesini. Aku kangen cerita-cerita kamu pada aku
disini. Tentang ilalang. Tentang senja. Tentang hujan. Tentang kampung tua. Kamu menghilang cukup lama”

Kami duduk berdua di atas bukit.

“Bukit ini kotor yang sekarang”

“Betul Raa. Sssttt …. Banyak yang minum-minuman keras disini. Liat disana?”

Dia menunjuk botol-botol pecah yang berada di bawah kami yang tersembunyi rimbunan semak.

“Banyak yang berubah dari bukit ini”

Perempuan itu seakan tidak peduli dengan peenyataanku.

“Kamu mau ke balik bukit itu?”

Dia berdiri dan menarik tangan ku. Kami berjalan melewati gang yang hampir tertutup rumput.

“Kamu capek Raa”

“Nggak .. Aku ingin berhenti dulu di sini. Hei … Batu ini masih sama”

Saya mengamati batu padas yang berada di lereng bukit ini.

“Sudahlah … Kita segera ke balik punggung bukit ini”

Saya diam saja dan sekali lompat. Hap ….!!

“Saya tau Raa… Kamu merindukan tempat ini. Tempat rahasia kamu. Ilalang kamu masih tumbuh subur disini. Lihatlah….”

Perempuan berbaju putih itu diam dan membiarkan saya melangkah perlahan
di tengah padang ilalang. Serbuk-serbuk putihnya melekat di celana
merah ku. Matahari cerah luar biasa.

“Raa… Kamu baik-baik saja kan?”

Aku mengangguk perlahan dan membiarkan air mata ku menetes satu dua butir.

“Aku selalu berharap kamu kembali ke sini. Menulis berjam-jam. Dan kamu
mendongengkan tentang pangeran ilalang mu. Kau ingat … Saat mata mu
sembab ke sini dan bercerita tentang ilalang kecil mu?”

“Aulia ….”

“Iyaa… Aulia. Bagaimana kabarnya”

“Dia di surga”


“Aku tau Raa … Aku tau sebelum kamu bercerita. Seharusnya kamu
menuntunnya sekarang di sini sambil berdongeng seperti kamu berdongeng
kepadaku”

Saya menundukkan kepala dalam-dalam. Dan perempuan berjubah putih itu menuntunku di pinggir padang ilalang.

“Tempat ini kurang lengkap tanpa kamu Raa. Setiap sore aku selalu
berharap kamu merayap dan melompat serta berlari-lari menuju ke tengah
padang ilalang ini. Tidak ada yang pernah menginjak tempat ini. Aku
membuat sekat dengan dunia luar sana dan hanya kamu yang tahu pintu
masuknya”

Saya semakin mengisak.

“Raa …. Aku tahu kamu sangat mencintai lelaki ilalang mu”

“Bisa kita membahas yang lain?”

“Oke …. Aku tidak akan membahasnya. Lalu akan kemana kamu setelah ini?”

“Aku mau pulang … Menyelesaikan semua perjalanan ku. Menggantung
ransel ku. Aku lelah…. Aku mau mengabdi pada Tuhan. Aku terlalu lama
melupakan Dia dan asyik dengan dunia ku sendiri”

“Serius ? … Kamu tidak sedang menghukum diri mu sendiri dengan kembali ke Jawa?”

“Entah lah … Apa itu namanya. Di sini aku mencintai lelaki ku,
mencintai sahabat-sahabat ku. Mencintai Batam. Tapi aku tidak mau
memaksa mereka untuk terus mengerti keegoisanku. Aku tidak mau mereka
kasihan dan memilih menemani aku dari pada adiknya”

“Kamu berbicara ttg Melur?”

“Jangan sok tahu …. Lalu aku juga tidak bisa berdiam diri selama ini
dengan Bang Bur. Dia aku anggap sebagai abang sendiri. Tapi tidak tau
apa yang membuat kita tidak saling berbicara. Aku takut .. Aku takut dia
menceramahi aku dan menyalahkan dengan keputusan-keputusan konyol yang
selama ini aku buat”

“Ahhhh… Kalian berdua sama-sama bugis yang keras kepala”

“Kalau seandainya mereka kesini katakan bahwa aku mencintai mereka”

“Jika kamu pergi maka aku juga akan pergi Raa. Aku akan menutup jalan
menuju tempat ini. Biar tempat ini hanya ada dalam pikiran kamu”

“Jangan …”

“Kamu tidak bisa memaksaku Raa. Kamu itu aku”

Kami berdua diam cukup lama. Kenang saya berlompat-lompat saat pertama kali menemukan tempat ini. Ilalang …. Weeds ……

“Hei Raa…. Lihat. Matahari sempurna. Dia tenggelam di Tanjung Uma”

Saya menggeleng, “Matahari hanya berotasi. Besok dia akan terbit lagi”

Kami kembali diam dan akhirnya senja jatuh. Bulan mengambang di Selata Philips persis di atas Singapura.

“Aku harus pulang ….”

“Dan aku akan tetap disini”

“Aku belum tau kapan ke sini lagi. Atau bahkan tidak pernah kembali”

“Itu hak kamu…. Raa”

“Jika laki laki ku ke sini. Katakan aku mencintainya”. Suara saya nyaris tak terdengar.

“Aku tidak akan ijinkan dia menginjak tempat ini”

“Aku pulang …..”

“Hati-hati …. Aku menunggu kamu”

Perempuan berjubah putih itu menggandeng tangan saya.

“Itu jalan mu pulang Raa. Aku akan tetap di sini menjaga kenang mu. Karena kamu adalah aku. Dan aku adalah kamu”

Perempuan itu turun ke lembah dan saya melangkah menatap ke depan.

Ada ratusan kunang-kunang di atas Kota Batam.

Saya menghela nafas berat dan membetulkan jaket hitam menutup kepalaku.

Saya mau pulang …..

(Batam 29 Januari 2013)
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *