Uncategorized

SAYA, KAK MONA, KAK ICHA & WENNY

“Iraaaaaaaaaaaa”

“Kak Monaaaaaaaaaa…….. Kak Icha ……..”

Saya berteriak lebih kencang dan lupa jika saya ada di Kedai Makan Lembaga Adat Melayu.

Rasanya saya seperti anak kecil yang lama tak bertemu kakak perempuannya.

Mau saya adalah lesak dalam pelukan mereka berdua.

Seperti Teletabies kita bertiga berpelukan. Hei …. Kita bertiga ternyata masih memiliki satu dua titik air mata.

Hhmm …. Ternyata rindu itu luar biasa.

“Nih anak hilang dah balik kampung. Udah kakak pesankan ikan belanak dan ikan lebam dan siput isap”

Saya melirik Weny dan berkata, “makan lagi? Hajar ya wen?”

Saya lebih memilih siput isap.

“Kakak… Saye tak tau mulai bercerita dari mane”

“Tak perlu la kau cerite … Tak penting itu. Lebih penting adek kakak yang paling dekil kembali. Pulang”

Dalam hati saya berkata? Pulang? Kemana saja saya singgah mereka selalu mengatakan ‘pulang’. Rumah .. Rumah … Di mana?

Dan semuanya mengalir seperti air.

Bang Jebat yang datang membuat saya kembali berteriak kesenangan.

“Bang .. Rambut abang sudah mulai banyak putihnya”

“Sudah tue lah Raa. Gimana kabar kamu Raa di jawe”

“Baiklah Bang …. Iraa tak tau mau cerite dari mana?”

“Tak usah cerite. Yang penting semua sehat. Pipi kamu sama gusi nya tak ada yang berubah ye?. Sama”

“Biarin ….”. Siput isap sudah hampir abis. Dan Bang Jebat memberikan semangkuk lagi di hadapan saya

“Malam nih kite makan lagi ye? Terserah iraa lah mau makan dimana”

Akhirnya jam 8 malam kita terdampar (lagi) di angkringan teh poci.
Petata petitih melayu mengalir kembali. Bercerita ttg bagaimana rasanya
kehilangan, menemukan, meninggalkan, di tinggalkan, memilih, di pilih,
antara adek, sahabat, dan lain-lain.

Entahlah … Saya merasa
tidak menginjak bumi dan merasa nyaman di antara mereka. Kenyamanan yang
berbeda saat saya mengurung diri dalam ruang kerja.

Iya ..
Mereka adalah charger bagi saya agar bisa berjalan kembali. Mereka
adalah energi positif yang harus saya serap ketika relung saya kosong.
Yaa…. Walaupun saya harus melakukan perjalanan beribu-ribu kilometer
seorang diri.

” ……. Terkadang kita harus melupakan cinta hanya untuk sebuah harga diri”

“Sepakaaaaaaat”. Saya berteriak paling keras sambil tertawa.

“Raa…. Jangan aduk teh poci mu”

“Iya .. Iya …. “, saya meletakkan sendok kecil, “Kakak … Teh Poci
ini banyak falsafah. Aturan nya memang meletakkan gula jawa di dasar
cangkir baru menuangkan tehnya. Menutup cangkir untuk beberapa menit
lalu menyesapnya. Memang awalnya hambar tapi pada akhirnya kita akan
menyesap rasa manis gula batu yang ada di dasar cangkir. Manis pada
akhirnya ……”

Saya menyesapnya, “Tapi pertanyaannya adalah Iraa ini orang mana? Melayu, Jawa Mataraman, Using Banyuwangian?”

Saya tidak peduli. Saya Indonesia.

Malam berakhir. Mereka memeluk saya.

“Ini bukan pelukan terakhir Raa…. Batam juga rumah mu. Tempat kamu
Pulang dan merasakan nyaman. Jangan pernah menghilang lagi”

Mungkin hanya Wenny yang bertanya-tanya ttg apa yang terjadi pada 3 perempuan dewasa di hadapannya.

Saya duduk menghempaskan diri di jok mobil

“Gimana … Seneng ketemu mereka”

“Iyalah …..”

“Ya sudah … Stay di Batam ajah”

“Banyuwangi titik. Tidak ada daya tawar”

“Jakarta?”

“Apalagi jakarta… Nggak masuk dalam pilihan”

“Tangerang? Bintaro?”

“Nggak … Titik. Banyuwangi”

Saya melihat ke atas. Lewat jendela yang tertutup.

“Boleh matikan Ac?”

Kamu mengangguk. Dan saya mengeluarkan kepala mendongak ke atas.

“Bulannya sempurna”

Saya menikmatinya.

Hidup seperti rotasi bulan. Terkadang sempurna tapi terkadang pula hitam pekat.

Bulan sempurna. Tapi warnanya pucat pasi.

Batam … Saya mencintai kamu seperti saya mencintai Banyuwangi.

Kak Mona, saya, Wenny dan Kak Icha
Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *