Uncategorized

SAYA DI KOTA TUA

Music reggae live tepat di pintu masuk Museum Kota Tua. Persis di bawah bendera merah putih yang kusam terpasang di lantai tiga.

Menjelang tengah malam saya memilih duduk manis disini. Membayangkan
sebagai nona nona Belanda atau bahkan Nyai simpanan Belanda yang
mencintai seorang pribumi dan mati karena dianggap berkhianat? Anaknya
di bawa ke Belanda.

Jakarta Kota Tua malam hari atau tepatnya lewat jelang dini hari. Saya menghela nafas berat. Indonesia negara yang saya cintai mempunyai pekerjaan rumah yang banyak,

Ada belasan anak yang benar anak-anak masih bermain lompat tali tengah malam. Sebagia mereka berjoged ikuti irama reggae.


“Nggak sekolah dek”
“Nggak kak. Ngamen aja buat cari uang”

Dada saya sesak. Di sebelah saya pasangan lesbian yang saling berpagut.
Tangannya saling meraba. Pakaian mereka kumal. Kepala saya berat
seketika. Ibu ibu menggendong anak balitanya tertidur di tanah dengan
jualan di depannya.

Saya lupa apakah saya orang Indonesia?
Ketika saya tidak bisa melakukan apa-apa selain memungut botol kaca yang
pecah untuk di buang ke tempat sampah. Saya takut pecahannya kena kaki
orang atau anak-anak yang bemain tali bertelanjang kaki.

“Indonesia tanah air beta. Pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala selalu di puja puja bangsa…”

Sekumpulan pemain music reggae mengajak semuanya bernyanyi bersama. “Tanah Air Beta”.

Saya sangat mencintai Indonesia. Entah dimanapun saya berdiri. Bahkan
ketika saya harus menghela nafas melihata kenyataan Waria di depan
parkiran menghitung recehan dengan temannya. ” Say!besok kita masih bisa
makan neh”.

Saya yakin. Mereka juga mencintai Indonesia seperti saya tentu dengan cara yang berbeda.

Jakarta, 17 April 2014

* Anggap saja anda membaca ceracauan dari #dunia_iraa

Cinta. Purnama telah lewat malam ini atas Kota Tua.

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *