Uncategorized

SAYA DAN TANJUNG UMA

(catatan akhir di Gelar Budaya Melayu Anak Negeri KampungTua Tanjung Uma)
Kembali saya ke Tanjung Uma
Sekarang bukan lagi sebagai seorang perempuan yang sembunyi-sembunyi
melihat kesenian Melayu dari jauh. Tapi menjadi undangan, walaupun tidak secara
pribadi tapi lewat radio tempat saya bekerja.  Tapi buat saya ini adalah kesempatan emas
untuk saya. Walaupun saya lebih memilih ribet dengan kamera dan baju melayu
saya. ( ah…sayang…kamu tau betapa ribetnya saya mengambil photo dengan
mengenakan baju kurung panjang dan sandal berhak tinggi)
Saya mengikuti sejak awal persiapan Gelar budaya Melayu Anak
Negri. Mulai mereka latihan. Gladi bersih. Hingga pada saat pementasan. Hei….saya
mengucapkan terimakasih pada sahabat saya Junaidi! Tanpa dia saya tidak akan
bisa masuk ke Tanjung Uma dengan mudah.
Melihat kerja keras “budak melayu tanjung uma” – saya memilih
menggunakan istilah itu dari pada istilah panitia yang terkesan formal -, saya
serasa kembali ke Banyuwangi. Saat saya masih aktif menjadi Ketua Karang Taruna
di Sukowidi. Saya sendiri masih berbaju putih abu-abu, sedangkan anggota saya
malah ada yang bapak-bapak beranak satu. 
Hhhmm……saya baru menyadari saya sudah aktif di organisasi kepemudaan
saat saya masih SD. Terlalu dini! Ah yang terpenting bukan pernikahan dini kan?
 Tari Persembahan…….
(saya berpikir apa bedanya antara Riau Daratan dan Riau Kepulauan)

Kompang “konvensional”, Tari Kompang Kreasi dan Tari pergaulan Melayu
Saya ingat saat itu saya menggelar acara 17 an, dan ngotot
untuk mementaskankan Pacul Gowang dengan lakon “Sri Tanjung Sidopekso”. 
Ibu
saya mengingatkan,”Raa…..lakon itu tidak boleh di lakonkan antara Kali Sukowidi
dan Kali Lo. Pasti ada saja halangannya. Ingat ….kamu juga masih keturunan dari
Temenggungan. Dari sana lakon Sri Tanjung 
Sidoekso berasal”
Saya membantahnya dan mengatakan bahwa Sukowidi tidak
berada di antara dua sungai yang sebutkan ibu saya. “Hanya bersisihan Bu”,
pungkas saya. “Terserah….ibu sudah mengingatkan. Tapi santai aja Raa, ibu pasti
datang. Paling nggak ada yang menenangkan kamu saat ada apa-apa dalam
pementasan kamu
”.  
Saya ingat saya
memonyongkan mulut saya sambil berlalu.  
Dan saya hanya bisa memeluk ibu saya saat di akhir pementasan
saat lakon Sri Tanjung Sidopekso di mainkan bebarengan dengan hujan dan badai
yang tiba-tiba saja datang. Lakon itu pun hanya berjalan kurang dari 30 menit. 
Sebelum ibu saya berkomentar saya langsung bilang, “cuaca tidak bisa ditebak
Bu. Paling tidak adik sudah memberikan kesempatan pada seniman lokal Pacul
Gowang untuk tampil, dari pada liat band-band dengan musik yang nggak jelas.
Paling nggak generasi kayak adik tau kalo ada kesenian Pacul Gowang
”. Pembelaan
yang membuat ibu saya tertawa terpingkal-pinggkal. 
Kembali ke Tanjung Uma. 
Melihat mereka bekerja. Menyusun panggung. Menata acara. Sibuk membuat
undangan. Latihan. Membuat saya kembali ke masa lalu. 15 tahun yang lalu……saat
saya belajar mulai dari tinggat RT, kelurahan, kecamatan sampai kabupaten. 
Ternyata begitu banyak catatan yang telah
saya buat. Dan berdiri di lapangan bola Tanjung Uma  saya seperti berkaca pada perjalanan hidup
saya. Dimana saya dan teman-teman saya di Banyuwangi, mempertahankan agar seni ,
budaya dan sejarah tetap bertahan. Tanjung Uma dengan “budak-budak melayu”-nya
sedang menata diri ntuk mempertahankan adat dan tradisi mereka sendiri. Adat,
Seni, tradisi dan sejarahnya sendiri. Di Tanjung Uma saya berusaha mengumpulkan
puzzle-puzzle tentang masa lalu yang tidak lengkap. Buat saya Tanjung Uma
adalah sebuah rahasia besar yang masih belum terungkap. Saya hanya membayangkan
kalau seandainya ada salah satu “budak melayu” Tanjung Uma yang menuliskan
sejarah kampungnya. Maka saya akan berbesar hati untuk membantunya.  Maksudnya membantu untuk membacanya dan
mereview dalam catatan saya. 
Gelar Budaya Melayu Anak Negri  Kampung Tua Tanjun Uma. Di sana yang bertemu
dengan orang-orang yang luar biasa. Seniman dan budayawan yang merupakan asset luar
biasa bagi Kota Batam. Di acara itu saya juga menemukan “budak-budak melayu” dengan
tarian-tarian melayu yang bisa saya simpulkan hampir sebagian besar adalah
tarian pergaulan. Yang menceritaan kehidupan sehari-hari masyarakat melayu dan
juga masyarakat pesisir.
Termasuk juga beberapa makanan khas melayu. (sayangnya
saya tidak bisa menikmatinya karena saya lebih suka berdiri untuk motret dari
pada duduk di kursi undangan. Dan saat saya kembali ke kursi, ternyata sudah
ditempat oleh ibu-ibu bersanggul tinggi yang berkata ketus bahwa kursi itu adalah
miliknya. Saya hanya garuk-garuk sambil tersenyum kecil. Sudah lah Ra…..salahmu
sendiri kan).
Makanan Khas Melayu dan “Budak-Budak Melayu”
 Tapi ada satu penampilan yang membuat saya sangat tertarik.
Tarian Kreasi Kompang dari Sanggar Pangsenebu. Selama ini saya hanya melihat
penampilan Kompang konvensional. Hanya di pukul dengan gerakan-gerakan
sederhana “berpindah tempat”, karena dimainkan oleh mayoritas ibu-ibu. Tapi
Sanggar Senin Pangsenebu membawakannya lebih atraktif dan di mainkan oleh
pemuda. (saya tahu kalau mereka mayoritas masih usia SMA setelah mereka add FB
saya dan mereka masih bergaya “unyu-unyu”.) 
Pokoknya banyak jempol dech………
Sanggar Pangsenebu……….
 Saya berpikir bahwa keseluruhan gelar budaya itu luar biasa.
Hei….tapi jangan di bandingkan dengan tingkat Kota atau pun Nasional. Jika ada
yang mengatakan lampu sorot yang mati adalah masalah, tapi bagi saya sebagai
penikmat bukan sebuah hal yang signifikan. Saya malah menemukan “feel” yang
benar-benar nyata.  Tanpa lampu sorot saya
benar-benar merasakan melihat anak-anak kampung nelayan yang sedang “berpentas”
di tanah pesisir. Tanahnya sendiri………(walau pun saya merasa kesulitan untuk
ambil gambar)
 Saya menemukan photo yang lucu…..walaupun masih balita tetap bajunya baju kurung melayu
 Pak Ucu………dia selalu berpantun jika bertemu saya ckckckckckckckckkc

Saya mengakhiri catatan saya ini dengan kebanggan saya
kepada Kampung Tua Tanjung Uma. Sebagai “induk” Kota Batam. Bagi saya tidak
penting acara itu di hadiri pejabat atau tidak – tapi penting saat Ketua
Lembaga Adat Melayu Kota Batam datang -.  Apakah acara tersebut di ekspose oleh media
nasional atau tidak. Mau masuk headline atau tidak. Karena yang terpenting
adalah bagaimana Tanjung Uma bertahan dengan budaya melayu – nya. Bagaimana
mereka tetap memberikan tempat kepada 
keturunan mereka untuk bangga dan meneruskan adat istiadat mereka. 
Seperti kata Hang Tuah. “Takkan Melayu Hilang di Bumi”.
Saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Panitia Gelar
Budaya Melayu Anak Negri Kampung Tua
Tanjun Uma yang memberikan kesempatan pada saya buat “ganggu” acara mereka
mereka mulai dari persiapan sampai pementasan. Kepada Lembaga Adat Melayu.
Kepada Bang Alin, Bang Sastra dan Bang Sayuti yang siap menjawab semua
pertanyaan tidak penting dari saya. Pak Ucu yang banyak menjelaskan kepada saya
tentang hubungan melayu dan bugis. 
 Saya (perempuan), Ramzey (berbaju pink, atau ungu?), Junaidi (baju coklat), Mas bayu dan Mas rudi – Nasyid S2K ? atau backapeker? 
(berbaju kuning)
 
My Criminal Partner, Saya, Junaidi dan Ramzey (minus ella dan firman)
Bang Misro dan Sahabat-sahabat di Sanggar
Pangsenebu (saya selalu susah mengejanya) dengan Kompang yang luar biasa. Saya
tidak bisa membayangkan bagaimana kalau tangan-tangan kalian menempeleng pipi
saya. Pasti luar biasa haahahahahah……. 
Dan terakhir sekali saya ucapkan
terimakasih sekali kepada sahabat saya Junaidi yang memberikan kesempatan luar
biasa kepada saya untuk mengenal Tanjung Uma lebih dekat . Atas diskusi-diskusi yang tidak pernah di
selesaikan. (On air off air tidak ada perbedaannya.) Yang banyak memberikan PR
kepada saya tentang istilah-istila dan bahasa melayu. Jangan pernah bosan ya
Jun Batam Juge, dan juga Ramzey yang sudah cuti untuk mendampingi dan memaksa saya tetap
menggunakan baju melayu walaupun niatnya untuk motret. (sayang ella dan firman
nggak iku). 
Saya selalu merasa cantik dengan baju kurung Melayu
 
(kapan-kapan nda belikan kain melayu lagi ya Yah?

Terimakasih Tuhan atas persinggahan yang luar biasa ini di Kampung Tua Tanjung Uma

Tagged

1 thought on “SAYA DAN TANJUNG UMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *