Uncategorized

SAKIT

Sakit? Iya saya sedang sakit. Dan ini benar-benar sakit.
Tidak tau apa penyebabnya.  3 hari suhu
badan saya naik turun luar biasa. Kepala juga sangat pusing, belum lagi
tenggorokan yang tidak bersahabat dengan makanan. Leher dan kepala seakan
menegang. 
Sakit di rumah sendirian itu memang tidak asyik. 3 hari saya
memaksakan diri untuk tidak mengatakan bahwa saya sedang sakit. Saya tetap ikut
Ika motretke kelenteng Hong Too Bio. Saya tetap menggiring Mayor dan Elang ke
Taman Sri Tanjung . Menemui Hamsin untuk berdiskusi tentang kemajuan radio. Tiap
malam saya juga menghabiskan banyak jam di café perempatan jalan.  Saya pikir saya tidak akan memanjakan tubuh
saya. Hingga akhirnya saya benar-benar  tidak bisa bangun. Ah… sedangkan sebotol air
putih saja tidak ada di rumah ini. Nelangsa? Iya sangat nelangsa. Tidak ada
satu orang pun di rumah ini. Terpikir untuk sms Deni untuk membawakan makanan
atau minuman. Atau sms mbak yuni untuk di jemput dan di rawat di rumahnya. Atau
sms Ika untuk membelikan obat penurun panas. 
Tapi keegoisan saya masih bicara bahwa saya bisa melawannya sendirian. 

Alhasil…… jam 5 shubuh saya menghubungi Mbak Reni dan
mengatakan saya sakit.  Ditertawakan itu
sudah pasti. Saya pasrah saja saat saya di bawa ke puskesmas dan menunggu
dokter dengan meletakkan kepala di atas sandaran kursi. Ahhh……. Kenapa saya
luar biasa manja di kampng halaman sendiri.
“Radang tenggorokan. Sudah parah. Jangan banyak bicara.
Jangan minum dingin. Kopi. Gorengan. 
Banyak istirahat. Kurangi bergadang dan bla…bla…bla….”
Saya sudah tidak lagi mendengarkan dokter. Saya hanya ingin
memejamkan mata dan tidur.
“Tidak perlu di infuse Mbak… hanya istirahat”
Terserahlah… saya hanya butuh tempat tidur.
“Makan Raa….” 
“Nggak mbak…. Tenggorokanku sakit. Pait”
“Loro tenan berarti… yo ngono.. nggak usah balik mesisan.
Nglayap terus ae”
Saya memejamkan mata setelah memaksa makan sesuap nasi dan
obat.
Sakit…. Iya sakit. Saya ternyata bukan dewa. Ternyata saya
hanya manusia biasa yang selama ini terlalu egois. Saya masih bisa tertawa dan
melangkah sendiri saat masuk ke ruang operasi. Dan ternyata saya benar-benar
seperti  ilalang di musim kemarau hanya
karena radang tenggorokan. 
Dan saya mengucapkan banyak terimakasih pada Tuhan. Saat
saya seperti ini, masih ada yang mau menampung saya hingga saya dipastikan
sudah sehat dan sembuh. 
“Mbak Ren… .. antar Iraa pulang.
“ La.. arep balik nangendi? Wes sehat beneran ta?”
“Balik nang omah sukowidi. Aku udah sehat kok. Serius…… Udah
nggak panas”
“La kalo panas lagi gimana. La nang kono kan nggak ada orang”
“Tinggal sms lagi suruh jemput?”, saya mejawab sambil nyengir.
Dan akhirnya saya kembali lagi di rumah kosong ini. Saya
menikmatinya. Walaupun banyak orang yang melihat kasihan kepada saya. Seorang
perempuan galau yang menempati sebuah rumah yang bertahun-tahun kosong
sendirian. Ah.. terserah… saya tidak peduli. Toh ini rumah juga rumah saya
sendiri. Saya besar di rumah ini.
Masuk kedalam rumah. Lantainya sudah berdebu. Cucian baju
saya belum tersetrika. Beberapa bekas botol air meineral dan gelas kosong bekas
kopi masih berserak. Saya tersenyum sendiri. Saya selalu menikmati saat saya
membersihkan setiap sudut rumah ini. Menyelesaikannya dengan menyiram halaman
belakang dan samping seperti saat ibu saya masih ada. 
Saya bergerak sangat perlahan…..…. Ketika saya masih harus
bersahabat dengan kondisi tubuh saya sendiri. 
Saya harus jaga kesehatan saya. Ketika agenda beberapa minggu ke depan
menumpuk dan harus saya lalui satu persatu. Tuhan akan selalu memberikan yang
terbaik untuk saya.
Tagged

6 thoughts on “SAKIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *