Uncategorized

SAAT MASYARAKAT MENG-“HUKUM” HUKUM

Gambar diambil dari sini

Beberapa hari yang lalu,
Rabu, 29 Februari saya sempat terkaget-kaget saat membaca sebuah berita
dari media online terkait pembacokan kepada Jaksa Sistoyo yang sedang
di wawancarai beberapa wartawan selepas menjalani sidang di PN Tipikor
Bandung. Jaksa Sistoyo diduga menerima uang suap sebanyak 100 juta
rupiah, dari Edward, terdakwa kasus pemalsuan surat terkait pembangunan
Pasar Festival di Cisarua, Bogor.

Sekelas Jaksa di bacok
di pengadilan? Kenapa bukan di sawah, di kebun atau di pinggir jalan, Kenapa kok di pengadilan yang notabene adalah “rumah” mereka. Sebuah berita yang buat saya bisa masuk dalam kategori
berita unik dan menarik. Sang pembacok, Dedy Sugarda beralasan jika ia
membacok “Sang Jaksa”, karena sudah sangat kesal dengan menjamurnya
kasus korupsi yang benar-benar membuat masyarakat sangat resah. Saya
sempat membaca, Dedy Sugarda adalah seorang pengagguran yang akif di LSM
(Saya bingung sendiri dengan kalimat penggangguran yang aktif di LSM. Apa artinya ya? Apakah sama dengan aktivis jalanan?).

Beda
lagi dengan kejadian di sumenep beberap minggu yang lalu tepatnya
Selasa, 7 Februari 2012. Moh Amin, asal warga Pulau Kangean Madura
melepas puluhan ular berbisa  di Kantor Pengadilan Negeri Sumenep. Demo
tersebut merupakan bentuk protes karena ia merasa di lecehkan, karena
kasus gugatan sengketa tanah di pulau Kangean, di tolak pengadilan
negeri Sumenep dengan tanpa alasan yang masuk akal, karena merasa
dilecehkan. Dengan modal uang Rp 1.600.000, Mas Amin membeli 3 karung
ular kobra beraneka ragam bentuk, panjang, dan warna.

Dari salah satu artikel yang saya baca Kasus hukum yang dihadapi M. Amin adalah persoalan sengketa tanah
melawan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep. M. Amin mengklaim lahan
yang ditempati sebuah sekolah dasar negeri di Pulau Kangean, Sumenep,
adalah haknya sebagai anak ahli waris. M. Amin bersama sejumlah orang
warga masyarakat setempat yang juga bermasalah telah mencoba berbagai
upaya mediasi, tetapi tidak pernah ada titik temu. M. Amin kemudian
disarankan untuk menempuh jalur hukum. Sebagai anak ahli waris, M. Amin
merasa diperlakukan tidak adil dengan hasil putusan maupun dengan cara
majelis hukum memberikan putusan. Selain karena tidak dihadiri oleh
dirinya selalu penggugat maupun kuasa hukumnya, M. Amin merasa
dipermainkan dalam sidang putusan tersebut.

Saat saya
menulis catatan ini, tersenyum miris saat masyarakat sudah mulai
“pintar”, dan menggunakana cara irasional saat cara rasional sudah tidak
bisa menyelesaikan masalah mereka. Siapa orangnya tidak saki hati, jika
melihat kasus-kasus korupsi sudah berkembang seperti jamur di musim
hujan. Saat masyarakat di suguhi dagelan pesidangan yang membuat saya
ingin muntah. Saat proyek bernilai miliaran sedangkan disisi lain orang
miskin mati kelaparan. Saat presiden beli pesawat harga miliaran
sedangkan anak-anak berangkat sekolah harus bertaruh nyawa melewati
jembatan “kematian”.  Saat perempuan-perempuan harus melacur agar anak
mereka bisa makan, di sisi lain para sosialita menghabiskan jutaan
rupiah hanya untuk sebotok kecil minyak wangi. Saya muak. Benar-benar
muak. Sangat muak.

Saat saya muak mungkin saya akan
marah-marah lewat tulisan saya. Lalu bagaimana orang lain melampiaskan
kemarahan mereka ? apakah mereka akan menulis seperti saya? Apakah
mereka akan demo teriak-teriak di pinggir jalan? Apakah corat coret
tembok rumah?atau hanya diam sambil menggerutu di dalam hati?  Setiap
orang berbeda mengekspresikan kemarahannya. Termasuk juga yang di 
lakukan Dedy Sugarda dengan membacok “jaksa nakal”. Atau Mas Amien yang
melepas ular di pengadilan. Saya bisa memastikan mereka sudah jengah
saat nasib dan hukum tidak pernah berpihak baik kepada meraka. Saya
sangat bisa mengerti posisi mereka.

Apakah mereka pahlwan?
Bagi saya iya. Mereka adalah pahlawan. Pahlawan karena mereka
memperjuangkan hak mereka walaupun dengan cara yang melanggar hukum. 
Deddi Sugarda adalah seorang pahlawan karena ide dan keberaniannya yang
dilandaskan oleh rasa sakit hati atas nama rakyat terhadap koruptor dan
memberikan shock terapi kepada para pelaku korupsi. Dedi merupakan
seorang inspirator karena belum ada yang berani melakukan hal tersebut.
Tidak mustahil dia akan menginspirasi Deddi-Deddi yang lain karena
keberaniannya tersebut dan saya pikir yang dilakukannya patut diacungi
jempol. Tapi yang saya  dukung hanya ide dan niatnya saja tapi tidak
dengan cara yang melanggar hukum.

Saya yakin, koruptor-koruptor mulai ciut nyalinya. Yakin seyakin yakinnya.

Tiba-tiba
saya ingat saat saya melakukan penulisan tentang Santet Jaran Goyang.
Iseng saya menanyakan ke salah satu nara sumber saya, “Kenapa orang
melakukan Santet Kang?”.  “Sederhana Raa. Saat orang sudah tidak bisa
menyelesaikan secara rasional maka orang akan melakukan hal-hal yang
irasional”. Dan saya semakin memahami kalimat-kalimat itu.

Ya….saya
merasa sebuah era baru akan muncul. Era saat masyarakat tidak lagi
percaya hukum dan mulai meng”hukum” hukum dengan hukum mereka sendiri.

#tiba-tiba kepikiran untuk men-santet para koruptor# hahahahahahahahhahah

(saya
ingat photo ini diambil saat saya masih aktif menjadi jurnalis di
Banyuwangi. Seorang bapak tua yang antri untuk mendapatkan BLT. Beliau
harus jalan kaki dan ikut mengantri berjam-jam. Saat saya tanya untuk
apa uangnya, dia menjawab untuk menebus obat karena ia sedang sakit dan
sisanya akan dibelikan kaca mata bekas. 2 hari kemudian saya mendengar
kabar dia meninggal)

Tagged

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *